In Slice of Life

Khairunnas anfauhum linnas

Ah, akhirnya sekarang sudah bisa menulis kembali. Terlalu banyak pekerjaan yang menggoda waktu untuk menulis haru tersisihkan. Jujur saja, sebenarnya ini bukan suatu alasan yang bisa diterima oleh seorang penulis—penulis diary, penulis abal sekali pun. Terlalu bodoh untuk mencari-cari pembelaan. Kesalahan terbesar saya adalah, I couldn’t manage my whole quality time. This is the big deal.

Kali ini saya memulai menulis setelah penutupan diklat jurnalistik abu-abu oleh lembaga saya. Memulai menulis setelah menerima banyak pelajaran selama lima hari empat malam pelaksanaan diklat.

***

Beberapa bulan terakhir untuk beberapa malam harus terjaga hingga dini hari. Diwajibkan mengikuti rapat persiapan diklat. Tentu saja, di rumah saya—di redaksi. Saya beberapa kali tidak menandatangani absensi rapat dengan halangan sakit, atau tanpa keterangan. Tapi selalu, saya menyiapkan waktu ketika saya memang bisa. Dan jadilah…

3 Februari 2014. Adalah malam rapat persiapan diklat terakhir. Menjadi salah satu malam dengan durasi rapat terlama.

4 Februari 2014. Saya dan teman-teman selembaga menuju Sekolah Luar Biasa Pembina tk. Propinsi Sulsel. Menyiapkan setiap perlengkapan untuk the day. Ya, tomorrow is the day. Selesai membereskan asrama peserta dan ruang materi diklat sekitar pukul 4 dini hari, sudah 5 Februari. 

5 Februari 2014. Semua peserta diklat berdatangan. Seksi kesekretariatan mulai supersibuk. Ah, saya adalah anggota seksi publikasi dan dokumentasi. Meskipun sudah jelas tugas pokok dan fungsi tiap seksi, selama saya sedang tidak bertugas di seksi pubdok, saya membantu tugas seksi yang membutuhkan bantuan. Tentu saja dengan teman-teman yang lain, tentu saja lebih banyak membantu seksi kesekretariatan.

6 Februari 2014. Acara pembukaan diklat oleh Rektor UNM. Mulai lebih bertugas di seksi sendiri. Menerbitkan warta DJAa 2014 edisi pertama. Melakukan peliputan dengan beberapa angle. Saya mulai drop karena sangat kelelahan dan kurang tidur. Juga, penyakit rutin—maag mulai membikin hanya cukup menghabiskan sepertiga dari makanan yang disediakan seksi konsumsi. Malamnya, mencoba minta izin untuk kembali ke kamar kos tapi dilarang. Dan saya tidur di kamar blok 3. Ah, malam itu saya bertugas sebagai pendamping kelompok mading dan melalaikannya.

7 Februari 2014. Sebagai tim warta DJAa, saya mengikut di bus peserta untuk melakukan kunjungan media. Masih dengan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya sembuh, keukeuh untuk tetap mengikut sebagai sukarelawan kondektur bus. Malamnya, menemani teman dampingan mading selama lima belas menit sebelum bergulat dengan bahan-bahan pembuatannya. 

8 Februari 2014. Hari terakhir di SLB Pembina tk. Propinsi Sulsel. Setelah menerima materi terakhir, jurnalisme online dan melakukan kunjungan media ke studio SUN TV, berpindah ke lokasi widyawisata di Benteng Somba Opu. Di sini, peserta diklat mempresentasikan mading tiga dimensi buatan delapan kelompok. Teman dampingan saya, kelompok 6 melakukan yang terbaik dari mereka. Di sela-sela presentasi delapan kelompok, ariel noah dan pasha ungu menghibur dengan lagu Mungkin Nanti dan SurgaMu.

9 Februari 2014. Hari terakhir diklat jurnalistik abu-abu, rasanya baru beberapa saat bertemu dengan mereka. Saat masih dini hari, berjuang melawan kantuk dengan pemilihan ketua angkatan. Juga sebelum menutup secara resmi rangkaian diklat, melakukan pelepasan puluhan balon untuk memeringati hari pers nasional. Suasana menjadi haru biru saat tiap jemputan peserta mulai berdatangan. See you, not good bye!
***

Sebagai pendamping kelompok mading, saya selangkah lebih mengenal 8 dari 67 peserta. Ahmad Rusyaid Idris, teman yang cerdas, berjiwa pemimpin, dan terkadang suka marah kalau anggotanya mulai berdebat kusir. Fathir Bakkarang, teman yang paling saya percaya, kreatif dengan banyak idenya sebagai bagian dari mading. Muhammad Saleh, teman yang awalnya cuek tapi paling bisa diajak kerja sama dalam pembuatan mading. Anugerah Pertiwi K, teman yang bisa dipercaya (untuk beli bahan mading di toko ATK) tapi terkadang juga suka panikan. Nur Alifiyah Istiqamah, teman yang percaya diri dan kecil-kecil, bukan cabe-cabean. Ade Novia Hr, teman yang paling susah begadang tapi tetap profesional sementara pembuatan mading. Anggi Lintang Cahyani, teman yang hijaber tapi ikut menyelesaikan mading dengan baik. St. Hajar, teman yang sampai pukul tiga dini hari sekali pun masih mengaku tidak mengantuk (tapi sakit kepala).

Juga, sebagai pewarta di seksi pubdok, saya mengenal beberapa peserta setelah reportase dengan wawancara langsung. Ardiansyah, teman yang menjadi narasumber pertama saya dan ketua angkatan diklat jurnalistik tahun ini. Ibnu Rasyid, teman yang siswa madrasah, hafal kitab kuning, suka jahil (memotret saya sedang berjalan berduaan dengan panitia perempuan kemudian mendaftarkan di lomba fotografi) dan bermimpi menjadi guru dengan sidejob sebagai novelis. Andi Tenri Leleang, teman yang berat badannya sebanding dengan taraf intensitas suaranya yang maaf, super. Ikrana Ramadhani, teman yang sepertinya kolektor id card sampai merengek minta dicarikan id card pesertanya ketika ketinggalan di kamar asrama. 

Ahmad Ariansyah, teman yang dijuluki akang kumis dan seperti sudah expert kalau sedang pegang gitar akustik. Hegyd Satrio, teman yang jadi model Keker dengan trademark topi hitam di atas kepala botaknya. Inkaya Yandri, teman yang paling sering jadi korban modus peserta dan panitia laki-laki. Mulyadi Karim, teman yang kalau disuruh memberi sepatah kata langsung dengan berbahasa Inggris fluently. Ayu Triana, teman yang pertama kali duluan mengajak saya bicara, “kayak pernah ki saya liat kak, panitia geometry ki?”. Kiki Wulandari, teman yang badannya kecil tapi kalau bicara bisa cepat sekali tanpa kehabisan stok nafas. Nazil Fahmi, teman yang mengaku dirinya “bunda” (buatan diklat jurnalistik abu-abu), mungkin dia sedang lupa kalau gender-nya adalah laki-laki. Andi Adillah, teman yang kalau ditegur karena terlalu berisik, langsung main tunjuk-tunjuk teman lainnya. Restiwi Jayanti, perempuan dengan kacamata tepat di depan tatapan matanya yang tampak tegas. Juga, teman-teman yang lain. Maaf belum sempat terlalu banyak tahu. Maaf juga kalau saya salah menilai kalian. Mari berkenalan lebih banyak di lain kesempatan.

Ah, saya menyebut mereka teman. Bukan adik. Bukan karena umur saya yang sebaya dengan mereka, tetapi cenderung karena wajah saya masih terlihat semuda wajah mereka. Atau bisa jadi memang, wajah saya memang masih lebih baby face. Abaikan, ini sudah narsis maksimal.

***

Saya banyak belajar dari peserta diklat kemarin. Setidaknya, saya belajar tentang bagaimana passion mereka untuk jurnalistik. Ketika peserta sudah pulang, saya menemukan dua carik kertas di baruga samping rumah adat Takalar.

Aku melangkah ke SLB di Jalan Daeng Tata Raya. Aku duduk di tepi ranjang asrama. Membayangkan hal-hal apa yang dapat ku jadikan bahan cerita kepada teman-teman se-hobby ku. Lalu hati bergejolak. Bukan berwarna merah. Tapi hijau. Aku tersenyum puas. Entah mengapa hanya dengan melihat antusias pesera lain mampu membuatku hatiku bergejolak lagi. Ingat! Bukan berwarna merah, tapi hijau.

Mungkin penggalan paragraf di atas menjadi salah satu narasi yang didaftarkan oleh peserta untuk kategori lomba menulis. Mungkin saja, saya juga tidak tahu siapa pengarangnya. Tapi saya senang dengan ceritanya, tentang alasannya mengikuti diklat, tentang kegiatannya selama diklat, tentang mimpi masa depannya. I’m touched, to be honest.

***
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Itu saja, that’s all what I am gonna do for all my remaining life. Untuk beberapa saat dalam hidup, saya membayangkan nantinya menjadi pengajar muda untuk Indonesia mengajar. Atau menjadi dokter umum di klinik kesehatan daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Atau sebagai jurnalis di daerah bencana alam, atau perang.

Di diklat jurnalistik kemarin, adalah kepanitiaan pertama dan semoga tidak menjadi terakhir bagi saya di lembaga pers kampus. Saya banyak belajar tentang bertanggung jawab. Lagi pula, karena saya menjadi bagian di range yang saya minati, saya melakukan dengan senang hati. You know, sometimes for someone, they are gonna do everything on what they love. So, this is me!

Menjadi “kuli” untuk akomodasi peserta. Memberi sisa obat yang saya miliki untuk peserta yang ikutan sakit. Meliput pelaksanaan diklat. Sesekali membantu teman fotografer untuk memotret, dan tidak sekadar modusan. Sesekali membantu untuk memfasilitasi pemateri diklat sebagai operator slide presentasi. Sesekali membantu untuk mengedarkan mic peserta saat sesi tanya jawab. Mendampingi kelompok untuk persiapan pembuatan mading tiga dimensi. Mendampingi sebagian peserta di bus untuk kunjungan media.

Pekerjaan-pekerjaan sekecil itu yang pun saya masih terkadang lalaikan, pekerjaan seperti itu yang membuat saya tetap bermimpi untuk menjadi sebaik-baiknya manusia. Khairunnas anfauhum linnas.

***
Add fb ku nah…
Minta ka nomor hp mu 
Follback twitter ku…
Ada path-mu?...
Reuni sekitar bulan 6 atau juli…

Ah, sekumpulan kalimat singkat itu tidak menjadi begitu asing ketika peserta mulai beranjak dari lokasi widyawisata diklat, kemarin. They have gone. Some people may say “goodbye”, but they only need to say “see you”. Ketika sangat banyak dari mereka yang mengaku masih tetap ingin bersama di diklat, masih belum siap pulang dari suasana saling berteman kelompok atau sekamar, masih betah untuk mengantri giliran mandi, masih nyaman begadang sampai larut malam, hanya tersisa satu pilihan: the time for yesterday was up.

Terima kasih untuk seminggu terakhir. Seorang peserta, Tenri menegur saya karena katanya saya termasuk mahal senyum dan selalu terlihat flat. Maaf, but my heart is always smiling(?) Hell! But, trust me. I'm too happy.
Kalian luar biasa. DJAa 2014, Be Creative Be Natural!

Ps: Kemarin saya bilang ke Tari—teman magang di lembaga kalau saya masih belum terlalu yakin, kalau bisa bertahan di lembaga sampai sejauh ini. Masih seperti bermimpi. Semoga sampai tiga-empat tahun selanjutnya. Semoga saja.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar