In Limit Talk Slice of Life

Perkara 2 Bulan


“Ketika bulan sedang melakukan pengabaian, aku  mengumpati diri dalam batin; perlahan membencinya. Sebaliknya, ketika bulan kembali berbaik hati, memberi kode yang mungkin saja salah kutranslasi, aku dengan cepat menyukainya lagi; menumpuk harapan yang makin menggunung.

sumber a - sumber b

Malam ini, saya sedang duduk bersila di pedestrian. 10 pm, saya tidak sedang sendiri. Ada beberapa teman SMA, ada beberapa pasang mahasiswa yang sedang kencan berduaan. Juga, ada 2 bulan. Tak ketinggalan, bunyi jangkrik menambah kesan romansa dalam malam.

2 bulan tidak seharusnya ada, saya hanya perlu satu.
Saya sebenarnya tidak sedang ingin bertemu dengan bulan yang makin cantik tadi malam itu. Bulan yang sudah begitu lama saya tidak jumpai lagi. Ah ternyata, dia memang makin cantik. Dia masih kelihatan meneruskan sinar yang didapat dari pantulan sinar matahari dalam gulita, entah siapa mataharinya. Saya tidak pernah mau tahu tentang statusnya sekarang. Mungkin dia sudah berpacaran lagi.

2 bulan tidak seharusnya ada, saya hanya perlu satu. Konotasi dan denotasi, berpacu dalam mata, menciptakan kenangan terindah tentang satu malam jumat. Perkara 2 bulan, sekitar setahun yang lalu saya mendapatkan momen ini. Terakhir, setahun yang lalu ketika kami sedang reuni kecil-kecilan seperti sekarang. Sebelum kami menuju jalan kami masing-masing meraih mimpi. Setahun yang lalu, ketika saya sedang benar-benar mempersiapkan untuk melepas rasa, merelakan satu bulan yang ada.
Tentang merelakan, apa yang benar dari cara seperti itu? Memiliki saja, saya tidak.

“Sedang sibuk apa sekarang?” dia yang memulai pembicaraan. Saya selalu malu dengannya.
“Anu, cuma urus KRS.” Saya menjawab sekenanya. Tak ada lagi yang bisa dibicarakan. Mulutku kaku untuk banyak bertanya tentangnya. Saya menemui kebuntuan mencari topik percakapan untuk kesekian kali dengan orang yang saya suka. Selalu begitu.

Entah kenapa, malam itu kami lebih banyak diam. Bulan, yang dulunya selalu jadi pemecah kebekuan, terasa hilang malam itu. Dia tidak melakukan tugas penerangannya dengan baik dalam malam yang sepi. Saya dan dia, tidak banyak cerita yang muncul tadi malam.
Ah, seharusnya saya yang banyak bercerita. Saya sudah terlalu merindukannya selama ini.

Saya penasaran tentang kenapa dia jadi agak pendiam malam itu. Saya sibuk menerka-nerka saat itu, saya tidak cukup berani untuk mencari pembenaran langsung darinya. Saya mengira kalau dia sedang ada masalah, atau mungkin dia juga sependapat dengan saya. Ya, tentang saya yang menyembunyikan rasa. Mungkin, dia juga begitu. Entah, saya terlalu banyak berimajinasi sendiri. Tak pasti.

Andai saja dia tahu, masih ada sedikit rasa tersisa di salah satu ranah hati. Andai saja dia tahu, saya takut menatapnya dengan pandangan seperti setahun yang lalu. Andai saja dia tahu, saya mulai menyukainya lagi. Ah, apa-apaan ini? Saya bahkan belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang akhir saya dan geometri.

Bulan, saya menikmati pertemuan tadi malam.
Bulan, apa saya masih bisa melihat lengkung alismu lagi? Apa saya masih boleh mendengar lembut tuturmu nanti?
Apa salah ketika saya kembali mengharap rasa yang dulu tak pernah terlihat?
Tidak, saya tidak sedang ingin bertanya langsung denganmu. Saya hanya menimbang-nimbang, memikirkan sendiri jawabannya. Dan saya terlalu egois untuk keadaan ini.

Aku sepertinya jatuh cinta denganmu lagi. Aku positif kembali tak bisa mengendalikan harapan-harapan tentang kita.

11.23 pm menutup malam antara kami dengan senyum di wajah dan perih di batin. Saya sebenarnya masih ingin bertahan di bawah purnama, menikmati hening bertiga dengan 2 bulan.
Sampai jumpa, saja. Terima kasih mau menemani.

Mungkin 2 bulan bukan hal yang buruk. Aku perlu keduanya.

***

Tuhan, maafkan diri ini...
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya.
Namun, apalah daya ini...
Bila ternyata, sesungguhnya aku terlalu cinta dia.
....
Aku terlalu cinta... dia

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar