In Campus Slice of Life

Cinta Damai : Blog Contest UNM




Mahasiswa sebagai salah satu elemen penting dalam kesatuan agent of change merupakan hal yang perlu dipertanyakan kembali. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini sering diberitakan mengenai berbagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh mahasiswa dalam lingkungan kampus. Mereka memang bisa mengubah suatu keadaan, tapi keadaan yang dimaksud tidak akan menjadi lebih baik jika tindakan amoral terus saja dilakukan. Salah satu yang paling sering terjadi adalah tawuran antarmahasiswa. Universitas Negeri Makassar (UNM) yang merupakan kampus bagi calon pendidik dan tenaga pendidikan pun telah dibajak sebagai salah satu “lahan subur” untuk menyemai benih-benih tawuran.
Tak dapat dipungkiri, hampir setiap tahun segelintir dari ribuan mahasiswa UNM menjadikan tawuran antarmahasiswa sebagai ritual tahunan yang tidak boleh dilewatkan. Tak perlu kecewa pula, ketika ada orang yang mencap UNM sebagai “kampus pembunuhan” karena tawuran antarmahasiswa yang selalu saja terjadi secara insidental. Memang benar bahwa tawuran antarmahasiswa yang kerap kali terjadi di UNM sudah terlalu sering menelan korban jiwa maupun kerugian materil. Terakhir, pada suatu hari kelabu dengan asap yang mencekam di kampus UNM sektor Parangtambung, Kamis, 11 Oktober 2012 silam. Bentrokan yang diawali dari sebuah kesalahpahaman individual dan berujung pada 2 mahasiswa yang tewas, puluhan lainnya terluka, serta sarana dan prasarana yang rusak. Sebuah ironi, memang.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Berkaca dari peribahasa lama, sudah sepantasnya membuat kita sadar. Ada sesuatu yang tidak beres dan segera harus diperbaiki. Ribuan mahasiswa UNM lainnya, yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan tawuran antarmahasiswa yang terjadi, pun ikut terkena imbasnya. Penghapusan pandangan miring tentang stigma kampus UNM Makassar sebagai kampus pencetak mahasiswa yang hobi tawuran merupakan harga mati.

Beberapa solusi kemudian ditawarkan untuk mengobati mahasiswa yang sedang “sakit parah”. Lebih jauh dari itu, pencegahan sejak dini merupakan sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Tindakan Pencegahan bersifat Edukatif
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah mahasiswa baru kebanyakan merupakan fresh graduate dari sekolah lanjutan tingkat atas. Peralihan antara fase remaja dan fase dewasa yang dialami setiap individu seringkali menimbulkan kegalauan bagi individu tersebut. Disinilah peran lingkungan sangat dibutuhkan, tak terkecuali lingkungan pendidikan.

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau yang lebih dikenal dengan ospek kadang disalahgunakan bagi sebagian mahasiswa lanjutan (senior) sebagai wadah untuk regenerasi mahasiswa yang nantinya akan mengikuti jejak mereka, menjadi pengikut dalam setiap tawuran. Ospek yang kental dengan unsur kekerasan dijadikan dalih untuk melatih mental adalah sebuah hal yang melampaui batas. Apakah tidak ada cara yang lebih baik selain melakukan tindakan fisik yang melanggar hak asasi? Ospek yang dipenuhi dengan kekerasan, pada gilirannya akan membuat mahasiswa terdoktrin bahwa kekerasan adalah cara yang paling tepat untuk mengatasi masalah.

Kampus memang telah melarang segala bentuk kekerasan fisik yang dapat muncul dalam ospek. Pun, kampus telah mengancam setiap pihak yang melanggar ketentuan tersebut dengan sanksi maksimal, drop out bagi mahasiswa. Tapi, tidak ada yang bisa menjamin bahwa semuanya akan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Tidak bermaksud untuk meragukan, hanya saja masih ada beberapa oknum yang memang sudah tidak mempan dengan apapun.

Ospek sebagai salah satu kegiatan perdana yang dilewati mahasiswa seharusnya diisi dengan kegiatan bermanfaat. Untuk mencegah terjadinya tawuran antarmahasiswa, ospek juga harus bertujuan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan kepekaan sosial. Tudang sipulung; zakat, infaq, & sedekah; penghijauan di kampus; dan berbagai kegiatan lainnya yang jauh dari tindakan kekerasan dapat dengan efektif mencegah hal yang tidak diinginkan. Dengan mengikuti kegiatan yang jauh lebih bermanfaat, mahasiswa baru akan lebih sadar tentang pentingnya hidup selaras dengan sesama.

Mahasiswa baru sangat perlu diberikan “ceramah” tentang kejadian buruk yang telah terjadi. Setelah itu, mahasiswa diharapkan akan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran berharga yang tidak boleh terulang di masa depan.

Hal penting lainnya adalah pemberian mata kuliah pada semester awal yang dapat mentransfer nilai-nilai karakter berbudaya santun. Mata kuliah dasar umum seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Ilmu Alamiah Dasar, sangat diharapkan menjadi salah satu cara yang ampuh sebagai pemberi jalan yang lurus bagi mahasiswa semester awal. Di samping itu, efektifitas mata kuliah dasar umum juga masih perlu ditingkatkan. Hal ini bertolak dari masih adanya beberapa program studi yang tidak menggunakan salah satu dari beberapa mata kuliah dasar umum tersebut untuk mata kuliah yang wajib diikuti mahasiswanya. Padahal jika ditelaah lebih dalam, maka dapat ditemukan berbagai sikap berbudaya dan berkarakter yang membentuk mahasiswa setelah mempelajari mata kuliah tersebut. Jelas, sebuah hal yang tidak perlu dipertanyakan jika mahasiswa dari program studi tersebut tidak memiliki pondasi untuk menumbuhkan sikap persaudaraan antarmahasiswa lainnya.

Mahasiswa semester awal sangat perlu diberikan pemahaman tentang kehidupan kampus yang sehat. Tanpa adanya pembekalan sejak dini, maka mahasiswa tersebut akan sangat mudah terpengaruh hal yang merusak. Dengan demikian, sangat diharapkan campur tangan yang “bersih” sejak dini untuk tetap menyucikan jiwa mahasiswa yang dapat dengan mudah dijamah oleh tangan “kotor” yang tidak bertanggung jawab.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar