In Neptune Says Slice of Life

Hujan dan Nostalgia

Rain and tears all the same
But in the sun you've got to play the game
When you cry in winter time
You can't pretend it's nothing but the rain… - Aphrodite’s Child

Sore hari ini hujan turun. Hasil lebih lanjut dari presipitasi berbuah manis. Sore ini, mereka sukses menjejali dunia cukup banyak, cukup deras. Saya sedang di bangku belakang sepeda motor yang dikendarai Ramdhan. Baru saja pulang dari kampus dan masih seperempat perjalanan menuju rumah. Dengan mantel biru yang dipakai Ramdhan, saya sisipkan ransel hitam saya di antaranya. Paling tidak, tablet dan notebook tidak kehujanan.

Di sini. Di sini adegan dramatis di atas sepeda motor bermula. Saya melekatkan setiap kancing varsity, membiarkan jari-jari tangan bersembunyi di balik lengannya. Kemudian, saya mengangkat bagian penutup kaca di helm yang di depan wajah, mengizinkan awan menghujamkan cairan beningnya di atas wajah. Lagi, saya menganga lebar, menjulurkan setengah lidah mengecap hambar tetes demi tetes air hujan.Kalau saya demam, saya hanya harus tahan untuk menyelesaikan tugas deadline malam ini. Itu urusan belakang.


Tetes air hujan. Tetes air hujan itu mengingatkan ‘Awal Hidayat, 5 tahun’. Masih tinggal di rumah nenek. Hujan? Kalau hujan sedang turun, saya akan diam-diam mengendap ke luar dan mencegah kayu tua penyangga rumah panggung nenek tidak berderit. Menuruni anak tangga dengan penuh hati-hati dan siap mempertemukan wajah dengan tetes air hujan. Saya rindu perasaan itu. Perasaan ketika saya ingin bertemu dengan sesuatu yang saya suka. Perasaan ketika saya harus mengenyahkan bayang-bayang wejangan bapak, ibu, tante, sekalipun nenek yang melarang untuk tidak “mandi hujan”. Saya hanya ingin bertemu dengan sesuatu yang saya suka, saya mencinta hujan. Atau terkadang saya hanya perlu membuka sebagian jendela dan melihat dari dalam rumah. Kemudian bermain dengan hujan, bermain buka-tutup telinga dan merasakan sensasi permainan suara yang muncul-menghilang dari air yang terkumpul di atas selokan kecil.
Tetes air hujan. Tetes air hujan itu mengingatkan ‘Awal Hidayat, 7 tahun’. Masih tinggal di rumah nenek. Hujan? Saya menemuinya lagi. Tidak dengan cara yang biasa. Saya tidak perlu melangkah dengan ekstrapelan untuk kabur dari rumah. Tidak perlu, saya langsung diantar orang tua untuk menemuinya. Kami pergi melayat. Saudara perempuan bapak meninggal setelah dirawat di rumah sakit pemerintah kabupaten. Ada gosip tentang makhluk halus jahat membawa kepergiannya. Bukan itu yang saya pedulikan. Saya kecewa, saya tidak melihat sedikit incipun tentang makhluk halus jahat yang orang dewasa sekitar itu maksud. Saya hanya melihat transformasi awan menjatuhkan air dari langit membawa tante saya ke tempat terakhirnya. Tidak ada senyum dari semua yang berjalan dalam hujan. Semua menekuk bibir, sepupu saya bahkan sampai menjatuhkan air dari pelupuknya. Saat itu, saya memang tidak tahu apa-apa. Tidak ada, selain hujan yang berubah menjadi penjahat, membuatnya kehilangan wajah perindunya.

Tetes air hujan.  Tetes air hujan itu mengingatkan ‘Awal Hidayat, 14 tahun’. Saya sudah tinggal dengan orang tua di rumah orang tua. Selama tujuh tahun, saya tidak tahu apakah saya benar-benar pecinta hujan atau masih membencinya. Kadang saya mencelanya yang datang tiba-tiba, kadang saya memujinya yang datang sebelum semua orang desa ber-Istiqsa. Selama tujuh tahun, saya kembali menemui hujan seperti saya pertama kali menyukainya. Pretty déjà vu. Kali ini, saya juga tidak perlu memeragakan langkah hati-hati untuk berjumpa dengan hujan bak biro intelejen. Saya sudah sedikit lebih dibebaskan. Saat saya secara tidak sadar mulai memendam rasa sendirian. Mulai dengan hobi baru menatap salah seorang perempuan kelas sebelah menunggu hujan reda sehabis bunyi bel pulang sekolah putih biru. Saya menyukai hujan, saya mulai menyukai bau tanah ketika hujan, saya juga mulai menyukai perempuan itu. Untuk beberapa tahun selanjutnya, saya masih menyukai perempuan itu. Dalam diam.

Tetes air hujan. Tetes air hujan itu mengingatkan ‘Awal Hidayat, 17 tahun’. Saya sudah tinggal dengan orang tua di rumah orang tua. Saya masih menyukai hujan seperti tiga tahun sebelumnya. Saya memang sudah tidak dengan perempuan tiga tahun lalu, meski sudah tak lagi bersebelahan kelas. Saya memang sudah tidak dengan perempuan tiga tahun lalu, meski saat sekarang justru hanya bersebelahan bangku. Saya benar-benar punya “perempuan”. Seorang adik kelas yang saya kagumi untuk beberapa minggu dan dengan bantuan teman sekelas, termasuk perempuan tiga tahun lalu, saya sedang dalam “hubungan”. Seorang adik kelas dengan tutur superlembut berpadu hobinya menggambar karakter manga yang membuat saya tahu kalau dia seorang otaku. Hujan? Saya selalu menunggu untuk menemui hujan bersama-sama. Membiarkan menahan kami untuk menjadi alasan pamungkas pertanyaan setiap guru yang bertanya: kenapa masih di sekolah? Hujan tak sekedar jadi kambing hitam, saya makin menyukai hujan. Bersyukur untuk salah satu wujud rezeki yang dikirimkan Maha Pelukis Senyum. Hujan, saya memang menyukainya.

“Ada yang percaya bahwa di dalam hujan terdapat lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu sesuatu. Senandung rindu yang bisa meresonansi ingatan masa lalu.”
― Yoana Dianika, Hujan Punya Cerita tentang Kita


Sumber


Tetes air hujan. Tetes air hujan itu menyadarkan ‘Awal Hidayat, 18 tahun 3 bulan 2 minggu 4 hari’. Saya sudah tinggal sendirian di rumah ‘titipan’ orang tua. Hari ini, saya lupa sudah hujan keberapa yang turun di Desember tahun ini. Hari ini, saya sedang dihempas hujan. Saya hanya ingin cepat pulang ke rumah. Bukan sudah bosan dengan hujan, saya mungkin sudah kurang kuat untuk memanggil setiap kenangan tentang hujan. Air hujan yang singgah di wajah mengaburkan setiap jenis air yang tak jelas juntrungannya; air murni dari langit, air murni dari mata yang pedih tertusuk pelan air murni dari langit, air murni dari mata yang pedih karena rangsangan perindu nostalgia. Hujan selalu punya cerita. Seperti ‘Awal Hidayat, 5 tahun’, saya masih menyukai hujan.

Related Articles

1 komentar: