In Slice of Life

2013-2014


2013?
"Nak, ke rumahki!" ajak Puang Manni, tante saya yang tahu betul kalau saya bisa menghabiskan panada atau risol berapapun, via telepon.
"Iye, besok-besok pi. Masih ada pelatihanku besok di kampus," jawab saya di seberang tempat sambil menjelaskan kalau there is no holiday tomorrow, which is national holiday actually.
"Oh iye nak. Jangan berkeliaran malam ini nah," perintah Puang Manni yang saya amini saat itu sambil menunggu tampilan wallpaper hp kembali normal.
Tidak berapa lama, telepon dari Bapak juga mengaktifkan vibrate di hp. "DIMANA?" Bapak bertanya setengah berteriak. Ah, kebiasaan Bapak: terkadang dia mungkin lupa kalau untuk menelpon tidak perlu sekeras itu.
"Di.. kosnya teman," saya menjawab sedikit terbata-bata.
"Janganmi keluar-keluar tahun baru,"

"Iye, ke acaranya ji organisasiku, makan-makan," jawab saya kemudian diizinkan setelahnya, kemudian menunggu lagi tampilan wallpaper hp kembali normal.

Tadi malam, saya memang di kamar kosnya Pimen. Dengan Ramdan, juga. Tapi saya sebenarnya tidak berniat menunggu tahun baru dengan mereka, dengan teman ICP.

“Dan, antar ke redaksi dulu ya!” saya mengharap tolong dari Ramdan. Lagi. Redaksi? Iya, rumah kelima saya sekarang, tempat saya 'bekerja'. Rumah pertama, rumah dengan orang tua. Rumah kedua, rumah kelahiran saya (dan semoga nanti menjadi rumah duka saya), rumah kakek-nenek. Rumah ketiga, rumah di Saumata. Rumah keempat, ehm, kampus. Redaksi yang rumah kelima saya, you know i get my nice feeling there, to get over all my problems outside here. Saya merasa nyaman.

“Oh, jadi kau lebih pilih mereka daripada kita semua?” tanya Ramdhan setengah bercanda, setengah serius. Asal kalian tahu, maksud ‘kita semua’ adalah teman dari ICP Matematika UNM 2012. Rencana (lagi), we’re gonna cook something at the end of year. Tinggal menunggu deportasi Abdul, Iwan, Pipi’, Tari.

“Hei, please! This is not about, memilih salah satu dari dua.” Saya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan. But, understand me this time. I supposed you’re all on YES!

Sampai di redaksi, saya dan Tari (dia juga teman di redaksi), disarankan untuk terlebih dahulu melakukan ritual magang. I prefer not to tell what I mean on ‘ritual’, sacredly. Kemudian membuka lembar demi lembar majalah Tempo edisi Wisata. Ah, it rebears my dream as traveller. At least, saya mau berkunjung ke danau Matano di ujung utara propinsi saya. Atau ke Rinjani, berpikir merayakan tahun baru di puncak tertinggi kepulauan Sunda Kecil, so f*cking interesting.

Di redaksi, menunggu momen pergantian tahun penanggalan Masehi, what great games should we do? Tadi malam, kembali bertemu dengan senior dan sesama teman-teman magang setelah terakhir bertemu kemarin Minggu untuk rapat #DJAa2014. Dan bertemu lagi, kami saling melempar percakapan. Is it just formality or what, it doesn’t matter, somehow.

Kemudian tudang sipulung untuk makan nasu palekko bebek racikan kakak pengelola harian. Semua makan bersama, kecuali Tari yang mengaku terlanjur makan di kamar kosnya. Kemudian bermain dam (atau dang?), kemudian bermain catur. Tari, satu-satunya magang perempuan yang datang, untungnya bisa mudah menyesuaikan diri dengan teman laki-laki lain untuk menjadi pemain pertama melawan Wajo. In spite of, there is something trouble in her.

Sekitar pukul 22.00, Tari menerima telepon dari Bapaknya setelah berulang kali dibiarkan saja. Ah, ternyata bukan saya sendiri yang ditelepon Bapak di malam tahun baru. Ah, dan persis sama dengan Bapak saya (saya curiga mereka berkooperasi dan berkonspirasi malam ini), Bapak Tari melarang kegiatan malam tahun baru. Dan jadilah, Tari pulang dengan diantar Rajab, masih teman magang.

Sekitar pukul 22.30, Ramdhan menelepon saya, mengonfirmasi saya kalau saya membutuhkan tumpangan pulang ke kamar kos Pimen yang berjarak sekitar 3 kilometer dari redaksi. Setelah menyaksikan suguhan peletusan dua petasan yang memekakkan telinga, setelah pembiaran ledakannya yang membikin jantung setengah copot, setelah menerima pesan Ramdhan yang katanya sudah di samping redaksi, setelah meminta pamit ke kak Yeni, saya pergi. I can’t say ‘pulang’, because you know, i’ve said ‘redaksi’ is one of my HOME.

Dan sekitar pukul 23.30, kami resmi berkumpul di kamar kos Ramdhan. Dengan pemilik kos, Pimen. Dengan tamu kos, Ramdhan, Iwan, Abdul. Minus Tari, Minus Pipi’ (meskipun dia sangat mau ikutan berkumpul, sudah terlalu larut untuk anak perempuan keluar rumah). Dengan modal ‘ck-ck’ untuk membeli ayam dan rempah-rempah bahan nasu palekko (juga). Pimen is expert in this case.

Dan sekitar pukul 00.00, i mean 2014 is coming. Mulai makan bersama lagi. Oh i almost forget, happy new year 2014, anyway. Saya mungkin seperti tidak menghiraukan pesan singkat himbauan Ardillah untuk tidak mengikut-ikuti perayaan yang katanya milik umat penyembah dewa matahari. But i swear, i’m not intend. Saya hanya berkumpul dengan teman, bersuka cita untuk semua nikmat selama satu tahun belakangan, bersuka cita untuk kejadian pahit yang tersisa dalam kenangan selama satu tahun belakangan. I REALLY SWEAR

Sumber

***

Januari 2013, saya melakukan kunjungan ke kuburan suku Toraja. Sebagai pengganti final salah satu mata kuliah, saya dan teman ICP Matematika-Biologi UNM 2012 berangkat dengan bus. Agung, partner-in-seat, meringankan beban perjalanan yang sungguh tak terkira jauh dan lamanya. Been there for three days, menjanjikan awal 2013 dengan indah. Menyaksikan peradaban megalitikum, pemakaman purbakala, pemandangan natural seperti gambar milik siswa sekolah dasar untuk tugas ‘kerajinan tangan dan kesenian’ (oh sekarang sudah bertransformasi menjadi mata pelajaran seni budaya keterampilan). I enjoy all quality time there, and ‘till now still wishing will be there again.

Februari 2013, saya benar-benar dalam masa terburuk. ‘bagi yang terlambat membayar spp, hanya satu pilihan, Cuti Akademik, sesuai prosedur’. Penggalan kalimat di tiap spanduk yang digantung di sudut kampus terasa menatap sinis keteledoran saya. Waktu itu, saya terlambat membayar, dan saya tidak diminta memilih karena memang hanya satu pilihan, cuti akademik. Ketakutan dan ke’malu’an beraduk menjadi satu menghasilkan adonan kegalauan dalam waktu beberapa lama. I am ‘down’  on that month.

Maret 2013, saya kembali membuat url blog baru. Setelah blog lama yang saya tutup beberapa bulan sebelumnya karena alasan yang menurut saya juga kurang logis untuk bisa saya sendiri terima. Dengan visi yang lebih terarah, saya mantap membuat blog dengan konten semacam diari online. Masih sampai sekarang, blog menjadi salah satu supporting tools yang cukup keren untuk membiarkan saya dianggap manusia, dan nantinya dianggap pernah menjadi manusia. You know about Shakespeare, Paulo Coelho, Chairil Anwar, HAMKA? They are memorable because of their writings. Meskipun sudah lama sejak sisa nyawanya habis, mereka tidak sekadar mati seperti gajah meninggalkan gading. Mereka mati tidak sekadar mati meninggalkan nama, mereka mati dengan berbuah-buah pemikiran lewat mahakarya tulisannya.

April 2013, saya pertama kali bertemu dengan Geometri. Should I tell you her real name? Ah, biarkan semua menjadi kenangan saja. Sama seperti bangau kertas dan tiga bungkus cokelat lalu yang tidak pernah sampai. Tentang Geometri, saya masih penuh diliputi tanda tanya tentang mengapa seseorang yang dulunya sangat disukai bisa menjadi somebody that I used to know. Tentang Geometri, ‘apa kabar dia’ sudah tidak menjadi bahan kegelisahan saya seperti beberapa waktu setelah Geometri dulu pergi dan sampai sekarang masih mengingkar janji untuk kembali. Tentang Geometri, saya sudah tidak perlu terus-terusan memupuk rindu di ladang perpisahan. Tentang Geometri, i have not been as the one-side-expectator yet. Happily.

Juli 2013, saya diumumkan gagal setelah menguji usaha untuk lulus tes seleksi masuk di jurusan mimpi sejak sekolah menengah pertama. The saddest thing is, this month which is my birth month, and I AM EIGHTEEN. Mimpi yang diinspirasikan dari kakak sepupu yang sebelumnya lulus di jurusan itu. Mimpi yang diinspirasikan dari kakak sepupu yang sekarang masih dengan bahagia belajar tentang profesinya di negeri Sakura. Suatu hari nanti, saya akan hanami-an dengannya, atau dengan teman-teman saya. Guess that department?

Agustus 2013, saya diumumkan berhasil setelah mengetes usaha untuk lulus ujian saringan masuk salah satu perguruan tinggi kedinasan. Salah satu perguruan tinggi yang menjadi cita-cita kampus sejak disarankan guru Matematika SMA. Meskipun setelah diyakinkan lulus ujian saringan masuk, pada akhirnya saya (di)gagal(kan) untuk tahap tes kesehatan dan kebugaran-tes wawancara.

September 2013, saya akhirnya kembali menjadi ke kampus biru yang menjadi subset kampus orange. Fakultas MIPA di Universitas Negeri Makassar. Kembali sekelas dengan teman ICP B Matematika UNM 2012, setelah semester sebelumnya tidak. Kembali sejurusan dengan Trigonometri. Kembali sefakultas dengan Kalkulus. Dengan banyak ketertinggalan, saya mencoba melangkah sejauh mungkin mengejar mereka untuk berjalan berdampingan. Happy to say, sejauh ini mereka sudah cukup menjadi teman yang baik.

Oktober 2013, saya mencatutkan nama sebagai salah satu peserta Diklat Jurnalistik Menengah Tingkat Dasar 2013 LPPM Profesi UNM. Lima hari didiklat, i met some people I admire. Someone like Abdul Rahman, or Andhika Daeng Mamangka, or Sutrisno Zulkifli, they’re inspiring in their  each range.  Saya mendaftar sebagai peserta magang sampai sekarang, sudah sekitar dua bulan dan masih menunggu enam bulan selanjutnya untuk resmi diakui statuta lembaga kuli tinta kampus sebagai keluarga, as part of them.

Desember 2013, saya direkrut sebagai magang asisten Laboratorium Komputer Matematika FMIPA UNM. Bahkan dengan urutan pertama setelah melewati beberapa tes. I am fully Thank God. Tapi magang di dua tempat, is not an easy working. Somehow, i’ll make it such new challenge and i’ll do my best on these case. Sejauh ini saya tidak dipaksa untuk memilih hanya salah satu. Poligami boleh, asal tidak selingkuh. Saya pernah diberi wejangan singkat secara tidak langsung dari Kak Imam setelah bertemu tak terduga di parkiran jurusan: memilih itu susah, tapi mempertahankan pilihan adalah sulit.

***

2014?
New year. 
And billions fireworks are up the sky, 
create beautiful sight for one,
and make serious pain for another.

Sumber

Untuk tahun ini, saya belum menyusun rapi resolusi tentang few things i should make them goal this year. Saya percaya dengan: Barangsiapa yang keadaan amalannya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.

Meskipun sanad hadits ini lemah dan suatu pendapat bahkan mengatakan sangat lemah, saya tetap tidak mau merugi, lebih-lebih terlaknat. So i get the point, be better than last year.

p.s : thanks for your end-year letter, Pipi'.

Related Articles

4 komentar:

  1. Malam tahun barunya menyenangkan ^^

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, semoga besok besok juga menyenangkan :v
    Bagaimana denganmu, ririn?

    BalasHapus
  3. "I prefer not to tell what I mean on ‘ritual’, sacredly"??
    Saya jadi penasaran... -_-

    BalasHapus
  4. mati-_-" jangan dicerita di sini, kak. bukan tempatnya

    BalasHapus