In Geometry Talk

Cinta. Apa benar?




“Mungkin memang ku cinta,mungkin memang ku sesali,
Pernah tak hiraukan rasamu, dulu.
Aku hanya ingkari, kata hatiku saja.
Tapi mengapa, cinta datang terlambat?” – Maudy Ayunda

Sumber

Kali ini saya sedang menatap nanar langit-langit kamar 4 x 3 di rumah.  Semuanya berjalan tiba-tiba, tanpa rencana, dan betul kebetulan. Saya masih gamang tentang semuanya, tentang jawaban untuk satu kalimat tanya yang mendadak muncul di jeda antara selesai tadarrus dengan akan sedang bersiap-siap untuk latihan soal. Sebenarnya, bagaimana perasaan saya dengan geometri?”

Batin ini seakan ikut menyeringai, tiap sudut dalam ranah batin ini pun mengernyit. Ada apa ini? Jelas, mereka sedang memberi isyarat. Saya sedang tidak “tak apa-apa”. Benar saja, firasat ini benar. Saya, nyaris patah untuk ke beberapa kalinya dengan alasan-alasan yang saya sendiri juga kadang kurang begitu tahu. Saya hanya tahu jelas, perkara langit-langit kamar ini. Dia ikut meringis. Dia ingin bebas. Saya mengerti.

Ada dua bulan, saya pernah belajar bareng geometri. Sekarang, sudah dua minggu lebih sejak saya sendiri melepas bayangannya, pulang. Selama itu pula, saya masih dijebak dengan perangkap yang orang-orang sebut dengan “rasa”. Apa benar saya mencintainya, tulus? Atau... saya hanya cukup mengaguminya saja, menyukainya, dan suatu saat semuanya akan kadaluarsa sebagaimana mestinya, seperti saya dengan limit atau kalkulus sebelumnya? Entah. Jawaban itu yang sedang saya cari di langit kamar sejak tadi. I told you, langit-langit kamar juga sepertinya tidak mampu membantu menjawab.

Sejujurnya, saya berharap rasa ini memang cinta. Sejujurnya juga, saya ingin menyayangi dia selamanya. Ah... selamanya? Yakin? Selamanya itu lama banget, kan? Ada yang jamin kalau saya bisa? Ga ada, kan? Jadi, apa saya hanya perlu mengaguminya dalam hening seperti kemarin?

“Kevin... kevin cinta ga sama pacarnya?”
“Cinta, kak.”
“Lebih cinta mana, antara pacarnya dengan orang tuanya?”
“Nggg.... Sekarang ini, sama sih kak.”
“Nah. Itu yang orang bilang cinta sejati.”

Tunggu... langit-langit kamar sedang memberi kode. Seperti proyektor, dia membuat saya mengingat-ingat ulang tentang pertemuan di kelas beberapa minggu yang lalu. Entah jumat, entah sabtu. Kelas fisika. Percakapan tadi, antara tentor kami dengan salah satu teman kami (dengan nama yang disamarkan). Semuanya terekam ulang sampai di bagian “Sejauh mana, kamu bisa menganggap sedang mencintai seseorang?” kami, tanpa disuruh langsung diam, membetulkan posisi duduk, memasang antena setinggi mungkin supaya bisa mendengar lebih jelas. Ga ada yang lebih menyenangkan berbicara tentang cinta, bagi kami, anak kemarin sore.

Kata tentor kami, mencintai seseorang seperti mencintai Tuhan. Saya cinta Tuhan? Batin ini makin penasaran, terus-terusan bertanya. Kali ini, saya tidak mengacuhinya. Tidak perlu dijawab, dia hanya pura-pura tidak tahu. Kembali fokus, ke memori tentang pertemuan beberapa minggu yang lalu. Tuhan menyampaikan firman-Nya (QS.Al Anfal 2-4), "Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” Jadi, benang merah dari tanda-tanda mencintai Tuhan, kata tentor kami : (1) kalau disebut nama Allah, hatinya gemetar; (2) kalau dibacakan firman-Nya, imannya bertambah. Pause.


Sumber
 
Mari saya analogikan antara saya dengan geometri. Menyebut namanya, hati saya benar gemetar. Degup jantung melakukan gerakan tremor seperti sel kanker yang menyebar tidak terkontrol. Tentang semua tulisannya, entah di bukunya yang sempat kubawa, atau pesan singkatnya yang mengalir bersamaan dengan detik yang mengikuti arah rotasi bumi. Saya merasa nyaman dengan semuanya. Saya makin merasakan sesuatu yang ganjil tiap membaca tentangnya. Saya hanya kehabisan kata-kata tentangnya. Jadi... mungkin ini cinta. Apa benar? 

Sumber

Saya masih belum bisa menjawab dengan begitu yakin. Mungkin, memang cinta. Kalau begitu, saya hanya perlu melakukan semuanya lagi dalam sunyi, sepi; mencintai diam-diam. Sejak awal, sejak sebelum saya memutuskan untuk menyukainya, saya tidak pernah mau memiliki. Menjadi teman dekatnya; mengagumi punggungnya dalam diam sudah cukup menyenangkan. Klise. Sudahlah, sejauh ini, yang saya tahu, perasaan tidak pernah bisa disalahkan. Perasaan datang sendiri, tanpa bisa diduga-duga sebelumnya. Kapan perasaan itu bisa muncul, di mana perasaan itu bersemi, dengan siapa kita memiliki rasa, bagaimana, dan seterusnya, tidak bisa kita gapai untuk tahu, terlalu di luar jangkauan. Perasaan datang begitu saja, tanpa alasan.
 

“Mungkin memang cinta....”


Sumber gambar

Related Articles

2 komentar:

  1. Untuk yang ini saya tidak bisa setuju begitu saja, Wal.
    Pernah ka' juga kepikiran tentang ini, saya menyukai seseorang, berusaha mencari tahu apa yang disukainya, menyukai apa yang dia sukai... Tapi, Saya lebih menyukai Allah. Seharusnya saya lebih mencari tahu apa yang Allah sukai. Dan tidak 'menyederajatkan' dengan makhluknya yang saya sukai.
    Saya tidak begitu paham.

    Dan saya tahu ini teori, tapi saya rasa ini benar, "Kita harus menyukai seseorang karena Allah"

    Apa saya salah? Atau salah paham? Maafkan saya.. :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada awalnya, saya juga berpikir begitu. Sampai sekarang pun masih sama.
      Saya cuma bandingkan poin-poinnya, nda rinci sampai bagaimana kadar tiapnya. Memang wajib Tuhan yang paling dicintai:)
      Thanks for remembering me

      Hapus