In Slice of Life

I've Never Had Stressor That Much


 Until now.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Slice of Life

Pertanyaan tentang Masa Depan

“Sekarang kayak tertarik sekali kurasa dengan desain-desain interior. Kalau kerja di media, mau jadi tim kreatif saja.”

“Saya tetap minat di broadcasting, mau jadi penyiar atau news anchor.”

News anchor? Nda lulus kualifikasi mukamu.”

Lewat tengah malam saat itu. Kami bertiga sedang sibuk membicarakan percakapan acak. Semuanya mengalir begitu saja, sebab ada-ada saja yang tak bisa habis diperbincangkan.

Hingga tiba pada trialog di atas. Kami membicarakan tentang masa depan, atau setidaknya sedang membayangkan seperti apa kami di masa depan. Kedua teman saya itu sudah punya arah jelas dengan hidupnya. Minimal mereka sudah benar-benar tahu yang mereka inginkan nanti. Saya yang menimpali di urutan ketiga hanya berusaha mencibir impian teman yang lain, tidak tahu pasti mau mengatakan pekerjaan yang sungguh-sungguh ingin digeluti nanti.

Saya selalu saja iri dengan teman-teman punya perencanaan jelas dengan hidupnya. Tentu saja, pemaknaan iri dengan positif. Iri yang dilandasi rasa kagum dan ingin menuruti jejaknya. Bukan sekadar panas hati dan ingin merebut kepemilikannya.

Ada banyak sekali yang saya senangi. Bagian terburuknya adalah saya jadi mendera dilema di antara beragam pilihan.

Hingga sekarang, saat saya sedang menunggu jadwal ujian hasil untuk skripsi, saya masih belum tahu pasti jawaban atas pertanyaan tentang masa depan. Target saya masih sebatas harus sarjana tahun ini. Seperti yang sudah sering-sering diperingatkan orang tua. Itu saja.

Tentang peringatan orang tua, sebenarnya di beberapa waktu terakhir, mereka-terutama bapak-sedang berusaha meyakinkan saya untuk mendaftar lowongan penerimaan calon pegawai negeri sipil. Profesi yang jadi idaman sebagian besar para orang tua. Apa lagi dasarnya kalau bukan jaminan masa depan dengan gaji bulanan menentu dan pesangon pensiuanan di hari tua?

Saya memikirkan itu, sangat memikirkan, malah. Tapi saya menolak permintaan bapak saat diminta melamar lowongan dengan kualifikasi minimal SMA. Saya hanya berdalih ingin berfokus menyelesaikan studi sarjana dan langsung diaminkan bapak.

Dari sini, saya juga belajar untuk berani mengatakan “tidak” pada sesuatu yang memang tidak ingin atau tidak bisa saya lakukan. Saya hanya merasa tidak ingin begitu banyak terjebak dengan harapan-harapan yang ditumpukan dari orang tua. Jadi, dengan begini saya memulai menentukan masa depan dengan lebih mandiri dan agak leluasa.

Singkatnya, sekarang saya sedang memasuki pekan ketiga menjadi “budak perusahaan”. Bukan korporat sebenarnya, sekadar memoles saja agar lebih berkesan.

Pada awalnya, saya sungguh berpikir untuk memiliki sumber penghasilan sendiri. Mengikuti sejumlah akun penyedia lowongan kerja di beberapa media sosial. Selain itu, membuat akun LinkedIn, yakali ada yang berminat menengok CV saya. Langkah itu harus benar-benar ditempuh, sebab saya tidak harus selalu mengandalkan kiriman uang saku dari orang tua yang sebentar lagi memasuki usia pensiun.

Bak gayung bersambut, meski langkah yang sebelumnya ditempuh jadi tidak terlalu berfaedah, salah seorang senior menawari pekerjaan. Diawali ragu, saya menerima tawaran tersebut.

Meski akrab dengan hal-hal yang dilakukan itu, tetap saja muncul kecemasan-kecemasan: bagaimana kalau sebenarnya bukan ini yang saya inginkan, bagaimana kalau ada yang lebih baik, dan serangkaian bagaimana kalau yang lain. Tetap, saya memikirkan banyak kemungkinan-kemungkinan itu.

Honestly, Saya merasa “muak” di hari-hari awal. Memaksakan diri untuk melakukan dengan ikhlas. Di pekerjaan ini, saya kemudian meminta satu hari libur, Tuesday. Alasannya, karena masih ada kuliah di kampus di hari itu. So, guess how it feels when you gotta work even on the weekend?

My another biggest fear is there will be less time with Imaginary. I know it doesn’t make sense ‘cuz I shouldn’t always stand by her. Anyway, there won’t be any fear or scars about her if all I have is keep faith and fight for her.

Sekarang saya semakin menjadi seperti Sabari rasanya. Betapa menenggelamkan diri dengan setumpuk pekerjaan hanya menjadi pelarian semu semata. Kalau sudah pulang dan menjemput mimpi, kepala masih tetap menjadi kantor paling sibuk di dunia.

Still, here I am. Tentang perasaan saya dengan pekerjaan ini, masih fluktuatif: kadang suka sekali, kadang masih “muak”. Namun, saya semakin berusaha keras dan mulai mencoba untuk mencintai. Prinsip witing tresno jalaran soko kulino yang terjadi di kasus saya dan Imajiner, saya harapkan akan berlaku pula. Rutinitas yang dilakukan selama enam hari dalam sepekan, semoga membiasakan.


Semoga benar, jalan yang saya tempuh ini. Semoga menjadi ketetepan baik dari Tuhan yang Maha Baik.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Imaginary Talk

Imaginary, What Do We Really Have?

What I love the most about the dusk is it always reminds me of you. It comes only for a while, but then disappeared. Repeatedly. (Foto: Kugy)
Loving you leaves my heart hurts.

"You'll never really love someone until you learn to forgive." - Ben&Ben

There's a question I can't get out of my mind these days. Sometimes, we woke up and feel so burdened. I just did. There's a name that always keep calling by myself.

I realize, i have never made special writing about her lately. Okay, sometimes i put in a few short paragprahs, in a random post. A little not over too much. I have some reasons about that. Like... i just couldn't make it too clear that i'm still into her, not anymore. I got so many fears, and one fear is about making a distance between us more and more. That's what I can't handle it anymore.

But, those fear, how could I suppose to have? We're not even a couple. Sometimes, we were really stranger. Even most times. *sigh

Imaginary, what do we really have?

One of my friend, once asked me, what do we really have? It always resounds in my thought after she asked me that silly question. Till this morning. My friend told me, even after three years and over, what do we really have?

I replied, we're get better. More and more day. I know, I was lied.

Even she told me, our stuff is possibly like merry-go-round, feeling goes away but actually nothing happened. We're still at the same point, not even changed. Stuck.

Imaginary, what do we really have?

Hey, i just found the answer. All of a sudden. Faith. I believe in her. I shouldn't hesitate even I'm not around. My stuff is, i'm not gonna cheat on her. And i do hope, she does. These days, i'm gonna be little less time with her and i should't have any scars and fears. We're gonna be okay. I should keep believing and faith. That's all, that's it.

'Cause I believe in her. And won't cheat like another guy who always talks that  he loves her.

Yep, what I'm trying to say is, I'll never cheat on someone that I love. For any reason's sake. How dare I cheat when I don't want to be cheated?

Just like once I caught her writing, "you're the only one for me, why I'm not the only one", imaginary?

P.s: I'm just thinking to post this "rubbish", because I've been to weak writing in draft and deleting over and over again. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Campus

Koding dan Translasi

Pada mulanya adalah verbatim yang penuh dengan rekaman suara menjemukan. Perspektif pribadi saya saja, 'cause I’m just too sick to listen to and make a transcript of conversation about numbers and variable x, y, or even z. Just saying

Namun, masih ada hal yang tak bisa dilupakan begitu saja setelah merampungkan verbatim yaitu koding. Saya sebenarnya berpikir untuk mengambil jeda, apalagi sejak kabar buruk tentang hal-hal yang bisa saja memperlambat waktu yudisium. At the moment, I was getting down, but it didn’t take a long time to get up. I realize, I just should do all my best, right? Bagaimanapun hasilnya, proses yang dilewati ini toh akan tetap dilalui.

Alat tempur untuk Koding vs Translasi War. (Foto: whd)

Hingga setidaknya saya harus butuh satu pekan penuh; empat lokasi berbeda (rumah, redaksi, mekdi, dan good kedai); serta 2 album Kodaline, 2 album LANY (both of them is one of my sorrow source since they came to WTF yet i'm not there couple days ago), dan 7 album Mocca untuk benar-benar merampungkan proses koding ini. Beruntung, saya dibantu juga oleh salah satu teman yang lebih dahulu wisuda. Kodingnya menjadi acuan saya sebab proses penelitian yang serupa, tetapi dengan variabel yang cukup jauh berbeda.

Revolusi sistematika penulisan hasil penelitian di jurusan cukup membuat saya tidak bisa sembarangan menulis. Cara “arus utama” sudah mulai ditinggalkan. Skripsi teman itu yang membuat saya banyak belajar. Pada prosesnya, kalau ada yang saya tidak bisa pahami, tinggal mengirim pesan obrolan via Line. Ia selalu tanggap menjawab permasalahan yang kerap saya hadapi. Tentu, tetap harus mengenal waktu, rentang antara sesudah shalat subuh sampai pukul sembilan malam. (Note: Teman saya, muslimah yang cukup aktif berdakwah)

Saya juga menyadari, belajar dengan mengalami langsung sungguh menjadi lebih mudah. Di dalam ruang kelas, saya bahkan tidak pernah menemui kata-kata verbatim maupun koding. Saya baru mengenalnya sekarang, meskipun sebenarnya terkadang melakukannya secara tidak sadar. Memang, pelajaran yang bisa diaplikasikan secara langsung jauh lebih bisa berbekas dalam memori ketimbang hanya duduk di dalam kelas, melakukan presentasi dan diskusi. Betapa suram dan seramnya kalau lulus dengan sekadar “oleh-oleh” gelar S.Pd=Sarjana Presentasi dan Diskusi. Oh, holy crap!

Ada istilah lain lagi yang harus dilakukan setelah koding, yaitu translasi. Saya hanya mengalihbahasakan saja, sebab hasil koding itu diterjemahkan maknanya. You know, translation kalau diserap ke bahasa Indonesia menjadi translasi.

Ini juga tidak kalah sulit. Harus betul-betul menjadi orang yang peka kalau ingin tepat menerjemahkan kode yang sudah dirancang. I told you before, right? Perkara koding dan translasi ini bukan kali pertama saya temui di proses penelitian kualitatif. Oh, bukan juga di dalam kelas, tetapi di kehidupan sehari-hari kita. Specifically, in our relationshiop or when crushing on someone.

Kerap kita memberikan kode-kode kepada orang yang kita sukai. Misal, menjadi lebih perhatian ketika sedang bersama even for so much detail thing, atau sekadar menulis caption di Instagram yang sebenarnya tidak punya kaitan dengan foto yang diunggah. Pokoknya, caption on point.

Kode itulah yang kemudian diharap bisa sampai dan ditranslasi dengan baik oleh orang yang kita sukai. Tak jarang pula, kode itu dibalas dengan kode. Perhatian dibalas dengan perhatian juga hingga saling berbalas caption kasmaran lewat foto-foto yang diunggah masing-masing. That’s a bit pretty condition. Namun ada juga yang kisahnya menjadi lebih pahit. Perhatiannya dibalas dengan acuh tak acuh, caption foto tak pernah digubris. That’s even sadder, (sigh)!

Padahal, kita sebenarnya bisa menjadi anak kecil. There’s a different small thing between “anak kecil” and “kekanak-kanakan”, anyway. Anak kecil kalau suka dengan sesuatu atau ingin sesuatu tidak memakai kode-kodean, they are straight to the point. Kalau ingin mainan baru, tinggal bilang. Kalau ingin naik bianglala di pasar malam, langsung ngomong. Masa iya, ada anak kecil upload stories dengan teks “Enak kali yak kalau bisa lihat gemerlap pasar malam atau menatap bintang kejora dari ketinggian?”

That’s the worst part of being mature, people, we’re gonna thinking too much. Kita menjadi orang yang paling banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan di kepala. “We can’t stop pendulum in our head”. Padahal ya, kalau kita mau membuat ruang yang lebih lapang, kan bisa langsung ngomong apapun yang kita inginkan. Kalau kita berani menelan pil kekecewaan. Yet this is lyfe, so full of twist.

Pada akhirnya, setelah melalui proses koding dan translasi di penelitian, saya menjadi lebih yakin pada satu hal. Koding itu memang sulit. Kita harus memikirkan cara terbaik agar kode bisa mudah dipahami, agar yang dituju tidak akan salah paham dalam memaknai. Lalu, perkara translasi pun tak kalah sulitnya. Betapa menerjemahkan kode itu tidak mudah, jadi kalau ada yang mau disampaikan, ya utarakanlah! Not all of us even shaman. Eh, mengerjakan penelitian tetap dibawa baper juga, ya...

Ps: (Okay, I know the theory, not for the application) Hehe… Ini juga sebenarnya lagi upaya ngode sih, epilog beberapa postingan terakhir pasti menyelipkan agenda terselubung. Sudah cukup keras, belum, kodenya? *IYKWIM. :p 

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Campus

Regret Always Comes Too Late

Lirik di bagian awal lagu Fix You dari Coldplay seketika terlintas setelah keluar dari ruang dosen Penasehat Akademik. When you try your best, but you don’t succeed.

How do you feel when you know that everything you do won’t change anything? Setelah rehat sejenak bersama Kugy ke Pulau Lae-lae kemarin, saya berpikir akan bisa dengan tenang menghadapi dunia verbatim dan seabrek perkara yang membuntuti setelahnya. Analisis data, konsultasi ke pembimbing, ujian hasil, hingga yudisium. But, it’s not really that easy. It won’t be.

“Belum terancam ya? Program di semester ini lagi saja,” ujar dosen Penasehat Akademik.

Sebelumnya, saya meminta pertimbangan tentang salah satu mata kuliah yang nilainya kurang menggembirakan. Sementara saya sudah melakukan penelitian dan sebenarnya tinggal perlu fokus untuk urusan skripsi saja.

Kendati batas masa studi memang masih belum terancam, tetap saja konsekuensi memprogramkan ulang mata kuliah membuat saya merasa terancam. I still can’t imagine how many days akan diliputi pertanyaan kapan wisuda dari ibu. Secara matematis, hitungannya akan berjalan satu semester, berarti enam bulan, berarti sekira 180 hari. Tapi waktu selalu berlaku relatif and it’s not gonna be meant by only those days. More than that, literally.

Lalu sekelebat penyesalan bermunculan setelahnya. Saya menyesal karena tidak melakukan banyak hal. Tidak bersungguh-sungguh mengikuti mata kuliah sejak awal. Tidak memprogramkan ulang di semester berikutnya, meskipun saya sedang menjalani KKN, ya kali bisa hoki dapat nilai lebih baik. Tidak ngotot mengikuti semester pendek meskipun hanya seorang diri mendaftar, atau setidaknya mengharap sekadar tugas pengganti 16 pertemuan. Setidaknya saya tidak perlu menjalani satu semester penuh ke depan ini lagi.

But, as always, regret comes too late, right? Saya merutuki diri sejak keluar dari ruangan dosen hingga perjalanan pulang ke redaksi. Tentang sesal, saya memang menyadarinya sebagai sebuah proses pembelajaran. Ada beberapa hal yang perlu disesali dalam hidup. Di kemudian hari, kita belajar untuk tidak mengulang kesalahan yang lalu. Begitulah penyesalan hari ini berlalu dan akan terus membayangi besok dan seterusnya.

Seperti kemarin, saat rehat sejenak bersama Kugy di Pulau Lae-lae. Tentang rehat sejenak itu, malamnya saya memang berencana untuk pergi ke mana saja asal bisa bahagia. Kugy tiba-tiba mengirim pesan Line hingga bermuara pada agenda ke Lae-lae. It was only about 15 minutes from Kayu Bangkoa Dock, Makassar. Pulau Lae-lae bisa menjadi destinasi untuk lari sejenak dari keruwetan Makassar dan segala isinya. So, there we go.

A moment before Q & A Session (Foto: whd)

Sebelum matahari betul-betul tenggelam, kami menggelar sesi Q & A macam yang sering dilakukan vlogger Youtube. Caranya sederhana, masing-masing dari kami menulis dua pertanyaan untuk kemudian dijawab bersama-sama.

“Kalau dikasih kesempatan untuk memutar waktu, ingin kembali ke waktu kapan? Untuk memperbaiki kesalahankah? Untuk mengulang kenangan?” Saya bertanya.

Kugy tegas menjawab kalau ia tak akan menggunakan kesempatan itu sekali pun. Ia betul-betul paham bahwa yang pernah terjadi akan dibiarkan pernah berjalan begitu adanya. Hal itu cukup menjadi kenangan dan jadi pelajaran.

Sementara saya selalu ingin kembali ke Senin, 21 September 2015. Hari ketika nenek meregang nyawa dan saya tak berada di sisinya. Saya selalu ingin kembali ke hari itu dan menanggalkan serta meninggalkan semua perkara yang pernah membelit. Hanya ada saya dan nenek.

Sehari terakhir bersama Nenek, saya ingin menatap lama-lama, meminta maaf, memeluk, dan membacakan doa-doa. Hingga sekarang, hal yang paling saya sesali dalam hidup adalah tidak berada di sisi nenek saat waktu-waktu terakhirnya.

***

Eh, kembali juga ke Fix You dari Coldplay: When you love someone, but it goes to waste. Could it be worse?

Apa yang membuat saya tidak pernah menyesal adalah pertemuan dengan Imajiner. Saya tidak menyesal datang ke salah satu sisi kampus pada hari itu, tempat kami pertama bertemu. Saya tidak menyesal rutin bertemu dengannya sejak pertemuan perdana sebelumnya. Meskipun pada perjalanannya, hal-hal sulit semakin banyak ditemui, saya tidak menyesal. Meskipun saya mengetahui sejak awal, pada akhirnya, hal-hal sulit itu tak akan mudah pergi. Untuk hal ini, saya selalu ingat penggalan lirik Sudah dari Ferdinand. Tak satupun yang kusesali malahan semua warnai hidup.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments