In Calculus Talk

Long time no see?



Shit déjà vu...
Kalian tahu déjà vu?

Sumber

Syllabification: (dé·jà vu)

Pronunciation: /ˌdāZHä ˈvo͞o/

Origin:

early 20th century: French, literally 'already seen'

noun

    a feeling of having already experienced the present situation.

Sumber

***

Tuhan selalu mengerti. Dia mengerti saya, meskipun saya positif tidak mengerti. Kenapa dia (pernah) ada? Seseorang atau sesuatu di Mesjid Ulil Albab UNM Parangtambung. Ada kenangan khusus untuk saya. Ada alasan kenapa saya mendadak beberapa kali memanggil momen-momen tentang Ulil Albab Yeoja. Calculus, maksud saya, salah satu mahasiswi Fisika. Dispersi, Angkatan 2012.

***

September 2012
Beberapa minggu setelah kuliah perdana, lebih cepat dari yang saya perkirakan. Gadis berhijab dengan mata nyaris tertutup sempurna, tidak sayu hanya memang sipit. Alisnya tebal, kulitnya kuning gading. Sebelum bertemu langsung pertama kali di tempat yang menyejukkan jiwa, saya sudah tahu cukup banyak tentangnya. I have told you that I am professional stalker, haven’t I? Dari akun Twitter-nya. Don’t laugh me. Saya suka dengan tingkahnya lewat tulisan-tulisannya yang tak pernah (bisa) lebih dari 140 karakter. Saya suka avatarnya. Saya suka bionya. Saya benar-benar suka, sampai saat saya bertemu langsung, saya suka apa adanya di jejaring sosial selama sekitar setengah tahun. Okay, i am agree with you if you say: It sounds silly! Tapi faktanya, memang begitu yang sedang terjadi.

***

Dia lulus jalur bebas tes di UNM. Sudah saya bilang, saya tahu semua tentangnya lewat akun pribadinya. Entah beruntung atau tidak, saya lulus di UNM belakangan lewat jalur tertulis. Di sini semuanya menjadi selangkah lebih dekat. Mungkin, saya tidak pernah lupa. Suatu malam yang penuh intrik, kemodusan yang saya dalangi sendiri. Modus, saya bertanya tentang bagaimana persiapan kuliah perdana. Mungkin lebih dari belasan tweet yang saling bertukar, lebih dari cukup untuk mengatakan: saya sedang bahagia. 

Sumber
 ***

Satu detik.
Dua detik..
Tiga detik...

Tiga detik waktu yang relatif, tapi kali ini saya yakin berlangsung jauh lebih dari super duper sangat cepat abis gila mampus parah sumpah. Variabel, bukan Dispersi. Saya mengingat perasaan ini. Ketika saya pertama kali bertemu dengan Calculus dan kami melakukan kontak mata di pelataran Mesjid Ulil Albab. Hanya saja, sangat tidak memungkinkan untuk berinteraksi berlebihan dengan lawan jenis untuk tempat suci seperti itu. Seperti sekarang, saya melihat the other Calculus? Ah, saya sudah tidak mau berharap banyak. Saya sedang tidak ingin melakukan aktivitas cinta-cintaan dulu, cinta diam-diam sekali pun!

Tapi... Alis itu, benar alisnya. Mata itu, sama sipitnya. Hidung itu, sama mancungnya. Bibir itu, sama seksinya. Terlalu detail memperhatikan dalam waktu singkat seperti 3 detik, kan? Saya berpikir juga tidak mungkin. Tapi, saya juga mengimani kalau mereka benar-benar mirip. Mereka punya ikatan keluarga? Bisa jadi.

Masalahnya tidak sama seperti beberapa teman angkatan di ICP yang bilang kalau ada yang mirip saya dengan junior di Variabel. Saya menolak, seseorang juga bilang begitu. Memang sangat tidak mirip. Memang berbeda antara Calculus dari Dispersi dan the Other Calculus dari Variabel.

***

"Know that I can't get over you, 'cause everything I see is you
And I don't want no substitute, baby, I swear it's deja vu
Know that I can't get over you, 'cause everything I see is you
And I don't want no substitute, baby, I swear it's deja vu"
Beyonce, Déjà vu 

***

Calculus. Yang pernah saya baca, pelajaran Calculus adalah pintu gerbang menuju pelajaran matematika lainnya yang lebih tinggi. Saya tidak bisa memastikan Calculus dari Dispersi adalah pintu gerbang menuju sesuatu lainnya yang lebih tinggi, apalagi the other Calculus dari Variabel.

Bagaimana pun, the other Calculus tidak berarti begitu banyak untuk saya. Meski sesekali saya sempat melihatnya di Jurusan Matematika, sesekali menoleh ke wajahnya yang makin membuat keyakinan saya bertambah tentang kemiripannya, saya tidak (akan mau) berada di zona mencinta dalam diam. Hanya sekedar memorabilia biasa, imaji empat dimensi yang terulang. Correct me, tidak berlebihan, bukan?

Juga, saya tidak sedang merindu Calculus dan membuat-buat saya memaksa keadaan, memaksa penglihatan mencocok-cocokkan semua kemiripannya. Serius, saya sedang tidak merindu. Sudah lebih dari setengah tahun saya melepas rasa tentang Calculus. Tidak ada lagi yang terjadi sekarang. Pun, akun Twitter-nya yang sekarang tidak lagi begitu aktif tidak membuat saya terus bertengger di profilnya untuk tahu setiap hal baru tentangnya. I’m really out.

But, i’m asking to my self: Calculus, long time no see, right?!

Sumber

Related Articles

1 komentar: