In Geometry Talk

That Should Be Me

*bacrit dulu* Ah..  maaf, lama ga nulis. Schedule saya padat bro. Mumpung malam ini, ga ada kegiatan plus emang lagi ada bahan nulis, jadinya nulis deh.~

15 Mei 13
Memang. Sangat menggalaukan, ungkapan cinta yang ga tepat waktu. Ungkapan yang terlambat. Tapi, yang lebih menggalaukan lagi adalah munculnya asumsi kalau ungkapan cinta sudah ga perlu dilakukan lagi. Belum mengungkapkan, tapi sudah sadar diri kalau semuanya emang sudah terlalu terlambat.




Eh, saya belum sempat cerita kan, kalau geometri sedang dekat atau didekati sama teman kelas sendiri, teman kelas saya juga. Kalau followers saya yang hobi tiap harinya bertengger stalking di timeline saya sih, ofc tau lah~ Ya, dia alasan kenapa hampir tiap malam saya galau. Malam ini, dia semakin dekat, mereka sudah siap untuk mengambil satu langkah lebih untuk saling dekat lagi. Itu yang membuat saya punya dua opsi yang sama-sama paling saya benci. Opsi pertama, masih stuck sebagai pecinta dalam diam yang akan otomatis juga menjadi the only one who get broken. Atau opsi kedua, saya hanya perlu menyerah. Menyerah?

Entah kenapa, saya merasa kalau saya setuju dengan hubungan mereka. Entah kenapa, saya malah membantu mereka (walaupun mungkin hanya sedikit bantuan) supaya mereka bisa taken-taken-an. Mungkin... mungkin karena saya sudah cukup dekat dengan mereka berdua, saya tau siapa mereka, makanya saya ga usah ragu buat pro dengan hubungan mereka. Apalah, saya benci harus mengakuinya. Saya masih cinta geometri. Ituji.

Takut. Saya takut kehilangan geometri. Saya harus kehilangan dia, lebih cepat sebelum yang saya bayangkan. Takut kehilangan, padahal memiliki saja belum. Dafuq! Awalnya, saya kira, saya hanya perlu melupakannya kembali selepas bimbingan selesai. Ga, ternyata. Setelah, geometri dan teman saya taken, saya sudah harus bahagia melepas geometri. Setidaknya, itu yang harus saya perlihatkan kepada mereka. Yang paling saya ga bisa bayangkan, saya harus bahagia sendiri, melihat senyum indahnya, ketika satu-satunya alasan senyumnya adalah teman saya. Bodoh. Pecinta dalam diam yang sial.

Awkay, saya tahu, saya dan geometri emang bukan takdir. Saya berani bertaruh, kalau geometri ga berpasangan dengan saya di lauhul mahfudz. Saya benar-benar yakin, geometri adalah tulang rusuk gagal saya. Tapi, saya tetap menyukainya. I’ve told you, she’s cool, she’s cute. Moreover, she’s too good for me. Saya yang memaksakan diri, saya yang memaksakan perasaan; memaksakan segalanya.

Malam ini, mereka sudah buat janji kencan. Di depan saya. Dan di depan teman yang lain, saya menampakkan muka ga bersalah karena cinta sepihak yang hampir pupus. Di depan teman yang lain, saya bahagia. Sampai di jam ke-4, pelajaran kimia sempat terpotong karena direktur cabang masuk untuk memberi pengumuman. Bukan masalah pengumumannya, masalahnya ada ketika direktur cabang menyuruh teman saya (sebut aja, Nanny) disuruh buat nyanyi. Dia sudah pernah nyanyi butiran debu, sebelumnya. Suaranya keren. And can you guess what did she sang this time? That Should Be Me (of Justin Bieber). Please, jangan tanya seberapa saya menghayati lirik lirihnya.

Everybody's laughing in my mind
Rumors spreading 'bout this other guy
Do you do what you did
When you did with me?
Does he love you the way I can?
Did you forget all the plans that you made with me
'Cause baby I didn't

That should be me;Holding your hand
That should be me;Making you laugh
That should be me;This is so sad
That should be me;That should be me
That should be me;Feeling your kiss
That should be me;Buying you gifts
This is so wrong;I can't go on
Till you believe;That should be me

That should be me

You said you needed
A little time for my mistakes
It's funny how you use that time
To have me replaced
Did you think that
I wouldn't see you out at the movies?
Whatcha doin' to me?
You're taking him where we used to go
Now if you're trying to break my heart
It's working 'cause you know

That should be me;Holding your hand
That should be me;Making you laugh
That should be me;This is so sad
That should be me;That should be me
That should be me;Feeling your kiss
That should be me;Buying you gifts
This is so wrong;I can't go on
Till you believe;That should be me

I need to know should I fight
for our love for this long
It's getting harder to shield
This pain in my heart

Oh
That should be me;Holding your hand
That should be me;Making you laugh
That should be me;This is so sad
That should be me;That should be me
That should be me;Feeling your kiss
That should be me;Buying you gifts
This is so wrong;I can't go on
Till you believe;That should be me

Holding your hand...
That should be me
Oh, I making you laugh, oh baby, oh
That should be me
 (That should be me giving you flowers)
That should be me
Talking by hours
That should be me
That should be me
That should be me
Never shoulda let you go
I never shoulda let you go
That should be me
I never shoulda let you go
That should be me



Ya, saya sudah terhempas sangat jauh dan terlalu dalam. sudah seharusnya, saya harus berhenti mencintai geometri, karena hampir sudah ada yang lebih seharusnya. Walaupun, mungkin cinta saya lebih besar darinya, atau saya lebih dahulu menyukai geometri dibanding teman saya. Pada akhirnya, sang pemenang adalah yang mengungkapkannya terlebih dahulu, bukan?

Baiklah, demi teman saya, dan demi mereka. Saya akan berusaha untuk berhenti. Demi siapapun, saya mau belajar untuk bersuara, “kita hanya teman dekat.”. DEMI TUHAAAAAN!! *a la arya wiguna*
Jika saja, sejak awal saya sudah bisa menafsirkan senyum-senyum yang dia gurat. Atau membaca perhatiannya yang bisa jadi ga dia berikan untuk hanya saya. Atau semua yang membuat saya semakin berharap terlalu banyak. Seandainya begitu, saya ga perlu melakukan semua hal bodoh sejauh ini.



Apalagi sekarang, mereka yang hanya perlu mengambil napas baru untuk membuat semuanya lebih baik (bagi mereka sendiri), bagaimana mungkin saya harus mengakuinya sekarang. Saya takut menghancurkan yang selama ini kita lakukan, sekaligus yang akan mereka sendiri lakukan. Sekali lagi, saya hanya bisa mengadu ke Tuhan. Tentang apa yang harus saya lakukan selanjutnya, tentang semua rasa yang harus saya lepas perlahan, saya akan membebankan semuanya kembali kepada waktu. Geometri, that should be me. But, it’s okay now. As long as you’re happy.~

Sumber gambar 

Related Articles

2 komentar: