In Imaginary Talk

God, Supposedly It Ain't Wrong

Finally, after a long waiting. The time is really coming. I admire from afar my good friend, too good friend, an imaginary, you. It has been about to four years, till now.

But i just can't keep this feeling always keep burning my whole self. It shouldn't be. The secret should be revealed, at least for me and for Imaginary. Not for the others. Sorry for Kugy for never being shared who is the unlucky person. I know, Kugy never want too much to know who is Imaginary since Trigonometry or Integral things.

What I've been waiting for, the chance to speak out loud how I love you, how Imaginary means a lot to me directly, in all good and bad times, go back and forth. The confession.
Then, I told to you that I love you, truly love. The worst part, I confessed to you about my feeling when you said your second last goodbye. Yess, it was the second time you said your farewell words. The first one, we got back together and kept last till last night, a so much horrible night. And from now on, the never ever getting back together thing will works. In a big possibility.

Me, my self, still getting confused why people change in a so fast cycle. Yesterday was should be good. I supposed everything will be okay, then. Yesterday, you listened to our favorite songs, you smiled to me, you glanced at me. How I wished everyday was should be like yesterday. I tweeted it before. 
I just don't really realize if it was your signal, to another part of us. Till last night. You got really mad at me, a strong goodbye, poorly.

In the end, what I'm trying to say, I feel sorry for everything mistaken in our relationship. For everything we've been through, it was a good memories that I'll keep only by myself. For everything, thanks for being part of my youth.

Supposedly, it's the best way that we must take. Supposedly, it ain't wrong anymore. Now another time  has come, time to let go. In a real definition.

Let's get back to be just friend. Can we make it easy, can we be friends?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Campus

Albert Einstein, PKI, dan Turbulensi Pesawat


“Ada film saya tonton, ceritanya kerbau pergi ke bulan hari ini, terus kembali ke bumi kemarin… Itu kan dari teori relativitasnya Albert Einstein.”

“Senin ini diundang Upacara Hari Kesaktian Pancasila. Eh, itu PKI beragama atau tidak? Barangkali individunya tetap beragama, ya.”

“Pernah naik pesawat, tiba-tiba itu pesawatnya turun ke bawah, jadi kepala kita terbentur ke atas. Begini karena ada vakum udara, istilahnya turbulensi.”

Sulit untuk menemukan hubungan antara Albert Einstein, PKI, dan turbulensi pesawat secara sekaligus. Untuk berpasang-pasangan pun, antara Albert Einstein-PKI, PKI-turbulensi pesawat, dan Albert Einstein-turbulensi pesawat masih belum begitu kentara kaitannya.

Albert Einstein, ilmuwan fisika yang merumuskan teori relativitas. PKI, organisasi politik yang sudah dimatikan sejak zaman Orde Baru di Indonesia dan bagi sebagian orang menganggap mulai bangkit kembali (meskipun saya pribadi merasa ini hal konyol). Turbulensi pesawat, gangguan selama penerbangan yang membuat penumpang pesawat akan merasa terancam maut.

Can you figure out what’s the same thing between the three of them? ‘Cause I ain’t.
Sama seperti herannya saya, ketika ketiga perkara itu jadi topik pembahasan antara penguji, pembimbing, dan peserta saat menjelang dimulai dan pasca selesainya presentasi ujian hasil saya.

Yeah, damn, I’m done. Ignore it, if I’m friggin’ freak about this step: the moment where I can officially say “one step closer”. Norak, ye kan?

But, in the end, it’s such a relief, I pass and get through of this. Beberapa hari sebelumnya, saya memang tidak banyak mempersiapkan menuju hari ini. Setelah disahkan dengan “acc” dari dua pembimbing, saya mengurus segala tetek bengek administrasi untuk penjadwalan ujian. Bicara tentang jadwal ujian, sedianya saya sudah melewati tahap ini sejak seminggu yang lalu. Namun karena kedua pembimbing saya sedang ada urusan yang lebih dahulu terjadwal, saya harus ikhlas dan merelakan untuk hal yang kesekian kali. I shoulda told you, I’m an expert about letting things go.

Sejak tahu kalau jadwal saya ditunda minggu lalu, saya juga menunda membuat presentasi. Bukan perkara balas dendam, hanya karena memang ada prioritas lain yang lebih dibutuhkan dengan segera. I’ve told you before about letting things go, right?

Jadi, berkas presentasi itu baru diselesaikan beberapa hari jelang hari ini. Hingga semalam sebelumnya pun, saya tidak banyak mempelajari ulang materi penelitian. Let it be, saja. And voila!!! I’m really done.

Sekarang, saya sedang mengingat-ingat proses yang telah dilewati hingga ke tahap ini. Betapa, ada banyak pelajaran hidup yang saya peroleh selama mengerjakan hasil penelitian. Ini bukan hanya sekadar merampungkan tugas akhir dengan membaca literatur, lalu melaksanakan penelitian, hingga menyimpulkan dan menjawab pertanyaan penelitian. That’s kinda wasting time, kalau memang benar hanya seperti itu.

Jauh lebih banyak dari sekadar pengaruh akademik saja. Sejak menentukan judul penelitian, kita diajak untuk menjadi lebih peka dengan diri sendiri dan dunia sekitar. For the sake of what stuffs that you’re gonna put yourself into doing research, yang menjadi fokus penelitian tentu tak bisa jauh-jauh dari kebutuhan diri dan pengamatan. And I choose “academic stress in mathematics problem solving”, guess why?

Sepanjang proses penelitian pun, saya menemukan banyak hal baik. Ketika salah menargetkan instrumen penelitian, saya belajar untuk sungguh-sungguh merencanakan sesuatu dengan matang sebelum mengerjakan. Lalu, saya juga belajar untuk bisa memperbaiki kesalahan sesegera mungkin.
Ketika melakukan penelitian, saya juga paham betapa siswa SMP yang menjadi subjek penelitian bisa menjadi guru. Saya tidak selalu benar dalam mengarahkan mereka, saya tidak selalu menjadi apa yang diinginkan oleh mereka, kemudian saya tidak melulu menjadi pihak yang selalu berbicara. Dengan mendengarkan, ada banyak hal yang bisa saya pelajari meski dari yesterday afternoon kids; kids jaman now.

Ketika melakukan triangulasi, translasi, koding, reduksi, kondensasi, analisis, inferensi, semua bagian dari penelitian punya cara-caranya dalam mempelajari hal yang lebih kompleks. Tidak hanya mentok pada bagian itu saja. Seperti translasi dan koding yang selalu dipraktekkan di kehidupan sehari-hari.
And this is the best part, literally, mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh memang menjadi lebih berfaedah. Walaupun saya tidak banyak mempelajari ulang menjelang seminar hasil, tapi karena terlibat langsung sejak awal hingga akhir, it doesn’t need a lot of effort anymore until today.

Hasilnya, ada beberapa revisi dari penguji, and I think I can handle it. Another one thing, at last, terima kasih untuk pembahasan Albert Einstein, PKI, dan turbulensi pesawat yang membuat seminar hasil tidak menjadi begitu seram. Ketiga perkara itu itu cukup mendistraksi dari lebih banyak pembahasan dan pertanyaan yang pelik selama seminar.


I thank to Albert Einstein, PKI, dan turbulensi pesawat! With all due respect.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Slice of Life

I've Never Had Stressor That Much


 Until now.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Slice of Life

Pertanyaan tentang Masa Depan

“Sekarang kayak tertarik sekali kurasa dengan desain-desain interior. Kalau kerja di media, mau jadi tim kreatif saja.”

“Saya tetap minat di broadcasting, mau jadi penyiar atau news anchor.”

News anchor? Nda lulus kualifikasi mukamu.”

Lewat tengah malam saat itu. Kami bertiga sedang sibuk membicarakan percakapan acak. Semuanya mengalir begitu saja, sebab ada-ada saja yang tak bisa habis diperbincangkan.

Hingga tiba pada trialog di atas. Kami membicarakan tentang masa depan, atau setidaknya sedang membayangkan seperti apa kami di masa depan. Kedua teman saya itu sudah punya arah jelas dengan hidupnya. Minimal mereka sudah benar-benar tahu yang mereka inginkan nanti. Saya yang menimpali di urutan ketiga hanya berusaha mencibir impian teman yang lain, tidak tahu pasti mau mengatakan pekerjaan yang sungguh-sungguh ingin digeluti nanti.

Saya selalu saja iri dengan teman-teman punya perencanaan jelas dengan hidupnya. Tentu saja, pemaknaan iri dengan positif. Iri yang dilandasi rasa kagum dan ingin menuruti jejaknya. Bukan sekadar panas hati dan ingin merebut kepemilikannya.

Ada banyak sekali yang saya senangi. Bagian terburuknya adalah saya jadi mendera dilema di antara beragam pilihan.

Hingga sekarang, saat saya sedang menunggu jadwal ujian hasil untuk skripsi, saya masih belum tahu pasti jawaban atas pertanyaan tentang masa depan. Target saya masih sebatas harus sarjana tahun ini. Seperti yang sudah sering-sering diperingatkan orang tua. Itu saja.

Tentang peringatan orang tua, sebenarnya di beberapa waktu terakhir, mereka-terutama bapak-sedang berusaha meyakinkan saya untuk mendaftar lowongan penerimaan calon pegawai negeri sipil. Profesi yang jadi idaman sebagian besar para orang tua. Apa lagi dasarnya kalau bukan jaminan masa depan dengan gaji bulanan menentu dan pesangon pensiuanan di hari tua?

Saya memikirkan itu, sangat memikirkan, malah. Tapi saya menolak permintaan bapak saat diminta melamar lowongan dengan kualifikasi minimal SMA. Saya hanya berdalih ingin berfokus menyelesaikan studi sarjana dan langsung diaminkan bapak.

Dari sini, saya juga belajar untuk berani mengatakan “tidak” pada sesuatu yang memang tidak ingin atau tidak bisa saya lakukan. Saya hanya merasa tidak ingin begitu banyak terjebak dengan harapan-harapan yang ditumpukan dari orang tua. Jadi, dengan begini saya memulai menentukan masa depan dengan lebih mandiri dan agak leluasa.

Singkatnya, sekarang saya sedang memasuki pekan ketiga menjadi “budak perusahaan”. Bukan korporat sebenarnya, sekadar memoles saja agar lebih berkesan.

Pada awalnya, saya sungguh berpikir untuk memiliki sumber penghasilan sendiri. Mengikuti sejumlah akun penyedia lowongan kerja di beberapa media sosial. Selain itu, membuat akun LinkedIn, yakali ada yang berminat menengok CV saya. Langkah itu harus benar-benar ditempuh, sebab saya tidak harus selalu mengandalkan kiriman uang saku dari orang tua yang sebentar lagi memasuki usia pensiun.

Bak gayung bersambut, meski langkah yang sebelumnya ditempuh jadi tidak terlalu berfaedah, salah seorang senior menawari pekerjaan. Diawali ragu, saya menerima tawaran tersebut.

Meski akrab dengan hal-hal yang dilakukan itu, tetap saja muncul kecemasan-kecemasan: bagaimana kalau sebenarnya bukan ini yang saya inginkan, bagaimana kalau ada yang lebih baik, dan serangkaian bagaimana kalau yang lain. Tetap, saya memikirkan banyak kemungkinan-kemungkinan itu.

Honestly, Saya merasa “muak” di hari-hari awal. Memaksakan diri untuk melakukan dengan ikhlas. Di pekerjaan ini, saya kemudian meminta satu hari libur, Tuesday. Alasannya, karena masih ada kuliah di kampus di hari itu. So, guess how it feels when you gotta work even on the weekend?

My another biggest fear is there will be less time with Imaginary. I know it doesn’t make sense ‘cuz I shouldn’t always stand by her. Anyway, there won’t be any fear or scars about her if all I have is keep faith and fight for her.

Sekarang saya semakin menjadi seperti Sabari rasanya. Betapa menenggelamkan diri dengan setumpuk pekerjaan hanya menjadi pelarian semu semata. Kalau sudah pulang dan menjemput mimpi, kepala masih tetap menjadi kantor paling sibuk di dunia.

Still, here I am. Tentang perasaan saya dengan pekerjaan ini, masih fluktuatif: kadang suka sekali, kadang masih “muak”. Namun, saya semakin berusaha keras dan mulai mencoba untuk mencintai. Prinsip witing tresno jalaran soko kulino yang terjadi di kasus saya dan Imajiner, saya harapkan akan berlaku pula. Rutinitas yang dilakukan selama enam hari dalam sepekan, semoga membiasakan.


Semoga benar, jalan yang saya tempuh ini. Semoga menjadi ketetepan baik dari Tuhan yang Maha Baik.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Imaginary Talk

Imaginary, What Do We Really Have?

What I love the most about the dusk is it always reminds me of you. It comes only for a while, but then disappeared. Repeatedly. (Foto: Kugy)
Loving you leaves my heart hurts.

"You'll never really love someone until you learn to forgive." - Ben&Ben

There's a question I can't get out of my mind these days. Sometimes, we woke up and feel so burdened. I just did. There's a name that always keep calling by myself.

I realize, i have never made special writing about her lately. Okay, sometimes i put in a few short paragprahs, in a random post. A little not over too much. I have some reasons about that. Like... i just couldn't make it too clear that i'm still into her, not anymore. I got so many fears, and one fear is about making a distance between us more and more. That's what I can't handle it anymore.

But, those fear, how could I suppose to have? We're not even a couple. Sometimes, we were really stranger. Even most times. *sigh

Imaginary, what do we really have?

One of my friend, once asked me, what do we really have? It always resounds in my thought after she asked me that silly question. Till this morning. My friend told me, even after three years and over, what do we really have?

I replied, we're get better. More and more day. I know, I was lied.

Even she told me, our stuff is possibly like merry-go-round, feeling goes away but actually nothing happened. We're still at the same point, not even changed. Stuck.

Imaginary, what do we really have?

Hey, i just found the answer. All of a sudden. Faith. I believe in her. I shouldn't hesitate even I'm not around. My stuff is, i'm not gonna cheat on her. And i do hope, she does. These days, i'm gonna be little less time with her and i should't have any scars and fears. We're gonna be okay. I should keep believing and faith. That's all, that's it.

'Cause I believe in her. And won't cheat like another guy who always talks that  he loves her.

Yep, what I'm trying to say is, I'll never cheat on someone that I love. For any reason's sake. How dare I cheat when I don't want to be cheated?

Just like once I caught her writing, "you're the only one for me, why I'm not the only one", imaginary?

P.s: I'm just thinking to post this "rubbish", because I've been to weak writing in draft and deleting over and over again. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments