In Slice of Life The Librarian

(bukan) Buku kuliah

Malam ini bapak datang menjenguk. Tidak sendirian, datang dengan ibu, tiga saudara, om, sepupu. Sesaat muncul perasaan meneduhkan, sesaat setelahnya mendadak takut. Saya merindu keluarga saya, selalu. Tapi, saya selalu saja takut dengan mereka. Apa lagi bapak!

***

"Deh! Banyaknya bukumu," Adik perempuan saya yang umur 16 tahun membongkar rak buku saya.

"..." Saya tidak peduli dengannya, masih serius mengerjakan command dialog tugas visual basic.

"Mana bukumu yang pernah kau bawa ke rumah pas pulang? Bagus, sudah saya intip ending-nya," tangannya terus melanjutkan serangan acak ke bagian rak buku fiksi.

"..." Saya tidak peduli dengannya, lebih serius mengerjakan command dialog tugas visual basic.


"Masih kalahko sama teman smashblast-ku. Penuh mentong bukunya!" dia mulai menjengkelkan.

Tanpa ba-bi-bu, saya menyeringai dengan tatapan: get out or... you're gonna die! Belum sempat dia menjawab pertanyaan tatapan saya, bapak tiba-tiba masuk ke kamar.

Half of mine.

"Buku-buku apa itu?" Bapak saya memecah kebekuan singkat di kamar.

"Ngg, Tidakji. Buku cerita." Dengan sekenanya, saya menjawab singkat.

"Buku kuliah?" Bapak terus bertanya, sambil mengangkat dua sample buku: negeri 5 menara di tangan kanan, antologi rasa di tangan kirinya.

"Bukan. Bacaan biasaji." Saya mulai menggaruk rambut sambil mengambil ancang-ancang berpikir mencari jawaban yang sempurna untuk setiap pertanyaan selanjutnya.

"Di mana beli ini?" Bapak masih terus bertanya.

"Gramedia." Saya kembali menjawab dengan jawaban singkat.

"Berapa harganya?"

"40-50 ribu." Saya agak berbohong. Lebih banyak buku yang di atas harga itu.

"Apa bagusnya buku begitu? Buku kuliah saja beli dulu." Ah, Bapak mulai bikin saya tidak enak.

"Tidak ada hubungannya semua bukumu dengan kuliah itu? Kenapa dibeli? Yang ada saja hubungannya dengan kuliah, beli nak!" Ibu iku-ikutan dengan komentar yang dilisankan pelan-pelan.

"Hobi itu pak. Ada ji juga buku kuliahku." Saya memberikan pembelaan. Saya memang punya buku kuliah, meskipun kebanyakan adalah hasil fotokopian atau buku tipe *.pdf.

***

Apa yang salah dari buku fiksi. Baik, sebut saja novel? Chicklit, teenlit, metropop, crime, mystery, suspense, semuanya? Apa seorang dokter hanya bisa membaca buku patologi, anatomi, dan buku semacamnya? Apa seorang guru ditakdirkan hanya membaca buku pedagogi? Lantas, seorang mahasiswa Matematika harus membaca buku Aljabar, Kalkulus, Trigonometri, Analisis Real, dan buku-buku sejenis tanpa dimubahkan melihat yang lain?

Tidak, bapak. Tidak ada yang salah dari buku fiksi. Baik, sebut saja novel. Chicklit, teenlit, metropop, crime, mystery, suspense, semuanya! Dokter tidak hanya bisa membaca buku patologi, anatomi, dan buku semacamnya. Guru tidak ditakdirkan hanya membaca buku pedagogi. Saya, mahasiswa Matematika tidak harus membaca buku Aljabar, Kalkulus, Trigonometri, Analisis Real, dan buku-buku sejenis tanpa dimubahkan melihat yang lain.

Kalau masalahnya adalah uang, tidak apa-apa saya menyisihkan uang jajan per minggu. Kalau masalahnya adalah kuliah yang akan terganggu, saya bisa tahu diri. Bapak, ini bukan masalah. Buku kuliah atau bukan buku kuliah, keduanya sama-sama buku.

Bapak, dulu, dengan uang dari Bapak, saya pernah diajar guru Bahasa Indonesia SMP. Katanya, semua buku punya amanat yang ingin disampaikan dari penulisnya. Buku kuliah, bukan buku kuliah juga begitu. Buku Introduction to Fuzzy Theory, Buku Setiap Tempat Punya Cerita juga begitu. Jadi, jangan tanya-tanya tentang bukan buku kuliah lagi.

“People wonder why the novel is the most popular form of literature; people wonder why it is read more than books of science or books of metaphysics. The reason is very simple; it is merely that the novel is more true than they are.”
G.K. Chesterton

 ***

Ah, ponsel saya bergetar cantik di atas kasur  pegas. Pesan dari pipi', rupanya.

Dokumen Pribadi

p.s : Tadi pagi, sempat kolaps yang bikin batal ikut inhouse training-rapat perencanaan peliputan di redaksi. Semoga pekan depan, tidak apa-apa lagi. :)

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar