In Geometry Talk

There's something gone very wrong with our class.


“I wonder whether I ain’t in a wrong class. It should be physics but we studied resonance between two hearts. Terrible!”

02 Mei 2013
Tidak ada yang terlalu berbeda dari kelas-kelas seperti biasa sebelumnya. Ngerjain soal yang ada di handbook, bahas, dan udah pasti dengan guyonan khas tentor-tentor kami yang bikin kami jadi lebih suka belajar. Ya, mereka memang siluman-punya kekuatan yang mengubah paradigma kami tentang kimia atau apapun pelajarannya.

Semua berjalan seperti biasa, semua masih seperti kemarin, semua masih sama. Sampai jam pelajaran ketiga, fisika, datang menyerang. Bukan, bukan tentang pelajaran fisika yang ‘jelek’, bukan masalah tentor yang tidak seperti tentor lain, ini tentang banyak hal lucu pas pelajaran.

Tentor baru masuk pun, semua teman-teman (termasuk saya, juga), langsung batuk-batuk ga jelas. Tidak ada hubungannya memang, dengan tentor kami. Ya, iykwim, batuk-batuk ga jelas itu cuma semacam kode kalau ada yang heart to heart. OMG, sepertinya kelas kami, termasuk kelas paling awal yang punya kandidat cinta lokasi. *uhuk* Tidak ada sebut nama, saya masih bisa jaga privasi.

Intisari dari semuanya, sudah dijelaskan sendiri dari tentor kami. Memang, warning detected. Hampir dipastikan akan ada resonansi yang terjadi. Bukan mustahil, kami sudah hampir seminggu sudah sangat dekat -kalau kelas lain, katanya masih saling canggung. Itu bedanya dengan kelas kami :3 Pastilah, semua hal yang tidak mungkin akan jadi mungkin. Apalagi, beberapa teman saya –termasuk saya juga yang believe on love at first sight.

Tadi, tentang saya dan geometri sudah cukup kembali baik. Memang masih belum terlalu indah, tapi saya masih cukup bersyukur mencintai dengan seperti itu. Kembali saling menebar senyum, kembali saling menyapa hangat, kembali saling mencari titik temu kontak mata, kembali sama-sama cari jawaban, kembali saling melempar humor, dan yang paling bikin nyaman saya bisa melakukan hal baru lebih banyak lagi dengannya. Sangat damai, sudah jadi fitrah sang pecinta dalam diam, bisa terlalu bahagia dengan hal-hal norak yang seharusnya dianggap biasa. Senyum yang tidak hanya ditujukan ke saya, misalnya. Ah~ peduli apa, saya hanya suka melihat senyumnya. She’s cute!

Eh.. tadi malam, adegan terkece sepanjang masa juga terjadi. Ceritanya gini, kan tentor kami lagi iseng-iseng “ramal” kepribadian lewat jari tangan. Katanya, mau dikasih tau siapa yang paling jahat sama yang paling baik diliat dari garis tangan –walaupun pada akhirnya, tidak dikasih tau sama sekali :| Nah, tiba-tiba teman laki-laki saya dari Palu (sebut aja namanya Kevin -_-) sok-sokan ngeramal teman yang di sampingnya (cewek, panggil aja Acha) eh, tiba-tiba Kevin malah megang tangan Acha dan saya yang ada di depannya secara refleks langsung bilang “EH. MODUS! JANGAN PEGANG TANGANNYA!!” ga tau kenapa, intonasinya itu kayak orang jealous dan anak-anak sekelas yang lain langsung nyorakin saya sama Kevin, Acha juga. Gua yang menurut gosip, suka sama Acha, rona muka langsung jadi merah. It’s such a funny thing tonight. Seriously!

Oh ya, tadi juga, tentor bilang kalau dia bisa tahu siapa orang yang disuka. Nah, saya langsung takut bukan main. Takutnya, semua terungkap begitu saja. Ah, saya belum siap. Saya masih feel enjoy sebagai pecinta dalam diam. Belum waktunya.

Karena beberapa kali bahas tentang cinta-cintaan di kelas, tentor kami malah bilang kalau DIA SIAP JADI BIRO JODOH. Adflkjhsg something interesting -_- but i don’t need help. Xoxoxo. I can stand on my way, alone... Dan jadilah, malam ini kami adalah malam terheboh kami sebagai kelas terheboh. We’re proud. ‘Cause we are different, it doesn’t matter, guise. No matter you’re from Makassar, Bulukumba, Palu, Luwu, Ambon, Berau, Pinrang, or whatever. We are VVIP-3 students. Laftyuuu! (esp. Geometri)

Lastly, if i’d chance to say a sentence for our class, i just can say that there’s something gone very wrong with our class. Anyways, Tomorrow, let’s make more beautiful night! See ya~

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar