In Geometry Talk

Risol- What You Do when You’re in Love


“Awal, nda bosanji makan risol terus?”
Paman saya tiba-tiba membuyarkan konsentrasi melahap nikmatnya risol. Saya memang hijrah ke rumah paman saya untuk sementara. Tiap petang jelang saat berbuka puasa, dia selalu beli takjil di luar. Dan…. Menu andalannya adalah risol.

“Tidak. Saya tidak bosanji. Saya suka, suka sekali.” Saya membatin.
Saya memang sudah terlanjur suka gorengan berbentuk silinder dengan isi-isian yang saya tidak tahu detailnya itu. Saya suka risol. I’ll give you a reason.

Menyukai memang aktivitas menyenangkan.

Tiap gigitan yang saya rasakan ketika membatalkan puasa dengan risol, mungkin saja kelihatan baik-baik saja. Sebenarnya tidak, mungkin itu cerita di kantin SMA dua tahun yang lalu. Tidak sekarang. Tidak lagi, setelah saya menyadari tentang saya menyukai seseorang, Geometri…
Kenapa bisa begitu? Simple. Personally, bagi saya sendiri, kalau kamu mulai menyukai seseorang, one thing yang mungkin bisa kamu lakukan adalah cenderung menyukai juga apa yang dia sukai. Geometri, ada cerita penuh kenangan antara saya, risol, dan dia. We used to ate ‘risol’ at the evening class. Geometri memang sangat suka risol. Saya juga sudah terlanjur suka risol sebelum itu. Tapi makan risol dengan geometri, berasa membelah atmosfir langit ketujuh. Beda. Ada yang beda dengan sebelumnya. Mungkin… karena bersamanya. Melakukan apapun, asal itu bersamanya, semuanya akan ter-auto recorded hingga ke nano-nano second dan waktu sangat berkooperasi dengan saya. Dia sengaja melakukan slower movement. Bersamanya, benar-benar kebahagiaan teragung bagi saya; pecinta dalam diam.

Saat melepasmu pergi jauh
Berakhir dengan luka yang dalam
Sanggupkahku untuk menunggumu
Menunggu sesuatu yang tak pasti
Kembalilah, kembalilah kasih
kembalilah kurindu engkau di sini

Perlahan-lahan kau menghilang
Berlari-lari kau kucari
Terbayang-bayang kaupun datang
Meski ku menerka-nerka
Berlarut-larut kau merajut
Berlarut-larutku merindu
Sampai habis air mataku

Hingga kini ku masih menunggu
Berharap kau akan datang
Meski kutau kau tak pernah mengerti
Apa yang sebenarnya ku mau” – Sampai Habis Air Mataku (Novita Dewi)

Dia pergi. Sudah berapa kali saya mengulang kalimat tunggal dengan dua kata itu. Entah, saya tidak menghitungnya. Yang selalu saya lakukan, saya terus menguatkan hati, menyadarkan setiap indera bahwa dia memang benar-benar pergi…. Mungkin tidak akan kembali lagi. Dia pergi, meninggalkan risol dan setiap kenangan yang siap dikemas rapi di dalam ‘kardus’.



Cadbury. Tidak usah ditanya lagi kenapa saya akan dengan gampang mengingat Geometri karena Cadbury. Cerita tentang tiga bungkus coklat yang mendekam sepi dalam ransel saya. Cerita tentang tiga bungkus coklat yang tersimpan manis selama dua minggu lebih. Tiga bungkus Cadbury yang sampai sekarang tidak pernah sampai ke indra perasa Geometri. Flashback ke salah satu malam minggu bersama teman kelas. Malam itu, sesuai rencana kita hang out ke rumah bernyanyi. Di pintu masuk, tanpa saya pertimbangkan dengan matang, saya masih saja menyimpan bungkusan coklat dalam kado. Dengan tanpa terduga, ransel saya harus digeledah dengan security. Kewajiban dan keharusan calon pelanggan adalah mau tidak mau memerankan peran sebagai ‘korban penggeledahan’. Dia membongkar isi ransel, termasuk kado. Saya ketahuan. Teman-teman saya melihatnya. That’s why, saya mengurung niat untuk memberikannya ke Geometri. Dia jelas sudah tahu dan saya tidak mau ceritanya harus seperti itu. Saya konsisten, as a secret admirer.

Karena geometri juga, mi instan tidak cuma sekedar kayak yang anak kecil bilang di salah satu iklan komersial sim card provider. Tidak cuma  sekedar makanan tiap pagi siang malam kalau tanggal tua. Pun, karena geometri saya merubah what to buy, khusus untuk minuman. Ultra milk pink, sukses menggantikan minuman-minuman saya sebelumnya. Jika sebelumnya, Minute maid : Pulpy Orange karena Limit, Mineral Water karena Trigonometri atau Pocari Sweat karena Kalkulus, sekarang saya jadi tidak berpikir dua kali untuk menyentuh kotak susu uht rasa strawberry itu dari stok penjualan. 

Saya juga pernah membaca, setiap kisah cinta punya lagunya sendiri. Let Me Go Home, by Michael Buble. I don’t know clearly why I love the song so much. Mungkin cerita hari itu. Tentang kami yang saling ‘pergi’. Setiap mp3 player memutar lagu itu, dengan berat saya mengingat tentang saya yang pura-pura pergi dan akhirnya dia yang benar pergi. Too complicated to told. Biar kami sendiri yang tahu. Semoga dia ingat.
Andai juga dia tahu. Sengaja saya sering bangun paling pagi. Apalagi tiap ada midnight, tiap geometri ada. Andai dia tahu, sengaja saya begitu, supaya bisa liat dia diam-diam dalam tidurnya, dalam lelap mimpinya. Andai juga dia tahu, dia benar-benar cantik ketika dia sedang beradu dalam bunga tidurnya. Dia makin cantik saja. Tentang 05.45 yang pernah ada, percakapan di menit itu, dua pasang mata yang saling beradu di suatu pagi. Bahkan pagi itu, sang batara kala juga ikut tersenyum dalam persembunyiannya dibalik awan, malu menyaksikan kami. Entah, kisah romansa pagi itu membuat saya tidak ingin melewatkan 05.45 di hari setelahnya. Selalu indah.

Kenangan-kenangan itu yang terus memaksa saya untuk tetap melakukan pengaharapan. Saya memang bukan tipe laki-laki yang bisa mengendalikan harapan-harapan. Saya terus melakukannya, tidak seperti anggota tata surya mengelilingi bintangnya dalam orbitnya dengan berbanding lurus bersama kala revolusinya. Saya tidak bisa melakukannya seperti itu. Harapan itu yang membuat saya bertahan lebih lama, lagi dan lagi.

If only she knew, every single day I miss her so desperately. If only she knew, I love her to the moon and back. Tapi sebaiknya, memanhg jangan terlalu banyak berandai. Saya hanya tidak mau dia seperti Bruno Mars’ word : Easy come, easy go.
Dan seharusnya, pernyataan ‘Too much good thing is good for nothing’ mesti diragukan kembali. It doesn’t work on us.

“Mungkin benar kata Dwiyana (ICP of Bio UNM 2012), cinta menyihir saya untuk menyukai apa yang seirama dengan kisah antara saya dengan geometri.”

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar