In Slice of Life

Lost (again)

Bu, hilang dompetku...


Lama saya menunggu kepastian tentang dompet saya yang hilang. Setelah meminta toong ke teman untuk mencarikan di kamar kosnya (tadi malam saya ke sana), setelah menghubungi nomor telepon supermarket yang saya kunjungi kemarin (untung dia baik mencantumkan nomor customer service di situsnya), setelah grasak-grusuk di kamar sendiri, setelah saya sudah menyerah untuk mencari di mana lagi, saya menelepon ibu.


Lamat-lamat kedengaran suara siswa-siswanya, saya sedang mengganggu kelas ibu. Maafkan, saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebelumnya saya menelepon bapak, tapi saya terlampau takut untuk membicarakan perihal hilangnya dompet. Saya tahu ibu saya memberi signal ke siswanya untuk menunggu sebentar. Meskipun saya tahu kalau guru seharusnya tidak boleh menerima telepon ketika mengajar, saya hanya berharap untuk kali ini saja. 


"Kenapa nak?"

Bu, hilang dompetku... Hilang dengan ATM, dengan seperangkat kartu lain-lain, dengan sedikit lembar uang. Menyisakan saku celana dengan dua ribu enam ratus rupiah. Padahal saya mau pergi ke kampus untuk perbaikan nilai mid Computer Programming. Saya mau pergi ke redaksi untuk persiapan rapat pleno. Saya mau pergi ke Menara Pinisi untuk kumpul dengan teman komunitas. Dan dompet yang hilang langsung membikin saya hanya duduk diam bersila di ruang depan rumah selama lebih dari satu jam.

Ibu mencecar dengan banyak pertanyaan. Di mana hilang. Kenapa bisa hilang. Kapan hilangnya. Saya dari mana saja. Sisa berapa uang saya. Di mana saya sekarang. Apa saja isi dompet saya. Semuanya. And all i can do is answer carefully, calmly.

Kali ini sudah terlalu banyak saya menghilangkan. Terlalu carepa ko nak. Jangan disimpan di saku belakang celana dompetnya. Iya, saya mengiyakan dalam hati. Sudah tahun 2014 dan saya belum bisa menghilangkan satu hal yang paling penting. Bukan memory card, flashdisk, jaket yang sudah terlanjur hilang sebelumnya. Saya belum menghilangkan 'menghilangkan'. 

Bu, hilang dompetku... 

"Iye nak, senin baru diblokir kartu atm-nya," 

***

"Dumba-dumba' ko awal?" Kak Dilla, keponakan yang tinggal di rumah, bertanya dan saya tidak mengerti maksudnya saat itu.

"Iya,"

"Ai, tidak ada mi dompetmu itu," Kak Dilla bicara dengan mitos dari turun-temurunnya. Saya tidak acuh.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar