In Slice of Life

Fita, Gomennasai.



Fita, ごめんなさい...

***

Sumber


What happened today?
Entah bodoh, entah sedang sial, saya melakukan kesalahan lagi. Ba’da zuhur, perut memberi sugesti untuk minta diisi. Mas memet, saya berniat makan di sana. Belum sampai di warungnya, saya justru berhenti tepat di depan gerbang kompleks pe-warung-an.


Ada Fita. Ada teman-teman kelas yang lain. Lama berbicara, tentang saya mengajak mereka untuk makan dan kebetulan mereka baru saja selesai. Banyak lagi cerita yang lain: tentang berat badan yang variatif, tentang batagor depan halte yang lama tak dicicip, tentang celana bahan “A” yang robek dan minta dijahitkan, tentang cerita absurd lainnya yang (mungkin) penting.

Dan... saya melihat banyak kotoran di kerudung hitam Fita. Niatnya, saya cuma mau sedikit membersihkannya. Tidak sengaja, saya menepuk terlalu keras dan lama-lama saya meneruskan. Saat itu, saya cuma bercanda tapi Fita mungkin sudah merasa risih. Fita diam, tidak bereaksi untuk beberapa saat, bergeming untuk sekian detik. Saya masih terus menepuk-nepuk kepalanya yang halus tidak-keras bukan. Terlalu lama, dia seperti sudah terlalu merasa risih dan dia setengah berlari menjauh ke kamar kos Nisa.

Saya mengira dia bercanda saat itu. Saya setengah berteriak dan hanya mendapatkan pengabaian. Saya egois, tidak mengejar malah kembali ke tujuan sejak awal: Mas Memet.

Sumber

***

Fita- saya mesti memberi tahu siapa dia? Fita, bukan untuk me-“manis-manis”-kan keadaan, dia teman yang baik. Mungkin bukan begitu, dia teman yang sangat baik. Saya masih ingat dengan jelas pertama kali bertemu dengan dia, di depan Aula MP FMIPA. Lucu sekali! Sedang bersiap untuk memulai Day-2 PMB Jurusan Matematika, saya dan Ayu mulai akrab, membicarakan tentang wanita yang sehari sebelumnya “curhat” via short message perihal kewajiban berhijab bagi mahasiswa muslimah. The funny thing is, kami membicarakan wanita itu di depannya yang kami memang belum tahu sama sekali ciri-cirinya. Dengan suaranya yang terdengar kesal: siapa itu yang sebut-sebut namaku? Skakmat, kami speechless.

Kesan pertama yang buruk dengan tanpa alasan mengantarkan ke hubungan yang tidak buruk. Fita dan Ayu, sekarang sudah bisa dibilang teman dekat. Saya dengannya? Sebelum hari ini, Fita sering bilang: I’ll never let you alone. Untuk beberapa kali, dia bahkan berperan sebagai ibu yang memberi tahu anaknya untuk makan teratur. Saya percaya dengan kata-katanya, dia bisa dipercaya. Masalahnya, saya selalu menjadi teman yang buruk. Dia tidak suka.

***

Sampai sekarang, tidak ada kalimat yang lebih pantas untuk dikatakan selain: Fita, Gomennasai.

 

21.11
Sambil menyeruput segelas kopi kegemaran Fita
“Digerayangi” nyamuk-nyamuk nakal
Dititipkan di warkop Cappo, ditinggal teman yang ikut rapat LPJ BINOM

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar