In Slice of Life

Kasak-kusuk tengah malam


Melewati ½ malam, saya sudah hampir menyerah. Sudah berapa kali saya terus memicingkan mata, saya masih belum bisa nyenyak dalam tidur. Hadap kiri, hadap kanan, telentang, bahkan bersedekap memeluk mesra spring bed tua paman,pun tidak membuat saya mendapat titik yang nyaman untuk bisa menembus dimensi lain dalam kematian temporer. Ah, hanya karena 29 Juli, saya sampai frustasi sendiri dalam sepi.

Sebenarnya, tidak terlalu sepi sih. Meskipun orang-orang di rumah ini sudah lama sibuk dengan dunia dalam lelap tidur masing-masing, tapi ada satu yang tetap setia membunyikan lagunya, jam dinding. Entahlah, dia seakan menyeringai dengan tatapan “Ada apa dengan manusia bodoh ini?”. Betul saja, bunyinya tampak menghina sadis untuk seukuran benda mati dengan ucapan “Awal, kamu terlalu kekanakan di usiamu… sekarang.”

Semuanya bermula sejak 18 tahun yang lalu. Tak begitu banyak yang tahu hari itu, hanya keluarga dekat dan tetangga di kampung, tempat tinggal nenek-tercinta, tersayang sampai sekarang. Katanya, sampai dia mati pun, dia akan tetap di sana. Apa maunya dia sajalah. Asal dia bahagia, saya lebih dari sangat bahagia. Ya, Bulukumba & 29 Juli 1995, kombinasi yang selalu menghias di setiap tanda pengenal milik saya. Kombinasi terindah yang selalu membekas sebagai saksi bisu tentang kelahiran saya. 1995, selalu ada gairah setiap menulis tahun kelahiran saya. Darah yang berdesir, detak jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya tapi tetap masih tidak lebih kencang ketika sedang jatuh hati. 1995, sebenarnya saya tidak terlalu tahu banyak yang terjadi tahun itu, selain nenek saya punya dua cucu laki-laki baru dari putra keempat dan putri kelimanya, saya dan ibu diantaranya.

Kata orang, orang tua saya menikah selama kurang lebih lima tahun tanpa pernah menimang anak sendiri. Itu mungkin sedikit menjawab pertanyaan tentang kenapa saya dianak-emaskan. Sejujurnya saya tidak terlalu peduli, itu hanya dan masih spekulasi beberapa orang yang saya kenal. Entah memang begitu, entah mereka terlalu sok tahu.

Kemudian, tepat dua tahun yang lalu (Selain menulis, yang paling saya sukai juga adalah sejarah. Dunia bisa jadi lebih indah karenanya. Sejarah membuka cerita lama yang akan jadi cerminan untuk menemukan masa depan yang lebih menyenangkan. Saya selalu percaya.), keadaannya hampir sama dengan sekarang. Saya sendiri. Tanpa keluarga. Barulah selepas itu, saya belajar kalau keluarga bukan hanya status yang menandakan ada tidaknya hubungan darah. Mereka, sahabat-sahabat terindah saya, teman diklat pik krr, membukakan arti sejati tentang keluarga, memperdalam makna yang lebih luas tentang keluarga. 

Family is whoever makes you feel at home. Mereka keluarga saya, surpise sederhana mereka, mengerjai saya habis-habisan sampai naik pitam karena benar-benar tidak tahu apa-apa, hingga mereka dengan koor serempak menyanyikan ‘selamat ulang tahun’ bagai anak TK yang baru dapat bubur kacang hijau. Memori indah itu masih harus dikenang. Bagaimana kabar mereka? Saya baru sempat bertemu salah satu dari mereka setelah perpisahan dari pertemuan ekstrasingkat itu, Nasrul Samad. Ah, maafkan saya, bro. Our collaboration project, I couldn’t handle it together.
Tujuh belas tahunan saya, untungnya saya bisa dengan keluarga dalam arti denotasi. Lebih lagi, saya bisa berkumpul dengan teman. Kebetulan juga, sama seperti sekarang, hari itu juga tepat dengan Ramadan. Membatalkan puasa bersama. Norak memang, pertama kali saya kebagian telur ceplok di ujung rambut yang belum cepak, kemeja kotak-kotak biru, celana jeans gombrang. Saya bebas hari itu. Tidak pernah saya merasa lebih bebas seperti saat itu sebelumnya. Saya memang agak ‘dipingit’. Betul bahagia di seremonial sweet seventeen tepat setahun yang lalu. Manis, sangat manis. Kalian yang saat itu datang, apa kabar sekarang? Sudah terlalu lama tidak saling berjumpa.

Hari ini, seperti yang saya bilang tadi-tepat 18 belas tahun saya menghirup bebasnya oksigen, melihat indahnya dunia, mengecap setiap rasa yang mampir di lidah, mendengar bunyi-bunyian yang memenuhi gendang telinga, saya hanya merasa sepi. Tak ada orang tua, tak ada sahabat, hanya bunyi jarum-jarum jam yang saling bertarung bersama putaran waktu yang terus memacu pasti. Setidaknya, saya tidak benar-benar sendiri.

Bagaimanapun, saya benar-benar berterima kasih dengan bapak, dengan ibu. Tidak ada mereka,niscaya tidak ada pula eksistensi saya sebagai titik mahakecil di antara makhluk-makhluk di bimasakti. Sebenarnya saya mau minta uang jajan lebih untuk hari ini, tapi selama di rantau, saya sadar sudah terlalu banyak memangsa pendapatan mereka. Fungsi (fx) Limit mendekati puluhan juta mungkin. Yang bisa saya lakukan hanya terus mengumpati diri sendiri dalam hati, seharusnya saya sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Otak saya yang sudah dipengaruhi paham hedonisme, konsumerisme, materialisme, sayangnya menang telak mengalahkan batin saya yang pekaan.

Tak mengapa, tidak ada peringatan lebay untuk delapan belas tahun. Toh, Islam juga tidak membenarkan untuk terlalu mengagungkan hari milad. Saya hanya perlu bangun, sadar tentang esensi kalau saya sudah harus benar-benar paham siapa saya sebenarnya. Umur memang tidak ada hubungannya dengan kedewasaan. Tapi, umur 18 bukan lagi saatnya untuk sekedar main-main. Visi hidup harus saya jalani dengan konsisten dan serius. Meskipun saya masih tidak tahu apa-apa yang mesti saya jalani. Let it flow, selalu jadi jurus pamungkas. Semoga saja menjadi jalan yang terbaik.



Sumber



Selamat ulang tahun, diriku. Temukan bahagiamu. Jadilah manusia terbaik, manusia yang memegang andil yang positif untuk orang lain. Khairunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Selamat ulang tahun, ka Awal. Saya menunggu ucapan itu. Tak usah ditanya dari siapa. Kalian tahu.

Saya, Awal Hidayat. Pecinta dalam diam dengan beberapa mantan gebetan. Pecinta yang dengan tidak malu baru sekali seumur hidup meneriakkan cinta dan gagal mempertahankan hingga akhir dalam beberapa bulan.

Saya, Awal Hidayat. Sekarang 18 tahun, masih menunggu… Geometri.



Sumber

Related Articles

2 komentar:

  1. Kau tau saya jadi semangat sekali, baca tulisanmu. Saya juga ikut termotivasi, sampai... kalimat terakhir 'khas Awal' yang bikin saya ikut down. Maap.

    (Saya baru lihat tulisanmu ini.)
    Yah..
    "Selamat ulang tahun, ka Awal" #eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah kenapa akhir ini mandeg tulisanku, mungkin kena writer's block hahaha
      Anyways, thankyou qaqa:p #mautongmuda wkwk

      Hapus