In Slice of Life

People change

Dari "rumah nalar” untuk suatu keperluan, tadi malam langsung ke rumah zul’k dengan masih seragam kebesaran senin-kamis Jurusan Matematika UNM: putih-hitam.

Tadi malam baru saja reuni kecil dengan beberapa teman SMA dari salah satu kelas. Bukan kelas saya, sejak lulus saya memang cenderung lebih dekat dengan teman dari kelas-kelas lain. Sempat ada konflik karena kekurang dewasaan saya sebelumnya. 

Saya banyak belajar dari teman-teman tadi malam. Banyak cerita yang kami ulas bersama, termasuk “kajian” lelaki yang bikin ketawa-ketawa “lugu”. Sempat juga dengan tidak sengaja cerita tentang "bulan". Lama tidak ketemu dengan dia, saya mendadak menitip pesan rindu ke belasan bintang tadi malam.

Saya banyak belajar dari teman-teman tadi malam, bahwa orang-orang berubah: people change.

Sumber

***

Yang paling mencolok mungkin adalah penampilan fisik, apa lagi rambut. Semua teman laki-laki sudah gondrong. Mungkin karena sekarang sudah tidak ada guru BK yang bisa kapan saja memangkas acak rambut yang lebih dari 2 cm seperti SMA dulu. Salah satu teman, Akram, bahkan sudah seperti Lee Min Ho (rambutnya!).

Foto : Khaerun
 
Khaerun makin tinggi, padahal awal masuk SMA dia masih sependek saya. Dia terlalu bertumbuh cepat. Saya tertinggal. Khaerun juga mulai berubah secara personal. Kalau dulunya dia ceplas-ceplos, tadi malam dia jadi lebih kalem. Dia hanya bicara kalau memang untuk sesuatu yang perlu. Saya tidak tahu, itu keren. Yang paling keren adalah Khaerun berhenti merokok. Saya tidak bermaksud bilang kalau merokok berarti tidak keren. I mean, stopping smoke permanently is cool.

Zul juga sudah menjadi lebih dewasa. Baru datang, dia sudah berdebat dengan Dedi untuk sesuatu yang saya kurang mengerti. Bahasanya jadi lebih “keaktivis-aktivisan”. Berulang kali, Zul bilang: hidup adalah pilihan dan beberapa mantra bijak lainnya.

Dedi juga makin seru. Dia selalu melucu. Bahkan untuk sesuatu yang tidak lucu sekalipun.

Akram makin polos. Mungkin yang paling suka di-bully tadi malam. Tentang, isu “pacaran”-nya dengan salah satu junior SMA bikin dia suka salah tingkah.

Arham makin “besar”. Tadi malam, dia bahkan dipanggil “senior” dari teman-teman lain.

Foto : Puput

Eni juga makin manis. Juga, Eni masih sehangat dulu. 

Puput, saya tidak tahu kalau dia berubah menjadi tipikal suka ngambek atau memang sudah menjadi trademark-nya sejak dulu. Sebelum reuni, dia sempat bikin acara ngambek-ngambekan karena sesuatu yang bikin dia mengaku gerah batin.

Santi, dia juga sudah setingkat lebih tidak kalem. Suaranya memang masih sepelan dan selembut dulu. Tapi, dia jadi lebih suka bicara tadi malam.

***

Foto : Arham

Saya banyak belajar dari teman-teman tadi malam, bahwa orang-orang berubah: people change.
.....
Setiap orang berubah, (mungkin) kecuali saya. Saya tidak tahu apa yang sudah berubah dari saya. 

Suatu waktu yang lalu, sehabis kuliah saya ke lapangan Jurusan Matematika dengan langkah gontai. Kak Anti, senior ICP 2011, langsung menegur cara jalan saya: Awal, kau jalan kayak anak SD saja! Saya tidak tahu apa yang salah dari gaya berjalan saya. Seriously! Di lain waktu, Dian, teman ICP 2012, nyaris tak pernah absen menegur setiap saya duduk dengan bertopang dagu atau menempelkan sebelah pipi di atas meja. “Kayak anak kecilko kalau begitu!” katanya.

Setiap orang berubah, memang menjadi fitrah manusia. Umur memang tidak menjamin kedewasaan. Pertambahan umur adalah sesuatu yang pasti, tapi kedewasaan adalah pilihan. Seperti kata Zul tadi malam tentang hidup adalah pilihan: (mungkin) saya belum memilih untuk menjadi lebih dewasa. Untuk mau dewasa belum cukup.
.....
I’m eighteen. Saya masih anak-anak.

Related Articles

7 komentar:

  1. I'm seventeen, saya juga masih anak2.

    BalasHapus
  2. Tulisanmu jadi tambah bagus :'D
    Walaupun saya tidak tahu teman-temanmu, ada haru yang muncul saat baca tulisanmu ini.
    Oh, iya. Saya pernah bikin "deskripsi" tentangmu, Wal~ juga termasuk tingkah dan cara jalanmu. Tapi, justru itu yang bikin kamu beda dari yang lain.^^v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, saya penasaran dengan deskripsimu tentang saya :D

      Hapus
  3. Saya beda. Bagi saya, kedewasaan bukan pilihan. Karena setiap orang pasti akan menapakinya, dan sudah digariskan seperti itu. Sisanya, kita tinggal menanti kapan waktu yang tepat bagi Tuhan untuk menganugerahkan kedewasaan itu pada kita. Tentu saja, pada waktu yang dirasa-Nya tepat.
    Numpang deh kalau gitu: http://nulislepas.blogspot.com/2012/07/menjadi-dewasa-sudah-pasti.html ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Difference makes perfect. :)
      Oh iya, jadi yang perlu saya lakukan tinggal menunggu? Mohon pencerahan, senior ^^ hehe

      Hapus
    2. Menunggu bukan berarti tak melakukan apa-apa, kan?
      #Senior?? -_- saya masih umur 17(agustus)-an.....

      Hapus
    3. :D
      Itu masalahnya, saya tidak tahu jelas harus melakukan apa.dalam penantian menjadi dewasa -_-

      Hapus