In Slice of Life

Yuuhi (wo miteiru ka?)

Taken on April, '13 : The Kawaii of ICP A


Sore ini, kali pertama saya ke Bukit Manggarupi. Bukit yang sudah lama selalu bikin telinga panas tiap tahu teman memijak tanahnya. Sore ini, saya melakukannya. Dengan Pipi', dengan noona Tari, dengan Iwan, dengan Erick, dengan Pimen. Hanya saya sendiri dari kelas yang berbeda.

Sore ini, kali pertama saya ke Bukit Manggarupi. Kesan pertama adalah bukit yang (ternyata) sudah tandus. Terjal, dengan batu kerikil yang siap kapan saja menjatuhkan pemilik kaki yang tidak hati-hati menapakinya. Tentang batu kerikil, dulunya adalah batu raksasa yang sudah dipecah-pecah penambang. Pimen sampai tidak bisa semangat melihat batu "cinta" sudah terbelah ratusan. Puluhan langkah kaki setelahnya, saya sudah di puncak. Ternyata tidak kering-kering amat. Rinai hujan sejak beberapa pekan terakhir menyuburkan rumput hijau muda dengan bunga-bunga kemuning kecil. Indah, kombinasi dengan tanah merah kecoklatan yang menyejukkan pandangan.


Sore ini, kali pertama saya ke Bukit Manggarupi. Spot pertama yang kami singgahi adalah batu menggantung sebagian di Pedosfer bagian timur bukit. Kemudian dihadapkan dengan danau kecil yang sedang dijamah banyak kail pancingan. Kemudian dihadapkan dengan sebelas anak-anak kecil laki-laki yang sibuk dengan bola kampung. Erick dengan Iwan sampai ikut menjadi komentar dari jarak nun jauh. Anak kecil dengan celana merah itu hebat sekali. Saya menaksir usianya sekitar lima tahun dengan tinggi 80 cm. Ah, dia lebih lihai memperdaya lawan-lawannya daripada saya.

Sore ini, kali pertama saya ke Bukit Manggarupi. Cirrocumulus, Nimbostratus, Cumulonimbus, Cirrus, jelas kelihatan dari tempat yang tinggi-tidak terhalang apa pun, bukan? Lebih dari sepuluh Cirrus membelah langit memanjang dari arah timur laut ke barat daya. 'The big' Nimbostratus menyadarkan Erick tentang awan Peter Pan dengan magis dan cantiknya. Jejak pesawat-pesawat yang membentuk garis putih memanjang di sekitar Cumulonimbus mengingatkan tentang yang pergi dan yang kembali. Belasan Cirrocumulus mengantar kepergian surya ke peraduannya di kaki langit yang mulai menjingga.

Sore ini, kali pertama saya ke Bukit Manggarupi. Yuuhi. 夕日. Matahari senja. Tujuan utama saya sore ini melihat 'Yuuhi' di Bukit Manggarupi. Dia senang bermain petak umpet. Kadang muncul, kadang malu-malu dan menghilang di balik Cirrocumulus. Melihat cahayanya yang berpendar mengindikasikan aktivitas Fotosfer. Melihat warna kekuningan yang sebenarnya kamuflase dari hasil pembauran cahaya asli-putih dengan cahaya biru atmosfer. Saya puas! Saya serius, belum pernah melihat Yuuhi semenyenangkan di Bukit Manggarupi. Mungkin, karena dengan teman-teman menyenangkan.

"...Yuuhi ga shizumu sora wo mite iruka?/Toki ga sugiru sono senaka wa utsukushii darou?/Yes! Sorenari no kyou ga owari subete risetto suru yoru ga kuru yo/Ieji wo isogu kimi wa hitori kiri doushite jibun no koto wo homete agenai no ka/Nee chanto mite ageyou yo kimi ga kimi rashiku ikiteru koto//..."

Terima kasih, Pipi'. Terima kasih undangannya ke bukit(mu)! Terima kasih juga, semua yang selalu dengan saya.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar