In Geometry Talk

Forgetting

Lupa...
Melupa...
Melupakan...


***

Geometri, masih ingat tentangnya?

Ya- seorang gadis oriental pemilik mata cekung beratapkan kelopak ganda, hidung sedikit mancung yang terpahat beberapa milimeter di atas bibir merah memesona, dan dagu menggantung elegan.
Pun, saya masih memujinya sekarang. Saya sempat menyukainya. Saya sempat mengagungkannya. Saya sempat mencinta. Sebuah cinta yang berawal dari pandangan pertama, berawal dari kesan awal yang memberi reaksi kimia yang saya tak mengerti, berawal dari kontak mata yang membuat hormon-hormon cinta ikut aktif tanpa memerlukan katalis, berlanjut dengan tegur sapa perhatian yang selalu menghadirkan resonansi dalam hati, berlanjut dengan saling perhatian yang memberi kesan guncangan kecil dalam batin.

***

Halo, aku Geometri.

Ya- seorang gadis oriental pemilik mata cekung beratapkan kelopak ganda, hidung sedikit mancung yang terpahat beberapa milimeter di atas bibir merah memesona, dan dagu menggantung elegan.
Aku sedang memiliki “hubungan”, meski sedang terpisah pula dengan jarak. Aku sempat disukai. Aku sempat diagungkan. Aku sempat dicintai. Sebuah kenyataan menyedihkan, bukan dengan orang yang sama. 2 laki-laki yang berbeda. Aku menyayangi keduanya. Satu, seorang laki-laki yang sangat nyaman ketika kujadikan bahunya sebagai sandaran. Lainnya, seorang laki-laki yang sempat sangat nyaman kujadikan telinga setia untuk setiap kisahku sendiri.

Kalian mungkin tahu, seorang laki-laki yang menyukaiku dengan betah dalam keheningannya. Aku tahu. Sangat sulit membenarkannya.

***

Sempat? Memang benar, hanya sekedar sempat. Jujur saja, saya sudah terlalu capek menitipkan harapan-harapan dalam diam. Saya juga sudah malas terus membuka kardus kenangan yang pernah kukepak setiap merindu dalam jauh. Lebih lagi, saya sudah terlanjur takut memikir semua kemungkinan buruk yang entah kapan selalu bisa tercipta nyata. Kebencian. Bukankah batas antara cinta dan benci begitu tipis? Bukan. Saya tidak takut mencinta karenanya, saya hanya memang sudah tidak suka. Bosan mungkin. Saya tidak peduli.

Saya pelan-pelan mengikhlaskan, melepaskan setiap jengkal rasa yang pernah tersisa. Geometri, itu bukan masalah kan? Ah, mungkin sekarang saya membencimu. Atau saya membenci saya sendiri yang sempat menyukaimu. Atau mungkin keduanya.


“People forget what they want to forget.” ― Fuyumi Soryo
Dia benar. Saya berhasil.

“If you can't forgive and forget, then pick one and do it ...” ― James Brault
Dan saya mantap memilih opsi forget.

 “You will find that it is necessary to let things go; simply for the reason that they are heavy. So let them go, let go of them. I tie no weights to my ankles.” ― C. JoyBell C.
Saya melepasmu. Saya benar melepasmu.

***

Lupa...
Melupa...
Melupakan...

“Wal, bagaimana caramu lupakan orang yang kau suka?” Ramdan- teman penggila semua hal berbau Jepang (mungkin, sebuah pengecualian untuk video 17+ made in Japan), bertanya tentang tips melupakan. Sedikit bocoran, dia kena karma lho. Xoxo. Salah sendiri, suka PHP anak orang.

Personally, saya cuma cari jeleknya orang itu. Saya lepas semua memori yang baik, sisakan semua yang buruk. Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya.” Dengan ke-sokta-an yang dimilikinya, seorang penggila cinta dalam diam memberikan sedikit clue yang evil.

But hey, it’s his true story. He just did it, and he made it. He successes.

Related Articles

4 komentar:

  1. Yah~ kalau ingat semua jeleknya, nassami jadi ilfeel hahah. Tapi... yah itu mungkin caramu.

    Ramdhan? Jadi, yang diceritakan teman kelasmu itu benar dia sedang suka orang? Ah, sepertinya bukan urusan saya ^^v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha begitulah~
      Ramdhan? Kau nda tau kah? :p

      Hapus
    2. Tidak~
      Banyak sekali dia odo'-odo'nya.. Jadi.. Entah yang mana. (kenapa jadi gosip ini? Hahah)

      Hapus
  2. nice...
    keep do it...
    i like it :):D

    BalasHapus