In Slice of Life

I feel bad



Sekarang, sedang kena musibah. Tentang masalah yang muncul sejak maghrib kemarin. Have you ever lost something precious to you?

Sebelas jam yang lalu
I’m at Jurusan Fisika FMIPA UNM. Check-in di path, sedang menemani Yusran menunggu dosen. Juga, saya sedang menunggu Kalkulus (yang sedang belajar di Lab lt. 3). Tapi kali ini bukan tentang Kalkulus. Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini terkadang memikirkan Kalkulus. Hei, bukan berarti saya kembali menyimpan rasa tentangnya. Saya hanya ingin melihat wajahnya sekilas setelah tidak melihatnya lebih dari setahun. Itu saja, tidak lebih. Bukan masalah besar, kan? Memang bukan itu masalahnya.

Tiga jam sebelumnya
Ramdan, datang menemani saya ke kampus. Yang paling keren dari Ramdan adalah terlalu jarang menolak memberi bantuan ketika diminta, dia memang terlalu baik. Okay, saya kehilangan laptop (sepupu) saya, sejak kemarin. Semuanya berawal dari laptop. Sudah jelas, bukan wajah Kalkulus yang membuat saya mendadak gemetaran tidak karuan. Saya jauh lebih tidak enak dengan wajah sepupu saya yang kesal dengan saya, jauh lebih tidak enak dengan wajah kekecewaan paman saya yang percaya dengan saya. Dan jauh lebih tidak enak lagi dengan wajah orang tua saya yang menimbulkan guratan sesal telah melahirkan putra delapan belas tahun yang lalu. Itu masalahnya.

Sejak saya tinggal sendiri di perantauan (dan tidak merasakan sentuhan hangat kasih sayang dari keluarga dengan dekat), tidak terhitung berapa banyak barang-barang yang sudah saya hilangkan. Belum termasuk kehilangan ballpoint yang memang sudah menjadi trademark tiap pelajar. 


Sumber
Handphone : 2 buah handphone. Pertama, handphone sendiri yang hilang sementara di jalan menuju ke kampus September 2012 lalu. Kedua, handphone adik yang dipinjam karena handphone sendiri yang hilang. Tidak hilang, lebih tepat dicuri di rumah sendiri. Ini gila!

Charger Notebook : Hilang di kampus. Pertengahan tahun 2013 lalu. Saya tidak tahu ketinggalan di bagian mana, mungkin di Perpustakaan. Sampai sekarang saya belum mendapatkannya (dan juga belum beli penggantinya)

Notebook : Yang hilang sejak kemarin. Lebih parahnya, bukan notebook saya. Saya pinjam notebook sepupu, karena mau pakai wi-fi di kampus. Notebook saya tidak bisa. Kemarin, terakhir pakai di Ruang PPG Workshop Matematika FMIPA UNM. Setelah itu? Nobody really knows :(

Sumber

Sekarang, mungkin memang sudah tidak bisa lihat Notebook itu lagi. Satu-satunya cara harus menggantikan. Jeleknya pinjam-meminjam, kalau barangnya hilang jadi tidak enak sendiri. Lagipula, saya harus dapat uangnya dari mana? Minta sama orang tua lagi? Aaaaa~ Saya mungkin memang anak durhaka.

Benar kata Pipi’, kita sudah mahasiswa, sudah dewasa. Sudah bukan saatnya untuk minta uang sama orang tua lagi. Saya “iri” dengan Tawaf yang sudah bisa dapat uang sendiri dengan jadi tentor di salah satu lembaga bimbingan belajar. Padahal, dia sudah dapat beasiswa bidikmisi pula. Dia pasti juga sudah bisa kasih gajinya ke orang tuanya. Saya? Bukannya mengirimkan, hampir tiap pekan dikirimkan uang jajan. Akhir-akhir ini juga banyak pengeluaran: untuk ikut diklat, buku kuliah, beli baju kelas persiapan matriks. Bapak, saya belum bisa apa-apa. :(

Saya terlalu teledor(?) Benar kata sepupu saya yang lain. Saya sudah terlalu sering kehilangan barang-barang di luar batas kewajaran.

Related Articles

3 komentar:

  1. Ini musibah. Intropeksi diri memang harus. Tapi, jangan terlalu seperti ini. This post remind me about my self, yang merasa tidak berguna. Ah, jangan seperti ini.

    (Kalau ada nama ta' di postnya orang, senang juga ya (--,)v )

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai saat ini memang saya belum bisa melakukan banyak hal orang lain. Tahu tidak, mimpi terbesar saya adalah menjadi manusia terbaik. Dan sebaik-sebaiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.

      Hapus
    2. Saya dukung mimpi besarmu \(^.^)/ Itu akan terwujud! Aamiin.

      Hapus