In Calculus Talk

Last two days...



Kalkulus. Kali ini tentang kalkulus. Tentang dia yang pernah saya kagumi. Tentang dia yang entah kenapa membuat saya gampang melupa kepergian geometri sebelumnya. Tentang dia yang akhir-akhir ini selalu hadir kembali.

Sumber

***

24 Oktober 2013
Saya menemukannya. Tidak peduli saya melihatnya di mana, yang perlu diketahui adalah saya menemukannya di Parangtambung setelah meliput berita di Tidung. Bertemu, Saya setengah menganggukkan kepala. Dia memicingkan mata sipitnya. Kami tersenyum.

Sesingkat itu. Tidak lebih dari 10 detik dan semuanya selesai. Kurang dari 10 detik, imaji taman sakura sudah menghilang menyisakan pohon ketapang kampus. Kurang dari 10 detik, suara angin sepoi menyejukkan berubah menjadi bunyi gerimis hujan yang memantul. Kurang dari 10 detik, Kalkulus berlalu-saya tak berhenti menarik simpul di bibir. Saya suka momen seperti sekarang.

Sumber
25 Oktober 2013
Saya sedang mencoba membetulkan ikat sepatu di teras Mesjid Ulil Albab UNM Parangtambung. Kembali, saya menemukannya. Kalkulus sedang keluar dari pekarangan Mesjid. Ah, dia juga baru saja selesai salat Asar.

Mungkinkah lorong waktu benar-benar ada? Hanya saja, saya merasa pernah seperti ini. Ah-ya! Setahun lalu, saya pertama kali bertemu dengan kalkulus-yang sebelumnya saya sebut: ulil albab yeoja, di sini, Mesjid.

Alis tebal, mata sipit, tak ada yang berubah darinya. Sesegera mungkin, tanpa banyak gerakan, saya membetulkan tali sepatu dengan sebisanya. Pun, saya lebih memilih memasang jam tangan cokelat-pemberian paman-tiga tahun yang lalu sambil berjalan setengah berlari. Saya mau cepat, mengejar kalkulus.

Sayang, sekali lagi sang “pemendam rasa” tak pernah bisa mencoba lebih berani. Saya lebih memilih berjalan dari belakang, menatap kerudung merah muda yang sebagian melapisi kemeja motif polkadot menutupi punggungnya. Saya terlanjur menikmati rasa deg-degan sendirian. Bukan. Saya tidak berani bilang kalau deg-degan, sebagai indikator saya kembali menyukai kalkulus. Saya hanya merasa plasma darah yang bergerak tak terkendali dalam arteri-vena karena takut ketahuan. Itu saja. Dan itu cukup membuat saya kembali tak malu-malu menarik simpul lebih lebar di bibir sambil berjalan menuju gedung jurusan.

***

Sumber

Sekarang, saya tidak lagi percaya dengan 'kebetulan'. Selama dua pekan terakhir, saya menunggu kebetulan untuk bertemu lagi dengan kalkulus. Saya punya Tuhan, saya mengimani takdir yang dibuatNya, bukan kebetulan. Tentang pertemuan kemarin dan tadi sore: saya tidak kebetulan bertemu dengan 'dia'. Tuhan menentukannya. 

Life is not about coincidence. Life is about your destiny; from God.

Related Articles

4 komentar:

  1. Saya sendiri tak pernah percaya pada kebetulan, sebagaimana percayanya saya pada keajaiban...

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sepakat, kak. memang tidak ada yang kebetulan, selama ini saya selalu salah memaknai keajaiban yang Tuhan berikan.

      Hapus
  2. Ah, baru saja seminggu yang lalu kau menetapkan hatimu sedang kosong~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh salah interpretasi. Sedang kosongja memang, tentang kalkulus nda bisa ka jelaskan. -_-"
      Nda ku suka mi, tapi kusuka kalau tiba-tiba kuliatki #apadeh

      Hapus