In Slice of Life

Mimpi


Melambung jauh terbang tinggi
Bersama mimpi 
Terlelap dalam lautan emosi 
Setelah aku sadar diri
 Kau tlah jauh pergi 
Tinggalkan mimpi yang tiada bertepi - Anggun.

Sumber
***
Tiga hari belakangan ini, selalu didatangi mimpi yang aneh. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi setelah saya bangun sepagi mungkin, saya kembali mereka-reka bagaimana mimpi saya sebelumnya.

Sumber
 
***
Dua hari yang lalu
Bangun pukul 04.30 am, belum azan subuh dan masih setia memeluk guling di atas pembaringan. Saya mengingat tadi saya ada dalam sebuah ruangan putih segi empat. Tak ada apa-apa. Saya hanya melihat semua putih dalam sebuah ruangan kosong. Kosong, sebelum saya masuk untuk “bersembunyi”. Sendirian. Saya mengingat lagi, itu seperti di rumah saya. Ada perampok yang sedang beraksi dan saya disekap dalam ruangan itu. Ruangan yang saya tidak pernah tahu sebelumnya, tapi saya yakin itu ada di dalam rumah saya. Apa kalian pernah bermimpi dan kalian yakin tentang suatu tempat meski sekalipun tak pernah melihatnya? I did.

***



Kemarin
Bangun kesiangan dan tidak sempat salat subuh. Hari ini libur kuliah. Saya enggan keluar kamar, hanya sanggup menerawang ke langit-langit. Apa yang terjadi tadi? Saya seperti berada di sebuah bandara, mungkin di Changi atau salah satu bandara di Timur Dekat. Pastinya, saya sedang tidak berada di Indonesia. Saya sedang berada di ruang tunggu untuk keberangkatan. Saya ingin “pulang”. Tak lama, ada seorang pria setengah baya menitip tas kantor kulit berwarna hitam pekat pada saya. Saya tak banyak bicara, hanya mengiyakan. Berselang beberapa menit, tampak petugas keamanan bandara menghampiri saya. Tepatnya, tas hitam yang sedang saya pangku. Saya tidak mengerti dan tidak tahu. Bermaksud untuk jaga diri, saya kabur dari tempat duduk saya. Saya mengira-ngira kalau isi tas ini adalah Metamfetamina alias sabu-sabu. Bak memiliki pandangan yang tembus pandang, saya bisa melihat isi dari tas yang sedang saya bawa kabur adalah bungkusan-bungkusan berisi bubuk putih yang jumlahnya lebih dari seratus. Dan yang bisa saya lakukan hanya terus berlari dari polisi yang mengejar dari belakang dan mengumpati diri dalam hati: kenapa harus seperti ini?

***

Hari ini
Bangun pukul 04.09 am. Langsung membangunkan sepupu dan mulai bersiap makan untuk sahur. Sementara itu, saya masih mengingat mimpi saya. Dalam sebuah café yang tampak cozy, dengan dominasi warna kuning keemasan di setiap properti, dan cahaya remang yang menambah kesan damai untuk setiap pengunjungnya, termasuk saya dan pengunjung lain yang semeja dengan saya. You know whom they are? Raisa dan Afgan. Setelah dua hari dengan mimpi yang cukup mengerikan, mendadak hari ini didatangkan mimpi yang meneduhkan. Meskipun saya bukan penggemar berat mereka, tapi mereka cukup menghibur (dalam mimpi). Kalau mimpi bisa di-request dengan mudah, saya lebih berharap sedang di Teater JKT48 sambil menggoyang-goyangkan lightstick, di tengah-tengah pekik riuh wota. Tapi masih tetap bersyukur,  membuat saya tertawa dengan candaan jayus Raisa dan Afgan, ikut terbawa suasana yang sendu karena duet spesial mereka. Saya berpikir semuanya untuk saya. Hanya karena saya.

***

Mimpi dua hari yang lalu hampir dipastikan karena sedang membaca Katarsis (of Anastasia Aemilia) yang memang bercerita tentang penyekapan gadis yang berawal dari perampokan tragis. Kemarin, mungkin karena saya baru saja selesai membaca Koper (of Putra Perdana) yang mengisi salah satu bagian di buku antologi Singgah. Dan Raisa? Mungkin karena sebelum tidur saya menontonnya sedang menyanyikan Bye Bye di salah satu stasiun tv.

Bagaimana caranya tidur bisa mengantarkan kita pada mimpi?
Dari salah satu situs dikatakan bahwa rangsangan dari luar memang mempengaruhi mimpi. Istilah itu disebut Dream Incorporation. Mimpi yang berisikan refleksi dari peristiwa yang saat itu tengah terjadi.

Apa yang dialami dalam mimpi sebenarnya adalah cara otak menerjemahkan alam bawah sadar yang merupakan simbolisasi atas peristiwa real yang terjadi saat kita sadar. Otak sangat kreatif dalam menggali database memori kita. Kadang, otak menggali informasi ingatan kita begitu dalamnya sampai kadang-kadang kita takjub atas mimpi aneh kita sendiri.

Ah ya, faktanya kita bisa mengendalikan atau mengontrol mimpi yang dialami asal pada kondisi lucid dream. Lucid dream adalah kondisi saat seseorang sadar bahwa dia sedang bermimpi. Dengan lucid dream, kita bisa menjadi kreator dan pemeran utama dari sebuah mimpi yang bersifat infinity. Tidak perlu ilmu khusus atau kekuatan supranatural untuk melakukannya, karena semuanya murni: science dan logis.

Dalam tidur, ada dua tahap. Tidur dengan gerak mata cepat (rapid eye movement) yang sering dikenal dengan istilah tidur REM. Yang lainnya adalah tidur non-REM. Tentang mimpi aneh sejak dua hari yang lalu, mungkin saya dibangunkan dari tidur REM yang memang memiliki probabilitas mengingat mimpi hingga 80-85 %. Berbeda dengan tidur non-REM yang hanya sebesar 7%.

Related Articles

4 komentar:

  1. jahahah mimpi mu yang hari ini, bikin saya ketawa. "Kalau mimpi bisa di-request dengan mudah, saya lebih berharap sedang di Teater JKT48 sambil menggoyang-goyangkan lightstick, di tengah-tengah pekik riuh wota. " Hahah

    Eh, iya tadi saya mimpi dalam kondisi lucid dream yeahh! (Ini baru bangun (--,)v ) Rasanya memang seperti kita yang mengatur mimpi~
    Di dalam mimpi orang yans saya sukai mengatakan, "Hey, bro. Ku mimpikan ko semalam lagi potong rambut." Itu cukup aneh. Hahah

    BalasHapus
  2. Itu buku-buku yang mu baca kayak keren. =.=
    Ajak-ajak ka' juga kalau transaksi buku ko sama Tami..

    BalasHapus
  3. Ayomi, bicara biasa saja. Minta referensi bacaan ;)

    BalasHapus
  4. Sering ja' sapa-sapa Tami~~ pernah ja' juga pinjam buku ke dia. Ka kalian berdua kayak asik sekali yohohoh

    BalasHapus