In Slice of Life

Untuk maple

“Jangan pikirkan tentang saya bisa lolos atau tidak, pikirkan tentang saya bisa daftar,” kak Wawan Kurn mengatakan kalimat penutupnya setelah roadshow Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN), hari ini.

***

28 Februari 2014

Hari terakhir Februari. Sebelumnya, saya sedang berpikir tentang mengakhiri bulan terpendek ini dengan tidak melakukan apapun. Membosankan, hanya cepat tidur di kamar singgah. Ah, tentang rumah kos baru saya, itu bukan rumah, hanya persinggahan sementara. Setelah kembali dari satu rumah, menuju rumah lainnya. 
Sumber


Dua hari yang lalu, kak Nuni menawarkan saya untuk mengikuti roadshow PPAN. Mungkin tawaran itu ada karena beberapa hari sebelumnya saya sempat bercakap-cakap tentang kunjungan ke luar negeri. Kemudian karena saya sedang tidak punya cukup pulsa untuk melakukan registrasi roadshow, lagi-lagi kak Nuni juga yang mendaftarkan saya. Pun karena saya tidak punya cukup koneksi online, lagi, lagi, dan lagi kak Nuni yang mendaftarkan saya lewat linimasa Twitter. Intinya, thanks to her for everything she has done for me. #HAHA... seems like i am so helpless.

And today is showtime. Di poster roadshow, saya tertarik dengan salah satu nama pembicara, Wawan Kurniawan. Dulu, saya pernah melihatnya di bazaar mahasiswa Psikologi UNM, di Double Dipps Bakery & Coffee. Sejak dulu pula, saya membaca tulisan-tulisannya di blog pribadinya. Lewat tulisan itu, saya kemudian tahu kalau dia pernah mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (PPIK). Benar memang, blogging makes you to be recognized, but blogwalking makes you recognize.

Saya menguatkan hati untuk bisa mengikuti PPIK. No! Bukan karena asal ikut-ikutan dengan kak Wawan. Bukan juga karena Ahmad Fuadi (yes, he was going to Canada with this program).  Sejujurnya, saya justru terinspirasi ke Kanada karena teman kelas saya, Awaliyah. Semester lalu, untuk kelas English for Subjet Matter, dia mempresentasikan kota cita-citanya, Ottawa. Dengan kemampuan presentasinya yang “menghibur”, dia membikin saya merasakan mimpinya. Entah kenapa, setelah itu saya ikut larut dengan mimpinya dan berpikir untuk berubah haluan ke Kanada. Tapi saya tidak sekadar ikut-ikutan, saya benar-benar ingin pergi. 

Sumber

Menghabiskan musim gugur dengan bersimpuh di atas daun maple yang jatuh diterbangkan angin. Menyaksikan langsung danau Lac Sept-Îles yang beku dengan es musim dingin menutup permukaannya. Menjadi bagian dari keramahan orang tua asuh, ikut “bekerja” dengan work placement. Menukar cerita, berbagi pengalaman dengan teman sesama counterpart. Menjadi mahasiswa McGill University atau University of British Columbia lewat educational activity day. All-in.

Mimpi ini, sayangnya harus ditunda untuk tahun ini. Mungkin Tuhan ingin mendahulukan mimpi saya yang lainnya. Mungkin, tapi tahun ini saya masih harus tetap mendaftar PPAN. Karena PPIK hanya untuk usia 20-24 tahun, dan saya masih belum cukup umur, satu-satunya pilihan yang memenuhi di antara lima pilihan adalah, KOREA (18-24 tahun). Ah, mungkin saya bisa melihat langsung konser EXO. Hey no, i am not too interested in that such way. 

Kembali, saya tidak berharap banyak tentang lulus-tidak lulus. Actually i'm not sure, but what's wrong about trying? At least, i'm gonna take one more step, to step overseas.

***


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan

Imam Syafii menulisnya. Ahmad Fuadi mengutipnya. Saya membacanya. Menjadi alasan cukup kuat, tentang kenapa saya harus mendaftar. Saya ingin merantau, bukan berdiam di satu titik, kemudian mati. Saya ingin merantau, menyebarkan kebaikan, di bawah panji khairunnas. Saya ingin merantau, kemudian jika tiba saatnya, saya akan kembali. Pulang, ke rumah. Pada akhirnya, saya memang tetap akan bermuara di rumah.


Ps: hari ini menyenangkan. Setelah makan siang, saya melihat kalkulus. Menjadi analgesik bagi perindu sekaligus membikin saya lupa sementara tentang sakit kepala yang datang beberapa jam sebelumnya. Membikin saya hanya duduk terperanjat, membekukan waktu. Kembali merasai debar seperti habis lari maraton yang sudah lama tak berkunjung di jantung. Saya benar-benar terperanjat sampai tidak bisa berjalan mendekat, justru menjauh berbalik arah. Kali ini, bukan dia lagi yang “pergi”.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar