In Slice of Life

The man behind the gun



Yeah, The man behind the gun!”
Percaya tidak kalau supir taksi yang dengan aksen american-nya berkata seperti itu ke saya, penumpangnya? Saya dibuat terpukau. Namanya, Sudirman.
.....
“Percaya tidak, saya alumni Sastra Inggris UNHAS?” sebelumnya dia menyebutkan riwayat pendidikan terakhirnya.
“Oh iye? Saya juga sempat berpikiran lanjut studi di sana.” komentar saya.
“Kenapa cuma sempat?” dia mulai ingin tahu.
“Saya dilarang orang tua.” jawab saya dengan kalem.

***

Dulu, saya memang sempat terpikir untuk kuliah di Jurusan Sastra Inggris. Saya dilarang orang tua. Ah tidak juga. Sebenarnya, saya tidak pernah bicara ke orang tua tentang niat itu. Tapi jauh sebelum bicara, ibu saya pernah bilang: Jangan masuk jurusan bahasa inggris! Susah kerjanya, tantemu juga belum terangkat jadi PNS. Dari bahasa inggriski itu.
Makanya, tidak ada gunanya saya bicara setelah diwanti-wanti seperti itu. Saya mencari opsi lain. Seperti sekarang, saya ada di Jurusan Matematika. Bagaimana pun, saya menikmati keadaan saya sekarang.

***

Sumber

“Sebenarnya semua jurusan bagus prospek kerjanya. Kembali ke diri sendiri saja.” kata supir taksi tadi. “Yeah, The man behind the gun!”
The man behind the gun? Dia menjelaskan tentang mengapa setiap jurusan sama hebatnya untuk setiap mahasiswa. Di dunia fotografi, juga berlaku konsep “the man behind the gun”. Bukan masalah kamera apa yang digunakan, tapi masalah keahlian fotografer. Bukan masalah senjatanya, tapi masalah siapa yang memegangnya. Bukan masalah jurusannya, tapi masalah siapa yang menjalani kuliahnya.

Not the gun. But, the man behind the gun.

Banyak orang terjebak dengan cara pandang jurusan yang prestisius. Maka didapuklah jurusan kedokteran, IT, hukum, psikologi dan semacamnya sebagai jurusan favorit, terhebat. Padahal, kalau sudah terjebak dalam jurusan yang tidak dibakati, nantinya bisa kesusahan sendiri. Lanjut supir taksi tadi, orang tua juga seharusnya bisa mengerti pilihan anaknya. Toh, yang kuliah adalah anaknya. Toh, yang paling tahu bakat kita adalah diri kita sendiri.

Sumber

“Saya kasih contoh, kalau Indonesia punya senjata yang paling hebat sedunia, tapi manusianya tidak bisa apa-apa, sama saja dengan omong kosong. Percuma toh?” tutup supir taksi tadi.

***

Pada awalnya, supir taksi tadi hanya bertanya tentang mau kemana dan saya kuliah di mana. Kemudian percakapan merambat ke bagian-bagian politik. Kami sempat berdiskusi tentang peta politik Indonesia dan Sulsel. Tentang tiga besar parpol yang akan memenangkan pemilu 2014, tentang bursa capres yang masih blur, tentang Sulsel yang sangat nyaris dipenuhi posisi kader-kader Golkar. Saya berlagak sok tahu saja. Terakhir, kami bercerita tentang tadi: the man behind the gun.
Saya cukup banyak bertanya tentangnya dan saya jadi sedikit tahu. Dia pernah menjadi ketua himpunan mahasiswa sastra inggris. Dia pernah ditawari untuk menjadi PNS, tapi menolak karena lebih memilih untuk menjadi wiraswasta. “Daripada dikasih pekerjaan, lebih baik saya buka lapangan kerja.” katanya.
Saya senang bertemu dengan supir taksi tadi. Percakapan terus meluncur, sejak saya membuka pintu sampai turun dari taksi. Sebuah keajaiban karena saya bukan orang yang mudah cepat akrab dengan “orang baru”.

Related Articles

5 komentar:

  1. Kisah inspiratif lainnya dari Awal! Saya tersinggung berat!

    BalasHapus
  2. Ternyata kau juga punya mimpi yang belum kau bilang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... sekarang kau tahu, kita satu-sama, sama-sama pengecut!

      Hapus
  3. sy bingung. Orang itu ditawari jd PNS nolak, dari pada dikasih kerja *bla*bla*. sebagai supir taksi bukankah artinya ia juga dipekerjakan oleh perusahaan taksi.
    kalian bahas tentang prospek kerja tiap jurusan. katanya " bukan jurusannya, tapi orangnya". orang itu ambil jurusan sastra, lah kok kerja ga' relevan. bukankh bilang prospeknya sama tergantung orangnya.

    TP, dengan semua kebingunan sy. sy kagum sama orang itu. mindsetnya tentang perkuliahan juga wawasannya tentang kondisi sekitar.

    awal bukan pengecut, alnya jurusannya saat ini juga masih berkaitan dengan english... ya kan!!!

    sotoyku....

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Orang itu ditawari jd PNS nolak, dari pada dikasih kerja *bla*bla*. sebagai supir taksi bukankah artinya ia juga dipekerjakan oleh perusahaan taksi." Saya juga mau tanggapi saat itu, tapi terlanjur sudah hampir sampai di rumah, kurang enak juga tanyanya :D

      hehe, bisa jadi, yusran. Toh, saya tidak pernah dipaksa untuk kuliah disini. Pilihan sendiri ji juga :)

      Hapus