In Slice of Life

Eight years ago...


Suara saya serak. Kenapa? Tadi sore saya menjadi penyorak tim voli uno-sebutan tim olahraga kelas ICP Matematika 2012. Meskipun teriakan saya tidak seheboh Pipi’ atau teman yang lain, tapi lumayan bisa bikin suara saya jadi parau malam ini.
Di jurusan memang sedang ada Matriks (Matematika Rileks). Idealnya, mahasiswa matematika memang tidak selalu melulu disuguhkan dengan angka-angka yang jika digabungkan bisa membentuk matriks n x n memusingkan. Mahasiswa matematika perlu rileks, salah satunya dengan “matriks”: event olahraga se-jurusan.
Dengan suatu alasan, saya justru tidak terlalu suka.


***

Saya masih ingat...
Kejadiannya kurang lebih delapan tahun yang lalu. Waktu istrahat, saya sedang di lapangan penuh rumput hijau sekolah. Sepak bola, saya sebagai bek. Semuanya baik-baik saja, semuanya terkendali, sampai bola keras dari tendangan yang saya lupa milik siapa tepat mengenai dada saya. Untuk beberapa saat, saya bergeming tak bereaksi. Saat berikutnya, saya ambruk dan sempat melihat beberapa teman berlarian menuju tempat saya. Setelah itu, saya kurang tahu yang terjadi sampai saya menyadari perubahan lapangan bebas menjadi ruang guru yang sumpek.

Kejadian delapan tahun lalu yang selalu menjadi pendorong saya untuk tidak (mau) memegang bola. Sejak kejadian itu, saya memang berniat dalam hati untuk tidak memainkan bola kecuali jam pelajaran penjaskes. Bukan hal yang mengherankan kalau setiap penerimaan rapor, bapak saya terus-terusan mencibir tentang nilai penjaskes yang paling rendah. Kalau biasanya teman laki-laki saya membanggakan nilai penjaskes yang menjadi nilai kulminasi di rapor, saya tidak bisa demikian.

Kejadian delapan tahun lalu yang membuat saya tidak mengacuhi ajakan teman kelas ICP untuk ikut main futsal beberapa waktu yang lalu. Pun, untuk matriks, trauma yang masih membekas dari delapan tahun yang lalu membuat saya tidak ikut berpartisipasi sedetik pun. Paling hebat, seperti tadi, menjadi “cheer” untuk teman yang sedang main voli atas nama kehormatan kelas, menepuk-nepukkan botol bekas yang diisi batu untuk meramaikan suasana.

Kejadian delapan tahun lalu yang memilukan, memalukan. Kejadian delapan tahun lalu yang terlalu saya sikapi dengan berlebihan.

***

Seseorang pernah berkata: laki-laki itu harus tahu main futsal.
Please, jangan kotakkan laki-laki dalam keadaan seperti itu.
Saya, laki-laki, lebih nyaman menjadi penonton tenang sepanjang pertandingan daripada harus ikutan memperebutkan objek yang berotasi, menendangnya menjadikan game.

Seseorang pernah berkata: laki-laki itu tontonannya genre action.
Please, jangan pernah kotakkan laki-laki dalam keadaan seperti itu.
Saya, laki-laki, lebih suka menonton adegan dramatis yang membuat pendarahan batin. Tidak begitu suka dengan darah yang benar-benar keluar dari pertengkaran riil yang hebat.

Seseorang pernah berkata: laki-laki itu berpikir pakai logika.
Please, jangan kotakkan juga laki-laki dalam keadaan seperti itu.
Saya, laki-laki, lebih sering memakai perasaan dan firasat dalam menimbang suatu perkara. Tidak lebih sedikit dengan logika.

***

Saya laki-laki bukan karena siapa. Saya laki-laki dengan cara saya sendiri.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar