In Slice of Life

Kosong



22 Oktober 13. Saya sedang di KFC Mal Panakkukang. Sebelumnya, untuk pertama kali saya bergegas ke rak bagian psikologi umum Gramedia. Bukan rak best seller, bukan rak fiksi-roman, bukan buku pelajaran sekolah. Niatnya, saya ingin mencari buku literatur untuk keperluan penyusunan PKM, sekalian dengan panduan public speaking dan jurnalistik. Pada akhirnya, yang saya beli: buku tentang passion, kumpulan cerpen, curhatan jurnalis, dan buku kuliah pemodelan matematika. Hampir berkebalikan dengan rencana awal.

***

Sumber

Di ujung pandangan, meja pertama dekat pintu masuk sekaligus keluar untuk setiap pengunjung KFC, seorang gadis berhijab sedang sendirian menikmati makanan sambil sesekali merenung, sesekali menganga dengan tatapan: di-mana-lelakiku? Mungkin, dia sedang menunggu jodohnya, menunggu lelakinya menemani menghabiskan makanan atau sekedar membersihkan bibirnya yang kacau dengan chili sauce.

Di belakang meja gadis itu, tampak meja yang berhiaskan santapan besar milik keluarga kecil: ayah, ibu, anak. Hanyut dalam keheningan yang mereka ciptakan, menyantap makanan dengan pelan. Di belakangnya, seorang ayah dengan anak laki-laki balita, yang seakan merindu istri dan ibu mereka. Di belakangnya lagi, di samping kanan saya, sepasang kekasih berkulit kuning dengan mata sipit-oriental, sedang bergegas meninggalkan meja makan kemudian disambut cleaning service yang ingin merapikan meja.  

Meja di depan saya, kosong.
Meja di belakang, kosong.
Meja di samping kiri, kosong.
Sama seperti kursi-kursi di meja saya.
Kosong.
Sama seperti organ-tak-kasatmata yang orang-orang secara konsensus menyebutnya “hati”.
Kosong.

Sumber

Perempuan berhijab itu mungkin sama kasihannya dengan saya. Keluarga kecil itu sudah pasti bahagia dengan kepemilikannya. Ayah dan anak laki-lakinya itu beruntung masih bisa saling ada untuk mengisi ‘kosong’. Pasangan “cina” itu sumpah bikin iri. Loh, Cina?

Dengan desahan panjang yang saya sengaja untuk nyaris tak terdengar sampai ke telinga orang terdekat, ah, saya menarik ransel kuliah, mengedarkan pandangan dan menuju pintu keluar. Mantap, dengan takzim saya mantapkan dalam hati: di luar, ada yang sedang menungguku. di luar, saya tak sendiri.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar