In Geometry Talk Slice of Life

Running, who dares?



Akhir-akhir ini, beberapa hari belakangan, terlalu gampang kecewa. Mungkin karena terlalu banyak menumpuk harapan-harapan yang pada akhirnya tidak menjadi nyata, hanya bermuara sebagai imaji ilusi. Terutama karena kecewa dengan diri sendiri. Kecewa karena dengan mudah menghilangkan apapun, kecewa karena tidak bisa ikut perbaikan nilai (yang pada akhirnya teman mengaku kalau tidak perlu hadir dalam mengerjakan tugasnya, hanya duduk manis di depan komputer, kemudian mengarang), kecewa karena tidak cukup produktif selama triwulan untuk suatu kewajiban, dan kekecewaan-kekecewaan berdasar lain.  Kecewa dengan orang yang kusukai (pinjam bahasanya Pipi’), kecewa dengan beberapa teman yang mulai solkar (kata Pipi’ juga), kecewa dengan siapapun yang bikin kecewa (bukan dari Pipi’).

Sumber


Saya sedang di masjid Ulil Albab UNM sekarang, sambil menunggu waktu untuk menuju suatu tempat yang bisa mengurang kecewa. Saya menjadi rindu dengan masjid sekolah saya dulu, Masjid Jabal Nur. Dulu, sebelum saya tamat SMA, masjidnya masih belum dicat, masih belum diplafon, masih sangat sederhana karena memang masih baru dibangun untuk menggantikan mushalla yang tidak memuat semua teman SMA. Tapi masjid itu sudah sangat cukup untuk membuat saya hening dalam larut curhat. 

Kalau saya sedang kalut dengan masalah tugas sekolah yang menumpuk saat itu, atau sedang ada masalah besar dengan teman sekelas, saya langsung melangkahkan kaki tepat ke bangunan besar samping kelas, menuju masjid. Di dekat mimbarnya, saya bisa mengeluarkan semua yang saya pikirkan ke semua yang saya jua rasakan. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi untukNya. Setelah puas, barulah saya kembali ke kelas atau kemana saja, setelah membasuh muka. 

Saya masih di masjid Ulil Albab UNM sekarang. Dan karena banyak kekecewaan akhir-akhir ini, saya juga jadi lebih sering berlari. Saya rindu dengan rutinitas lari setelah salat Subuh di pertengahan Ramadhan lalu. Untuk mempersiapkan tes kebugaran salah satu perguruan tinggi kedinasan, saya terpaksa harus berlari. Saya harus mengakui, di setiap pelajaran penjaskes dulu, setiap yang awalnya didahului dengan stretching dan berlari. Saya benci. Belum cukup tujuh menit, saya sudah collapse duluan. 

Sumber
Bukan lari seperti itu sebenarnya maksud ‘berlari’ saya. Tentu saja, karena pertama, cuaca sangat tidak bisa tertebak, kedua, saya memang masih membenci berlari. Meskipun kalau saya sedang berlari di kampung seperti dulu, saya bisa menikmati pemandangan indah atau sekedar nostalgia. Di makassar? Selain bau pengap, atau mesin-mesin yang mulai berkeliaran bahkan sebelum ayam berkokok, tidak ada yang begitu menarik.

My defenition about running is... saya menjauhi kekecewaan dengan mencari kesibukan lain. Kesibukan apapun yang pada akhirnya akan membantu saya lupa dengan kekecewaan. Kesibukan apapun yang menyenangkan, kesibukan yang nyaman. 

Maksud ‘lari’ saya adalah... meliput, membaur dengan keluarga baru. Di rapat yang sukses menghidupkan saya tanpa tidur selama tiga puluh tujuh jam kemarin, saya nyaris dipecat. Karena berita liputan yang cenderung tidak banyak, ditambah juga dengan absensi yang mayoritas izin (karena kuliah). Senin ini saya kemudian ke kampus dengan tujuan awal adalah singgah ke bank BNI terdekat untuk membayar uang SPP semester 2 saya (tentang urutan semester, bukan kesalahan ketikan saya ataupun kesalahan penglihatan mata kalian). Karena minat untuk cepat tiba di kampus, saya beralih rencana. Tepat sebelum azan Zuhur, saya tiba di gerbang utama kampus dan melihat keramaian di salah satu pojok kampus. Saya kesana untuk mencari informasi tentang 5W+1H. Semoga kali ini tidak panas-panas tahi ayam. Kemudian bergegas ke masjid.
Kalau sedang banyak masalah, saya bisa menjadi ‘orang ter-relegius sedunia’.

Berbincang sebentar dengan Fadli dan Yusran, membicarakan final Computer Programming dan hasil kuliah Introduction to Linear Algebra. Pun, sekilas melihat Iwan dan Ramdhan. Setelah salat, kembali ke pojok kampus tadi yang masih penuh dengan puluhan teman mahasiswa. 

Saya berlari kecil riang ke sana. My new pretty world will be there. Saya mencari Rosni, teman setanggung jawab. Dan saya menemukannya. Pelarian saya berbuah manis. Ranumnya pipi perempuan yang saya tonton (tolong jangan ber-mupeng karena saya tidak), atau tepuk tangan teman lain sekalipun, atau tawa renyah sekeliling yang menyegarkan telinga sekalipun mencuatkan tanda seru bahwa: Saya tidak sedang sendiri! atau I do have no problem

Bahkan seharian ini tidak pernah menginjak tanah fakultas sendiri. justru lebih betah tinggal di fakultas saraswati. Dengan Rosni, dengan Agung, dengan Lulu, dengan teman-temannya Lulu (saya cuma sempat kenal salah satunya, Fatwa).

Saya makin menyukai pekerjaan saya. Bukan hanya karena memang saya menyukainya, tapi juga karena saya bisa bertemu tidak sengaja dengan orang baru, apalagi orang lama. Siang tadi saja, saya bisa bertemu dengan senior di SMA, teman di SMP, teman-teman sepupu, teman di lembaga bimbel, atau sekadar temannya teman. Don’t you find that it is really unbelievable? 

Saya sukses dengan berlari. Melupakan sejenak tentang kekecewaan. Larut dengan kebahagiaan orang lain. Seperti virus, juga dengan senyum, ketika melihat orang lain bahagia, maka kebahagiaan akan menyebar. MC semi tulen tadi sukses mengocok perut, penyanyi paduan suara tadi sukses bikin bangga.

Sumber

Kalian harus tahu, lari tidak selalu menjadi cara setiap pengecut untuk menghindar. Terkadang kalian perlu berlari untuk lebih cepat tahu. Tentang apapun, tentang mengetahui suatu ilmu, tentang mengetahui kehidupan, tentang mengetahui penyelesaian masalah, daripada berjalan, bagaimana kalau mencoba berlari sesekali. Berlari dengan menyesuaikan keadaan “paru-paru”mu. Asal tahu diri kapan harus berhenti atau kapan tidak harus berlari. Berlari sewajarnya.

Because, running is more than just walking. Let’s run!

Related Articles

4 komentar:

  1. Keren :) ditunggu karya selanjutnya kak.

    BalasHapus
  2. Awalnya kukira postingan ini akan berisi cara untuk lari dari masalah, ternyata mencari kesibukan lain. Haha.
    Tulisan yang bagus, apalagi untuk yang susah move on *eh

    BalasHapus
  3. Hehe, cocok ji juga :D tapi kalau susah move on stadium IV mi, agak-agak susah ki rasanya -_-"

    BalasHapus