In Campus Slice of Life

How I start being journalist


Nyalimu ciut? Tidak tahan? Begituji? Apaji?
Cemen ta?! Kasihan ta?!
Jadi, mau ko bagaimana lagi?

***

Melirik jam digital di ponsel. Mata mengirim rangsangan ke otak, memberi kabar tentang waktu yang menunjukkan pukul 03.38. Dini hari. Menguap, menengok ke atas, menengadah, terantuk. Langit dini hari yang meneduhkan. Tanpa purnama atau paling tidak bulan sabit, hanya bintang-bintang yang menempatkan diri di posisinya membentuk kumpulan rasi yang selalu ada untuk Oktober, lainnya gelap.

Saya sedang di depan rumah adat Kab. Sinjai, Kompleks Rumah Adat Kab/Kota se-Sulsel, Benteng Somba Opu. Menuju pos pertama, sambil berjalan kodok dengan ritme cepat bak dikejar ular yang berniat memangsa hidup-hidup. Terakhir melakukan hal memalukan seperti ini ketika masih menjabat sebagai peserta didik Taman Kanak-Kanak tahun 2000 lalu. Seakan belum cukup, kembali dipaksa untuk merayap di selokan penuh lumpur. Gila.

Di pos pertama, penuh dengan teriakan sarkastik senior. Berbicara tepat di depan telinga, pura-pura tak tahu kalau gendang telinga bisa kapan saja pecah. Tamparan demi tamparan mendarat sempurna di pipi. Saya sama sekali tidak tahu gunanya. Memaksa “junior” untuk ikut meneriakkan dengan lantang: tabe’ senior!
Apa memang seperti ini untuk menjadi jurnalis?

Hei, sayangnya cerita-cerita pengkaderan yang terkesan kasar itu hanya sempat melintas di benak saya. Ilusi semata, penuh fiktif, pembohongan publik. Tuhan telah berencana untuk hanya memperdengarkan kepada saya secara langsung mengenai proses perekrutan anggota organda dari salah satu daerah di bagian timur Indonesia. Senior mereka dengan tanpa peri kemanusiaan melakukan tindakan seperti binatang jalang. Bukan urusan saya.

Lalu bagaimana dengan Diklat Jurnalistik Mahasiswa Tingkat Dasar (DJMTD) 2013 LPPM Profesi UNM?

Mari saya ceritakan...
Pukul 05.24, selesai di pos terakhir. Mendengarkan materi tentang kestrukturan tiap divisi di LPPM Profesi. Menarik. Langit sudah tak begitu gelap. Perlahan, semburat awan putih menggantung di langit. Menahan bintang-bintang kecil untuk pergi. Meskipun pada akhirnya, bintang-bintang kecil tergantikan dengan bintang yang lebih besar.  Matahari terbit memberi isyarat tentang waktu fajar. Indah, tidur telentang dengan beberapa teman di atas lereng bersemen yang membentuk sudut tumpul dengan jalanan ber-paving block. Indah, menyaksikan pergantian objek langit di waktu subuh.

***

Bila merentangkan tangan
Disana masa depan
Jangan menyerah untuk
Yang tidak tercapai

Batu yang t'lah dilemparkan
Mengabulkan impian
Suara jatuhnya pun tak kan terdengar

Di dalam hatimu juga
Ada sungai mengalir
Cobaan, sungai deras yg pedih
Walau tak berjalan baik
Walau terkadang tenggelam

Tak apa mengulang lagi
Dan janganlah menyerah
Disana pasti ada tepian
Suatu saat kau pasti akan sampai

Get over it!
River!! - JKT48

***

Sebelumnya, saya dan teman kelompok straight mempresentasikan buletin kami: supremasi. The bad news is, pada akhirnya buletin kami dibredel. Oh-Tuhan! Kumpulan berita yang kami cetak dengan waktu super terbatas harus dibuang begitu saja, tak berharga. I’m frustrating! Buletin saya ditolak! 

I have done my best. Seriously, i have! Saya hanya tidak tahu, melakukan yang terbaik terkadang belum cukup. Seperti saat ini, seharusnya melakukan sedikit lebih baik lagi. layout yang perlu sedikit ditata, berita yang perlu sedikit dilengkapi, foto yang perlu sedikit dipermak, dan beberapa koreksi lainnya. Saya berharap bisa melakukan ulang. The bad news is, pada akhirnya buletin kami memang tetap dibredel.

Tapi, ini sama sekali tidak menjadi akhir. I am not the one who easily give up. Sure you right, hanya sebuah kerikil kecil sebelum batu raksasa menghadang.

***

Andhika Mappasomba. Pernah dengar nama dia? Paling tidak, tahu sesuatu tentangnya? Tahu kalau dia sekampung dengan saya, Bulukumba?

I ever. Awal tahun ajaran baru di penghujung masa putih-biru, saya sempat membaca bukunya: Ingin Kukencingi Mulut Monalisa yang Tersenyum. Buku kumpulan cerpen dan puisinya. Saat itu, saya tidak terlalu mengerti dengan bahasa vulgarnya. Saya tidak mau mendalami ceritanya, terlalu dewasa untuk pikiran saya yang masih putih polos.

Andhika menjadi salah satu pemateri di DJMTD 2013. Ah, topiknya tentang Menulis Narasi. Jujur saja, saya paling menikmati materi ini. Tak terhitung berapa kali saya senyum malu-malu mendengarkan ceritanya. Andhika Mappasomba yang telah bermetamorfosis menjadi Andhika daeng Mamangka, pemateri yang paling saya tunggu-tunggu di DJMTD. Pun, untuk menjelaskan materi diklat, dia bertutur dengan majasnya yang khas. Indah! Saya kagum dengan spontanitasnya dalam bernarasi langsung.

Tak hanya Andhika, saya juga sangat suka dengan Abdul Rahman dan Fitriani Rahman. Yang saya sukai dari Abdul Rahman, dia adalah pemateri “Mencari dan Menulis Berita”. Banyak tips keren yang dia ungkapan, juga dengan kata bijak yang dia ucapkan. Keren! Dengan Fitriani Rahman, seorang penyiar senior dari Radio RRI Makassar. Bahkan dengan keadaan perutnya yang sedang mengandung bayi, dia profesional bercerita tentang kiat menjadi seorang penyiar. Suaranya cantik, seksi!

Ah-ya, saya juga ketemu dengan Asia Ramli Prapanca. Alumni LPPM Profesi, angkatan pertama. Penyair yang tidak kalah hebat dengan Andhika Mappasomba. “Sukmaku di Tanah Makassar”, syair gubahannya dibawakan dengan pembawaan yang asyik. Suaranya keren, meskipun dia mengaku sudah lupa banyak tentang syairnya sendiri. Hal yang tidak terlalu mengherankan karena dia sudah cukup “tua”.

***

Kalau cintaku tidak sampai padamu
Di atas keranda, telah kusiapkan kain kafan
Kemarin kubeli dengan nuraniku

Di belakang rumah
Ada sepetak tanah warisan nenek moyangku
Kubur... kubur aku di sana
Kelak bakal tumbuh sebatang pohon
Tanpa nama, tanpa ujung pangkal

Pintaku, sebut dia jati cinta. – Asia Ramli Prapanca

Saya suka filosofi yang diceritakannya. Katanya, jati cinta merujuk kepada cinta sejati.

***

Kenapa kau usir kaum Syiah di Sampang?
Kenapa kau bakar mesjid-mesjid Ahmadiyah?
Kenapa tak kau bakar orang Tolotang di Sidrap?
Kenapa tak kau bakar sub-etnis Kajang di Bulukumba?
Kenapa tak kau bakar saja api cinta di dadaku? – Andhika daeng Mamangka

Ada sedikit ketidak setujuan dari saya, tapi baris terakhir benar-benar menginspirasi. Itu saja!

***

Yang mungkin akan selalu teringat dari DJMTD adalah kunjungan media. Graha Pena Fajar, Studio Sun TV, Stasiun Radio Venus, dan... Nusantara. Uhm, yang terakhir adalah yang paling membekas. Pertama kali berkunjung ke lokasi lokalisasi dalam waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan berita. Wow, unbelieveable! Adrenalin yang terus ditantang untuk tetap berani, mencoba mengumpulkan tiap keyakinan untuk mendapatkan cerita, membuang jauh pikiran buruk. Sebuah kehebatan, di sini saya menemukan sosok yang membuka dunia saya tentang Nusantara. 

Jarot, remaja yang berasal dari lingkungan broken home  dan mencoba mengais rejeki di daerah Nusantara. Dengan usia yang masih muda, Jarot tetap bersemangat dengan kehidupan sehari-harinya. Setiap malam Jarot melakukan tugas sebagai tukang parkir sukarela di Lips Karaoke. Kehidupan jalanan telah mendidik Jarot secara tidak langsung untuk hidup mandiri. Pun, dengan kehidupan keras yang dialami Jarot tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk tetap melanjutkan hidupnya. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dia selalu menikmati setiap pekerjaan yang digelutinya yang bisa bermanfaat bagi orang lain di sekitarnya. Saya suka dengan kata-katanya: Ini toh jalanan sudah jadi saudara. Saya bisa ji tidur di mana saja asalkan tempat itu bersih ji.
 
***

LPPM Profesi UNM. Saya selesai mengikuti DJMTD, salah satu rangkaian untuk menjadi peserta magang di LPPM Profesi UNM.
And the final question is, bertahan atau (di)keluar(kan)?

Sumber

Sumber

Sumber

Sumber


Sumber


Related Articles

4 komentar:

  1. Bagus, tingkatkan... tapi tulisannya masih kurang lengkap deh... waktu pembahasan tentang pengkaderan itu sepertinya gak full story deh... langsung endingnya aja yang ada... Hheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe kita mi yang lengkapkan, kak. Sudah speechless sekalia mi ^^
      Anyways, thank you untuk semua panitia DJMTD 2013 :)

      Hapus
  2. DJMT itu diklat dasar jurnalistik mahasiswa, bukan menengah
    tapi bagus kokcmn mashh mau diperbaiki sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okay, thanks koreksinya. Maklum ditulis dalam keadaan setengah sadar.

      Hapus