In Campus

Regret Always Comes Too Late

Lirik di bagian awal lagu Fix You dari Coldplay seketika terlintas setelah keluar dari ruang dosen Penasehat Akademik. When you try your best, but you don’t succeed.

How do you feel when you know that everything you do won’t change anything? Setelah rehat sejenak bersama Kugy ke Pulau Lae-lae kemarin, saya berpikir akan bisa dengan tenang menghadapi dunia verbatim dan seabrek perkara yang membuntuti setelahnya. Analisis data, konsultasi ke pembimbing, ujian hasil, hingga yudisium. But, it’s not really that easy. It won’t be.

“Belum terancam ya? Program di semester ini lagi saja,” ujar dosen Penasehat Akademik.

Sebelumnya, saya meminta pertimbangan tentang salah satu mata kuliah yang nilainya kurang menggembirakan. Sementara saya sudah melakukan penelitian dan sebenarnya tinggal perlu fokus untuk urusan skripsi saja.

Kendati batas masa studi memang masih belum terancam, tetap saja konsekuensi memprogramkan ulang mata kuliah membuat saya merasa terancam. I still can’t imagine how many days akan diliputi pertanyaan kapan wisuda dari ibu. Secara matematis, hitungannya akan berjalan satu semester, berarti enam bulan, berarti sekira 180 hari. Tapi waktu selalu berlaku relatif and it’s not gonna be meant by only those days. More than that, literally.

Lalu sekelebat penyesalan bermunculan setelahnya. Saya menyesal karena tidak melakukan banyak hal. Tidak bersungguh-sungguh mengikuti mata kuliah sejak awal. Tidak memprogramkan ulang di semester berikutnya, meskipun saya sedang menjalani KKN, ya kali bisa hoki dapat nilai lebih baik. Tidak ngotot mengikuti semester pendek meskipun hanya seorang diri mendaftar, atau setidaknya mengharap sekadar tugas pengganti 16 pertemuan. Setidaknya saya tidak perlu menjalani satu semester penuh ke depan ini lagi.

But, as always, regret comes too late, right? Saya merutuki diri sejak keluar dari ruangan dosen hingga perjalanan pulang ke redaksi. Tentang sesal, saya memang menyadarinya sebagai sebuah proses pembelajaran. Ada beberapa hal yang perlu disesali dalam hidup. Di kemudian hari, kita belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang lalu. Begitulah penyesalan hari ini berlalu dan akan terus membayangi besok dan seterusnya.

Seperti kemarin, saat rehat sejenak bersama Kugy di Pulau Lae-lae. Tentang rehat sejenak itu, malamnya saya memang berencana untuk pergi ke mana saja asal bisa bahagia. Kugy tiba-tiba mengirim pesan Line hingga bermuara pada agenda ke Lae-lae. It was only about 15 minutes from Kayu Bangkoa Dock, Makassar. Pulau Lae-lae bisa menjadi destinasi untuk lari sejenak dari keruwetan Makassar dan segala isinya. So, there we go.

A moment before Q & A Session (Foto: whd)

Sebelum matahari betul-betul tenggelam, kami menggelar sesi Q & A macam yang sering dilakukan vlogger Youtube. Caranya sederhana, masing-masing dari kami menulis dua pertanyaan untuk kemudian dijawab bersama-sama.

“Kalau dikasih kesempatan untuk memutar waktu, ingin kembali ke waktu kapan? Untuk memperbaiki kesalahankah? Untuk mengulang kenangan?” Saya bertanya.

Kugy tegas menjawab kalau ia tak akan menggunakan kesempatan itu sekali pun. Ia betul-betul paham bahwa yang pernah terjadi akan dibiarkan pernah berjalan begitu adanya. Hal itu cukup menjadi kenangan dan jadi pelajaran.

Sementara saya selalu ingin kembali ke Senin, 21 September 2015. Hari ketika nenek meregang nyawa dan saya tak berada di sisinya. Saya selalu ingin kembali ke hari itu dan menanggalkan serta meninggalkan semua perkara yang pernah membelit. Hanya ada saya dan nenek.

Sehari terakhir bersama Nenek, saya ingin menatap lama-lama, meminta maaf, memeluk, dan membacakan doa-doa. Hingga sekarang, hal yang paling saya sesali dalam hidup adalah tidak berada di sisi nenek saat waktu-waktu terakhirnya.

***

Eh, kembali juga ke Fix You dari Coldplay: When you love someone, but it goes to waste. Could it be worse?

Apa yang membuat saya tidak pernah menyesal adalah pertemuan dengan Imajiner. Saya tidak menyesal datang ke salah satu sisi kampus pada hari itu, tempat kami pertama bertemu. Saya tidak menyesal rutin bertemu dengannya sejak pertemuan perdana sebelumnya. Meskipun pada perjalanannya, hal-hal sulit semakin banyak ditemui, saya tidak menyesal. Meskipun saya mengetahui sejak awal, pada akhirnya, hal-hal sulit itu tak akan mudah pergi. Untuk hal ini, saya selalu ingat penggalan lirik Sudah dari Ferdinand. Tak satupun yang kusesali malahan semua warnai hidup.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Campus

Janji Tuhan Tak Pernah Ingkar

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sungguh, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” – QS. Alam Nasyrah

Saya bukan pembaca Alquran yang baik, bukan pula muslim yang selalu taat. Kalau bicara dosa, barangkali bisa diadu. Bicara pahala, ah saya malu. Tapi saya tidak sedang hendak membahas agama-agama. Pengetahuan saya masih cetek jauh, meskipun bapak lulusan Tarbiyah IAIN dan bertahun-tahun jadi guru agama. Parah juga nantinya kalau saya sampai bikin fatwa macam pakai pembalut bisa bikin sulit hamil, atau balasan buat orang beriman di surga nanti adalah bisa dengan sepuasnya bebas berpesta… ah, sudahlah.

So, verily, with every difficulty, there is relief. Verily, with every difficulty there is relief. Akhir-akhir ini ketika merasa begitu banyak hal sulit ditemui, pikiran terlalu terbebani, mantra itu selalu dirapal berulang kali. Seolah menemukan kekuatan supranatural di baliknya. Hingga tiba-tiba tersadar kalau Tuhan selalu menitipkan bantuan-Nya melalui tangan-tangan tak terduga. There’s always the light at the end of the tunnel, right?

Setelah kelar dengan urusan perizinan penelitian, which is agak ribet, saya makin merasa bersyukur dengan kerja sama semesta. Ada teman-teman yang senantiasa ada memberi penjelasan perihal yang harus dilakukan. Pegawai di kantor perizinan, balaikota, dan dinas juga sangat membantu untuk mempermulus. Barangkali juga perlu ditulis di “ucapan terima kasih” dalam skripsi nantinya, abang-abang Grab yang setia mengantar kemana-mana.

It was unlucky for you, not being further part of my research. (Foto: whd)

And the day has just begun. Setelah diberi lampu hijau, ibu guru Matematika menawarkan salah satu kelas untuk dijadikan kelas penelitian. Saya menuruti langkah kakinya menuju satu kelas di lantai dua gedung sekolah. Tak perlu waktu lama sejak ibu guru menjelaskan kedatangan saya hingga seluruh siswa di kelas rampung mengisi kuesioner penelitian. Tentu, tidak melupakan fakta bahwa siswa kelas IX masih banyak sulit diatur dalam kelas. Tapi pada akhirnya, selesai juga.

Sebuah kekecewaan muncul pada malam harinya. Saya memang sudah meniatkan untuk segera menganalisis sederhana hasil pengerjaan kuesioner. Yang saya temukan adalah hasil kuesioner tak sesuai harapan. Dari tiga kelompok yang seharusnya ada dari subjek penelitian, seluruh siswa di kelas itu berada di kelompok yang sama.

Tak ingin terlalu lama berdiam dengan hasil nihil, keesokan paginya saya mengirim pesan singkat ke ibu guru untuk memberi izin membagikan kuesioner di kelas lain. “Ada kls lain, jam 10.25-12.25,” dibalas dengan responsif. Hal seperti kemarin terulang kembali, berharap hasilnya tak ikut terulang. Namun yang terjadi kemudian ternyata tak berbeda dari sebelumnya. Dengan alasan serupa, siswa di kelas lain yang ditawarkan kembali tidak sesuai untuk dijadikan subjek penelitian.

Mengatasi kejengahan akibat penelitian yang masih belum berjalan lancar, saya menemui dua teman sarjana di sebuah kedai kopi langganan. Kami sepakat tak memesan kopi di kedai itu. Saya dan seorang teman yang sering meledek kalau kami akan wisuda bersamaan—dia sedang menyusun proposal tesis sekarang—memesan teh hijau. Satunya, memesan thai tea. Berkumpul dengan teman yang sudah sarjana sebenarnya punya sisi positif. Ada sebuah perasaan yang bawaannya juga memotivasi untuk segera sarjana. Kalau sekadar diejek teman karena belum sarjana, malah bikin saya lebih malas untuk memikirkan ejekan itu. Saya hanya akan membalas dengan seringai memangnya-kenapa-kalau-saya-belum-sarjana,-bayar-uang-SPP-juga-bukan-dari-papak-mamak-kau,-kan?.

Pada sebuah percakapan, saya pun mengeluhkan penelitian selama dua hari yang tidak memiliki tanda-tanda bisa berjalan lancar. “Kalau begini terus, saya manipulasi saja datanya deh,” ucap saya lalu diaamiinkan oleh kedua teman. Akal bulus saya mulai berjalan, demi gelar sarjana.

Beberapa hari setelahnya, saya sudah berada di kelas lain untuk bahan penelitian. Ibu guru masih tersenyum dan berulang kali menguatkan, “Begini memang penelitian, dek. Kalau masih belum berhasil, kita coba di kelas yang lain lagi.” Ia tak tahu, dalam hati saya sudah punya rencana lebih besar. Saya trenyuh juga dengan niat tulus ibu guru.

Sepulang dari sekolah, saya butuh waktu beberapa hari untuk memeriksa hasil kuesioner. Seolah mengumpulkan kekuatan sekaligus harapan agar hasilnya bisa sesuai keinginan. And the reality is really real, siswanya memenuhi untuk jadi subjek penelitian. Meskipun sebagian besar siswa berpusat pada satu kelompok, dan dua kelompok lain hanya menyisakan masing-masing satu siswa. But, that’s enough, so much enough.

Saya lalu menemui salah satu dosen pembimbing untuk berkonsultasi tentang arah penelitian. Semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Saya membagikan soal pemecahan masalah dan melakukan wawancara beberapa menit ke ketiga siswa. Karena penelitian saya jenis kualitatif, saya juga perlu melakukan triangulasi. Arahan pembimbing meminta untuk triangulasi waktu, jadi beberapa waktu saya harus kembali ke sekolah untuk menguji kesahihan data. It was easy enough, hingga dua hari lalu saya berhasil menuntaskan rangkaian penelitian yang cukup hectic.

Sebenarnya saya agak menyesali karena sudah berencana melakukan perbuatan jahat demi melancarkan misi ilmiah. Tapi bersyukur juga karena pada perjalanannya, Tuhan memberi jalan yang lebih baik. Betul ya: Perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not.

Betapa janji Tuhan tak sama seperti cara manusia berjanji. Beberapa di antara kita tak pernah sungguh-sungguh perihal janji. Lalu (sengaja) lupa menjadi perkara mudah janji untuk tidak tepat dan tetap. Btw, I’m done with research, now all I want is “sea”beach. I need a break… sebelum selanjutnya.


Oh, saya sungguh membenci yang akan saya lakukan kemudian. Welcome to the verbatim moment! 

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Slice of Life

Ulang Tahun dan Buku-buku yang Dihadiahkan

Hollaaa! I’m turning 22 yo. It was exactly on last Saturday, by the way. Such a wonderful age, hmm?

There’s no more thing I wish, but getting mature and feeling greater. I realize, grow a day older means a lot. We’re gonna face more thing to worry about, more time to stress out. It’s not only about family stressful, or our crush, or my thesis. It’s more than that, life is hard and totally complicated. But, what’s the point of life when it’s just the simple way along the day? And the only thing we should do, we just have to seize the day.

In this phase, I’m so grateful ‘cause I’m in between so much people. Good and bad people, angels and demons, indeed. Like other people, it’s good when we meet much more different character person. They make us learn. Every people always bring lessons, people say.

We learn to expect less, we learn to appreciate good people in our circle, and we learn to be stronger when facing people who drive us insane in bad time. We learn to find. All the good and bad thing. We learn more, day by day.

So, right here, stop telling ourself as dumb. We’re precious. Well, sometimes we’ll feel desperate, hopeless, or overwhelmed. But it shouldn’t take too long. When you’re down, get up, keep your chin up, and just cheer up. Keep positive vibes getting around.

***

Tidak ada hadiah yang paling berkesan selain buku. Itu pandangan personal saya, sebab memberi buku berarti memberi hal berharga dalam hidup saya. Kalau orangnya seperti Seno Gumira Ajidarma, tentu lain jadinya, barangkali hadiah senja yang dibungkus dalam surat untuk pacarnya.

Bagi saya, buku tetaplah menjadi hadiah paling personal. Beruntungnya, beberapa tahun terakhir, ada banyak orang baik yang memberikan buku sebagai hadiah. Beberapa di antaranya disertai dengan rangkaian kata. They made me literally more complete.

1.       The Notebook – Nicholas Sparks
Hadiah dari salah seorang kakak perempuan di lembaga kuli tinta. She knows me so well. Buku ini menjadi pintu gerbang saya membaca buku-buku lain Nicholas Sparks. I was just in love with Allie, Noah, twilight, canoe, river, American War, Alzheimer, sad beautiful tragic, and every single thing about this book.
“Baru kusadari waktu itu, bahwa senja hanyalah ilusi semata, karena matahari pasti berada di atas garis cakrawala atau di bawahnya. Dan itu berarti siang dan malam memiliki pertalian yang jarang ada pada hal-hal lainnya; yang satu tak mungkin ada tanpa yang lain, namun mereka tak dapat muncul pada saat yang bersamaan. Aku ingat mempertanyakan, seperti apa rasanya untuk selalu bersama, namun selamanya terpisah?”

2.       Hap! – Andi Gunawan
Kumpulan puisi ini hadiah dari Kugy. She DM-ed me on Instagram, asking what book I need to read the most. Saya memilih kumpulan puisi ini setelah berkenalan singkat di MIWF, Andi Gunawan was invited and launched his book over there. Saya sulit memahami makna puisi, tetapi khas @ndigun adalah sajak ringkas yang mengena telak tanpa diksi yang pelik. Beberapa yang menjadi favorit adalah Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca Saat Merasa Sendiri, Yang Lebih Manis dari Kau, dan Pelajaran yang Tak Pernah Kuselesaikan.
“…Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.
Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam. Percayalah.”

3.       Ayah – Andrea Hirata
Andrea Hirata baru saja merilis buku ini ketika saya me-request “Ayah”. Waktu request hingga waktu tiba di tangan saya terpaut begitu jauh. Waktu lowong yang sulit jadi kendala pertemuan dengan mahasiswa Psikologi yang sekampung ini. I know her since in senior high school, kami ikut pelatihan karya ilmiah remaja saat masih kelas X. We find our interest is similar in literary, and we’re just connected in that way. Bukan cuma waktu penerimaan buku ini yang lama, saya juga harus menumpuk buku ini di rak TBR dalam waktu lebih lama lagi. Saya baru menamatkan buku ini setelah hampir dua tahun dalam tumpukan. And this is my only one of Andrea Hirata I’ve ever read, btw.
“Kebosanan itu kejam, tetapi kesepian lebih biadab daripada kebosanan. Kesepian adalah salah satu penderitaan manusia yang paling pedih.”

4.       The Silkworm – Robert Galbraith
Saya pernah membeli sendiri buku seri kedua The Cuckoo’s Calling ini. Buku itu raib bersamaan dengan insiden pembegalan salah satu teman perempuan. I didn’t blame her for losing my book, I’m just glad she’s doing well with her life. Yang membuat saya kembali bahagia adalah buku ini digantikan oleh salah seorang (mantan) junior di jurusan. She moved to Java and books are cheaper there. Saya meminta ditipkan buku ini, kalau dia kembali ke Makassar. What a kind girl, she gave me the book and not take the money at her birthday party, yang jedanya cuma sehari dari hari ulang tahun saya.
“Lagi pula, mengapa sebenarnya dia membuang-buang waktu untuk kasus Owen Quine? Dia bertanya pada diri sendiri sambil menunduk menghindari empasan hujan yang mengigit. Rasa penasaran, jawabnya dalam hati setelah merenungkannya sejenak, dan barangkali sesuatu yang tidak semudah itu diungkap.”

5.       The Old Man and The Sea – Ernest Hemingway
Buku klasik ini setidaknya masuk dalam list buku yang harus saya baca sebelum mati. Jadi ketika saya diundang salah seorang teman untuk datang ke bazar buku himpunannya, pandangan mata saya tertuju ke buku mungil bersampul kuning gading ini. She handled the book charity bazaar, and she gave me the book as gift. Hubungan pertemanan kami cukup awet meski hanya sempat berkenalan lewat diklat konselor remaja semasa SMA. Setelah diklat, kami pulang ke kabupaten masing-masing, and this girl is the one who still communicate till now.
"Manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan."

6.       Sherlock Holmes: Koleksi Kasus 2 – Arthur Conan Doyle
Saya perlu cukup meyakinkan sepupu perempuan saya hingga akhirnya dihadiahi buku ini. Awalnya, saya berharap diberi koleksi kasus 1 sebab saya belum memilikinya. But, no matter, it’s still precious. Eventually, di hari ulang tahunnya, dia meminta dibelikan jam tangan di Naughty. You know, it’s gonna be a so much awkward moment, kalau saya masuk ke toko pernak-pernik perempuan dengan interior pinky-girly. Beruntung, saya punya teman perempuan yang bisa saya ajak waktu itu, and she’s always been Kugy.

7.       Garis Waktu
Buku lagi-lagi dihadiahkan dari Kugy. I never expected before about this book, but she gave me one. Kami sama-sama bergabung di komunitas yang digagas penulis buku sekaligus musisi ini. Saya senang dengan lagu-lagu Fiersa Besari, tapi tidak semua tulisannya menjadi favorit saya. Saya suka pada beberapa bagian, tetapi selebihnya tidak begitu berkesan. Barangkali sebab saya sudah sering membaca lewat media sosialnya.
“Pelajari sebelum berasumsi. Dengarkan sebelum memaki. Mengerti sebelum menghakimi. Rasakan sebelum menyakiti. Perjuangkan sebelum pergi.”

8.       Memberi Jarak pada Cinta
Tengah malam sebelum keberangkatan ke Jakarta di Februari lalu, saya berkunjung ke rumah mahasiswa Psikologi yang pernah menghadiahkan “Ayah”. Di bawah gelap langit malam, hujan turun cukup deras. Saya mengejar bahan bacaan yang akan menemani waktu kosong selama perjalanan di udara. Teman perempuan saya itu sudah menjanjikan buku Falafu. Saya pertama berkenalan dengan tulisan Falafu lewat blognya dan menemukan kekuatan dari seorang perempuan yang pernah dipatahkan hatinya. It was little bit disappointed when I realized, Memberi Jarak pada Cinta lebih banyak menimbulkan rasa pesimis dan ketakutan. And I was on a plane at the moment, such a misery journey! 
“Manusia, mereka selalu punya alasan untuk membuatmu bersedih dan hilang kepercayaan akan hadirnya kebaikan. Namun, seberapa pun mereka berusaha melakukannya, hidupmu akan tetap baik-baik saja. Selama kamu bersedia mencoba memahami  bahwa;  setiap manusia hanya sedang berusaha bertahan hidup dengan caranya masing-masing—dan dengan kehilangannya sendiri-sendiri.”

9.       The Magic Strings of Frankie Presto – Mitch Albom
Why i love spending afternoon in front of my home. (Foto:whd)

My “boy” friend in college accidentally texted me via Line, “Buku apa mau ko baca?” It’s really random question and I reply one of Mitch Albom that I adore lately. Few days ago, he gave me the book with a letter inside. Saya langsung paham kalau hadiah itu dari salah satu junior di kampus. I have no much idea about who the girl is, teman saya bilang kalau itu dari junior. That’s it.

Kejutan itu sebenarnya bikin saya cukup kagok setelahnya. Sekaligus bikin keder sebab, I can’t imagine what will happen next. But, blame me if being too rude, just don’t expect too much about me. 'Cause I ain't that good.

I know it must be hard for her, ‘cause I feel the same way as well. But, trust me, I just don’t wanna make her feeling’s getting worse. Hopefully, she will be as cheerful as her kind way of writing the letter.

After all, I’m so glad with the blue envelope letter to cheer me up, especially about thesis stuff. Thanks so much for the motivation, now I have one another reason to more serious about finishing my study.

10.   DIY Scrapbook - Kugy
Di antara semua buku, scrapbook dari Kugy selalu paling berkesan. She surprised me sejak pertama memindahtangankan buku handmade-nya. She draw my life in such a pretty book by her hand. It’s just so gorgeous af. Kelak, scrapbook seperti itu yang menginspirasi saya menjadikannya sebagai hadiah ulang tahun imajiner ke-21. I put her Instagram photos, favorite songs and books, and our pretty memories. I’m not as good as Kugy, but at least I try, and I hope imaginary was happy for my DIY.

***

Last but not the least, I’m 22. Everything will be alright, if you keep me next to you. That’s what one of my favorite singer says!

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Campus

Rehat Sejenak

I am on “the man who needs a break for a while after doing something” years old. Ini kebiasaan saya selama mengerjakan skripsi sebenarnya. Saya beristirahat beberapa bulan setelah mengusulkan judul skripsi sebelum sungguh-sungguh mengerjakan proposal penelitian. Lalu ketika proposal saya selesai diujikan, juga kembali mengambil waktu hingga nyaris setahun untuk berisirahat. Bukan waktu sejenak sebenarnya, tapi ada beberapa hal yang saya janji untuk selesaikan lebih dahulu.

Terakhir, ketika rampung menyelesaikan instrumen penelitian, saya menekan tombol pause sebelum melanjutkan proses selanjutnya yang bertepatan dengan mudik berlebaran. Memanfaatkan libur seminggu dengan mengunjungi rumah keluarga dan teman yang bermuara pada liburan ke pantai menjadi waktu rehat paling menyegarkan kepala setelah berpusing ria.

Kali ini, saya kembali merencanakan untuk mengambil jeda, rehat sejenak setelah mengurus izin penelitian di sekolah. Beruntungnya, ada dua pernikahan minggu lalu di tempat yang berdekatan dan merekalah yang membukakan jalan menuju proses rehat. Pertama, salah seorang senior di lembaga kemahasiswaan yang saya geluti. Kedua, teman seprodi yang berasal dari kabupaten yang sama.

Rumah saya sudah cukup dekat dengan lokasi pernikahan senior saya sebab bertetangga kabupaten. Sehingga saya memilih pulang ke rumah dengan pertimbangan bisa sekaligus mendatangi pernikahan teman pada keesokan harinya. Lagipula, tak ada tempat yang lebih tepat disinggahi selain rumah. Bagi perantau, rumah memiliki definisi berbeda daripada sekadar menjadi tempat tinggal. Di sana rindu selalu bermuara.

Matahari sudah tak lagi kelihatan saat tiba di rumah dan tidur-tiduran di kamar beberapa saat setelah pintu rumah ditutup. Saya tidak bisa tidur terlalu cepat kalau malam jadi saya memutuskan meminjam laptop adik dengan berharap ada film bagus yang bisa dinonton atau sekadar mendengarkan lagu. Tapi tidak lama setelahnya, bapak banyak bertanya dari luar. Tidak etis kalau saya menjawab dari dalam kamar sementara bapak di ruang depan. Jadi saya meladeninya dengan keluar kamar. Lagi pula, pertanyaannya memasuki ranah sensitif dan hal-hal lebih parah bisa lebih berpeluang terjadi.

Setelah menerima banyak jawaban yang kurang memuaskan, ibu juga ikutan muncul bertanya meski sedang asyiknya bermain game di ponselnya. Saya masih bisa meladeni bapak kalau urusan ditanya “kapan wisuda”. Tapi, ibu? Ia hampir selalu bermain di ranah perasaan dan sukses membuat saya merasa tidak enak. Sergahan paling menyerangnya tidak jauh dari “Malu sama keluarga yang lain nak, kalau lama sekali kuliahnya” atau “Itu temanmu di sana sekarang sudah dapat kerjaan bagus”. Setelah itu, bibir saya mendadak kelu dengan hati yang terasa diremuk erat. Perih.

Saya baru menyadari kalau pulang di saat “krusial” seperti ini bukan pilihan bijak. Sekaligus, berpikir dua kali kalau harus pulang lebaran di Idul Adha nanti. Itu belum keputusan final sebab betapa saya sangat menghargai momen kumpul bersama yang jarang terjadi di lain waktu.

Lagi pula, persoalan lama wisuda juga bukanlah aib yang perlu disembunyikan. Ini produk manusia yang dibuat-buat dengan tak berdasar, bahwa lama wisuda hanya akan membuat keluarga menanggung malu atau mempengaruhi karir di kemudian hari. Memang siapa yang menciptakan batas antar normal-abnormalnya sesuatu? Ada banyak sekali batas yang dibuat-buat lalu mengkotak-kotakkan sesuatu pada hal yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan. Tapi, barangkali beginilah hidup manusia, tak pernah bisa lepas dari masalah.

Setelah sidang dengan hakim yang diketuai bapak beranggotakan ibu dan adik (ya, adik bungsu saya juga ikutan bertanya “Kapan pi wisuda ta? Kenapa lama sekali ki”), saya bergegas kembali ke kasur dan memikirkan cara terbaik untuk segera pergi ke acara pernikahan teman.

Keesokan siangnya, saya sudah tiba di rumah mempelai wanita yang bersiap-siap menuju salon make up. Saya mendoakan yang terbaik, semoga menjadi keluarga yang berkah dan saya bisa menyusul. Setidaknya, menyusul gelar sarjananya lebih dahulu.

***

Setelah sidang dengan “kejahatan” tidak secepatnya sarjana, upaya rehat sejenak yang saya rencanakan bisa berjalan dengan lancar. Beberapa hari sebelumnya, saya sudah memastikan dengan teman-teman yang akan datang ke acara pernikahan. Salah seorang dari mereka bahkan begitu antusias untuk bisa sekaligus berliburan di sela-sela padatnya agenda resepsi. Sebuah kebaikan semesta penuh kejutan, memang itu yang juga saya inginkan.

Menjadi tuan rumah di kampung yang didatangi, saya harus (terlihat) pandai dalam menentukan pilihan tempat-tempat yang perlu dikunjungi. Daerah Bulukumba sebenarnya cukup lengkap untuk beragam objek wisata. Mulai dari pantai, gunung, gua, agrowisata, religi, dan budaya. Tapi memang yang paling identik pastilah pantai dengan pasir putih sehalus tepung. Jadi, kami mengunjungi sebanyak mungkin pantai yang bisa disambangi selama tiga hari di sana.

Di hari pertama, teman yang menyusul dari Makassar baru tiba sore hari, tinggal beberapa jam tersisa sebelum acara “mappaccing1”. Dengan dua mobil yang ditumpangi, kami bergegas menuju Pantai 
Tebing Apparalang. Pada awal masa terkenalnya, kerap disandingkan sebagai Raja Ampat KW.

Spot ini paling saya hapal rutenya setelah Tanjung Bira. Kami baru tiba di pantai tepat beberapa menit sebelum kumandang azan maghrib. Matahari yang sudah bersembunyi dari balik bukit tidak membuat gradasi warna laut menjadi lebih baik. Meski sebenarnya tetap ada gradasi yang indah. Lagi pula, ada beberapa perbaikan dilakukan sejak beberapa waktu belakangan dapat lebih memoles kemolekan pantai ini. Kami hanya sempat mengabadikan beberapa momen dengan berfoto sebelum bergegas kembali ke lokasi pernikahan sebab merasa bersalah kalau harus datang terlambat.

Esoknya, teman kami sah menjadi orang pertama yang mulai menjalin rumah tangga di ICP Matematika 2012. Ini yang membuat teman kami menjadi lebih spesial. Orang-orang lebih sering mengingat yang pertama ketimbang yang muncul belakangan, kan?

Selepas akad, saya bersama tiga teman laki-laki lain mencari kedai kopi. Salah satu dari teman kami merupakan barista di salah satu kedai kopi Makassar dan barangkali ingin meng-explore cita rasa kopi di Kota Panrita Lopi. Ia memesan dua jenis sekaligus, espresso dan cappuccino. Sementara saya dan dua teman lainnya memesan iced green tea latte.

Menandaskan minuman, kami kembali berkumpul dengan teman yang menunggu di rumah menuju Pantai Mandala Ria. Pantai ini memiliki jalur berdekatan dengan Apparalang. Akses dan kondisi jalannya juga nyaris sama. Banyak penurunan, tikungan, dengan beberapa hanya berkerikil.

Pantainya masih belum dikelola begitu baik jadi masih natural. Berdekatan dengan perumahan warga dan kami juga bisa sekaligus menyaksikan sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pesanan kapal pinisi. Hal paling berkesan adalah di tepi pantai, airnya bening dan keanekaragaman hayati benar-benar terbukti di sini. Ada kelomang, teripang, bintang laut, ubur-ubur, dan kepiting putih. Kami juga hanya sebentar di pantai ini sebab harus menghadiri malam resepsi.

Hari ketiga, seharusnya kami juga turut mengikuti agenda “mapparola2”. Namun, acaranya baru mulai siang hari dan kami sudah harus kembali ke Makassar. Salon make up pengantin menjadi tempat kami mengucap salam sampai jumpa dan selamat atas lembaran hari baru bagi kedua mempelai, sekali lagi.

Setelah itu, destinasi populer Bulukumba, Pantai Tanjung Bira sekaligus Pantai Bara menjadi target tujuan kami. Lokasinya memang berada di kawasan yang sama. Kami singgah sebentar di Tanjung Bira kemudian melanjutkan pengembaraan ke Bara. Di sini baru kami bisa berlama-lama menikmati pantai. Menjejakkan kaki di atas pasir putih, menyegarkan kaki dengan air pantai, dan menemukan tempat berfoto yang asyik dari tebing karang. Tidak kalah penting, makan Pop Mie sebelum melekaskan kunjungan pantai sebagai kenangan.  

Failed! LOL... (Foto: Fitrah Amalina)

Tentang kenangan, rehat sejenak ke pantai bukanlah hal paling penting selama tiga hari itu. Jauh lebih baik, saya menghabiskan beberapa dua-puluh-empat-jam bersama orang-orang baik. Kami lama tak berkumpul berlama-lama. Sebelumnya, kami hanya berpapasan di jalan dengan urusan masing-masing atau bisa bertemu di kampus jika sedang beruntung. Kebanyakan dari mereka memang sudah menamatkan studi sarjana.

Selama beberapa hari itu, kami mengulang-ulang cerita tentang hari-hari penuh canda tawa semasa masih bersama-sama menjadi mahasiswa. Seperti pada hari pembukaan Geometry3 2013, kami tampil dengan pertunjukan paduan suara ala-ala. Lagunya masih diingat jelas, Green Day – 21 Guns.

Ada juga beberapa lagu yang selalu memanggil ulang kenangan yang pernah dibuat, seperti David Cook – Always Be My Baby, 3 Doors Down – Here Without You, dan Taylor Swift – Back To December. Beberapa lagu itu pernah diputar berulang-ulang sekaligus dikaraokekan kala sedang liburan akhir pekan bersama di Tanjung Bayang pada masa awal-awal perkuliahan. Sungguh hari-hari yang pantas untuk dirindukan.

Oh ya, saya juga kembali bertemu dengan Trigonometri. Sejauh ini, kami berdamai dengan hal-hal yang dulu pernah ada. Betapa melegakannya bersikap tanpa rasa canggung atau kikuk. Saya mengharapkan itu akan terjadi juga dengan Imajiner. Tanpa memaksa, saya menantikan hari itu akan berkunjung. Mungkin nanti.

***

1 Rangkaian pernikahan adat Bugis dilakukan pada malam sebelum pernikahan.
2 Kunjungan balasan mempelai wanita ke rumah mempelai pria.
3 Genius on Mathematics in Real Application: Even Himpunan Mahasiswa Matematika dengan konten acara berupa lomba matematika tingkat SD/SMP/SMA dan seminar pendidikan.


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Campus

Komitmen Mahasiswa Akhir

*Catatan Setelah Mengurus Izin Penelitian
**Tentang Target yang Berhasil dan Tak Berhasil Dicapai

Semakin sering bapak dan ibu mengingatkan kabar skripsi, semakin keras pula usaha saya untuk segera merampungkan. Orang tua bukan satu-satunya motivasi untuk mengerjakan skripsi, sebenarnya. Tapi memang mereka yang paling memberi pengaruh. Betapa tidak menyenangkannya lebih kerap disuguhi pertanyaan, “bagaimana kabar skripsimu?” ketimbang ditanya “bagaimana kabarmu, nak?”

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman di jurusan juga menanyakan penyelesaian studi. Ia adalah teman yang termasuk paling cepat sarjana di angkatan kami. Cara paling ampuh untuk menyerang saya pun tidak jauh-jauh dari soal orang tua. “Tidak kasihan ko dengan orang tuamu?”

Sebenarnya, saya agak risih dengan pernyataan teman saya itu. Memangnya dia tahu apa. Okelah, dia memang banyak tahu, terkadang sampai tahu segalanya.

Maka saya langsung berjanji pada teman itu, “Ramadhan saya akan sungguh-sungguh”. Janji itu juga yang saya tandaskan ke orang tua, “saya kerja mi”.

Sejak ujian proposal yang sudah hampir genap dirayakan setahun, saya memang tidak bergerak kemana-mana. Stuck in the moment. Barangkali karena cepat puas, setiap melewati satu tahap, saya sering beristirahat lama-lama. Padahal perjuangan masih butuh waktu lebih lama.

Janji tentang Ramadhan, saya serius. Beberapa teman saya mintai untuk membantu menyusun instrumen penelitian. Permintaan tolong yang retoris sebab meski banyak yang menyanggupi, saya tak menghubungi lagi. Hanya semacam pemberitahuan bahwa saya sedang melakukan sesuatu.

Beberapa hari sebelum hari lebaran, saya berhasil merampungkan instrumen setelah dikonsultasikan ke dosen pembimbing. Puasa di hari-hari terakhir, saya menyimpan sedikit kedongkolan dalam hati. Sebabnya, instrumen—yang dikerjakan hingga menanti waktu sahur bermalam-malam—rencananya sudah divalidasi sebelum mudik. Tapi, terkadang melakukan yang terbaik juga perlu nasib baik.

Di buku validasi instrumen, nama saya belum disandingkan dengan satu pun validator. Padahal, saya sudah mendaftarkan diri sebelum ujian proposal. Saya pulang kampung dengan instrumen yang tak bisa diapa-apakan.

Bereuforia seminggu di kampung, which is liburan pasca lebaran terlama sejak kuliah, banyak mendistraksi saya dari kehampaan melewati target validasi. Masuk hari kerja di kampus, saya lalu mengejar ketertinggalan. Mengecek ketersediaan tim validator, memohon validasi, hingga instrumen benar-benar tervalidasi menelan waktu agak lama, dua minggu. Waktu lebih banyak digunakan untuk menunggu di saat-saat seperti ini. Tapi, untuk apa saya “berlatih” selama hampir empat tahun menunggu hingga berjam-jam kalau menunggu dosen pembimbing dan validator jadi mudah menyerah? Oh, one more reason to love my past. *smooch*

This is what I grateful for. Target selanjutnya, mengantongi surat izin penelitian dari kampus untuk ditujukan ke kepala sekolah salah satu SMP negeri di Makassar di hari pertama tahun ajaran baru. Saya sukses mencapai target itu.

This gon' be usual view (whd)

So, right here I am now. Pagi-pagi saya sudah mendatangi SMP yang direncanakan jadi lokasi penelitian. Salah satu alasan memilih SMP sebenarnya karena saya lebih kerap berinteraksi dengan SMP sebagai mahasiswa Matematika. Di mata kuliah Magang I dan II, saya mengobservasi pembelajaran di SMP negeri di daerah Hartaco (antara SMP 18 atau SMP 27, saya lupa-lupa ingat). KKN pun, saya ditempatkan di SMP Negeri 5 Parepare (betapa saya merindukan kabar adik-adik gemesh di sana).

Saya juga ingat pernah menemani kakak senior merampungkan penelitiannya di SMP 3 Makassar. Waktu itu, saya menyadari anak SMP memang kerap bikin usil dengan tingkahnya yang masih kekanakan. Namun, canda dan tawa mereka tanpa dibuat-buat, bahagia tanpa pretensi. Itu, semoga saya juga mendapati hal serupa di bakal sekolah lokasi penelitian nanti.

Di ruang tunggu kepala sekolah, saya harus mendahulukan dua tamu yang lebih dahulu datang. Sesaat sebelum masuk ruangan, saya harus berhenti di depan pintu. Si bapak kepala sekolah sedang shalat dhuha, sepertinya. Ada ya pejabat kantoran menyempatkan shalat dhuha di ruang kerjanya? Ini awal yang baik, saya berpikir positif.

Setelah dipersilakan masuk, saya menjelaskan maksud. Responnya positif.

“Kenapa pilih meneliti di sini?”

“Begini pak, penelitian saya terkait stres akademik. Saya pikir, siswa di kota cenderung lebih banyak penyebab stresnya daripada di daerah.”

“Sudah pernah ambil data awal? Atau ada kenalannya di sini? Atau mantan siswa di sini?”

“Keluarga, pak, pernah ngajar di sini.”

Saya menyebut nama kerabat yang pernah mengajar di sekolah itu. Si bapak kepala sekolah mengenalnya seraya meminta bagian tata usaha memberi disposisi ke bagian humas sekolah.

Bagian humas dipegang oleh ibu guru yang ramah dan supel. Itu kesan terakhir yang saya tangkap sebelum ia meminta saya menghadap ke guru matematika yang akan menjadi “guru pamong” nantinya.

Merasa diterima guru-guru di sana, saya di atas awan, merasa menang. Ah, padahal ini baru permulaan, tidak boleh terlalu senang. Hingga orang yang saya temui terakhir, ibu guru matematika juga masih guru yang kelihatan gemar menolong.

“Bisa, nanti kamu tinggal ceritakan butuh kelas yang seperti apa. Yang banyak siswa nakalnyakah, yang pintarkah, yang ratakah, bisa dipilihkan. Minggu depan datang ke sini, bawa surat dari bagian perizinan pemerintah,” pesannya.

Saya mengucap terima kasih, memberi salam, lalu pulang.

People say, well beginning is half done (whd)

Pada akhirnya, meski sering ditemui kesulitan dan kejenuhan, mengerjakan skripsi sebenarnya ada juga yang menyenangkan. Mari sama-sama berkomitmen. Teruskan perjuanganmu, pejuang skripsi! 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments