In Slice of Life

Bagaimana kabarmu?


15 Maret 2014
Everyday Math and Finite Mathematics. Pukul sepuluh. Saya masuk di ruang seminar Jurusan Matematika, ini Sabtu pertama saya mengikuti kelas tutorial. Dua pertemuan sebelumnya saya absen, karena tidak tahu kalau saya seharusnya ikut di kelas itu.

Masuk di ruang seminar dengan memegang botol Pocari Sweat sisa sarapan, dan earphone terpasang kuat sambil mendengar playlist Raisa-Adera-Tulus-Fiersa membikin saya merasa terkendali. Saat itu, baru dua orang teman laki-laki yang datang duluan, Fathan di ujung kanan dan Fadli di sebelahnya. Saya memilih memampirkan ransel di atas kursi dekat Fadli. Berbincang sedikit, tentang keputusan saya mengikuti kelas mereka.

Kemudian, (mantan) ketua tingkat kelas saya, Yusran tiba-tiba datang dengan bersungut-sungut. Dia langsung menuju sudut kanan-depan ruangan seminar. "Awal, kesini dulu!" Singkat, dia memanggil saya mendekat.

Meributkan hal tidak penting dengan Fadli, langsung selesai. Saya mengikuti perintah Yusran, ikut mengambil tempat di sudut kanan-depan, tempatnya duduk bersila. Saya mengikutinya, bersila. "Bagaimana kabarmu?", seharusnya pertanyaan itu dilontarkan ketika bertemu kembali setelah lama tidak bersua, barangkali ketika kami sudah mendapatkan pekerjaan tepat dengan tempat berbeda, atau barangkali ketika kami selesai mengikuti program SM3T-dia di Manokwari, saya di Timor. Atau setidaknya, setelah kami pulang kampung karena libur semester genap yang lumayan panjang. Tapi, memang kami sudah lama tidak saling menyapa. Sudah terbilang lama, sejak saya mendapat "bangku baru" di kelas adik angkatan, ICP B Matematika 2013.

Sumber

***

Baiklah, karena kamu-Yusran, bertanya tentang kabarku, maka akan kupenuhi pertanyaanmu. Menjawab pertanyaan sedetail mungkin, sampai kamu tidak perlu bertanya bagian yang kurang jelas.

Kabarku, sejauh ini masih baik-baik saja. Tapi, ada beberapa saat ketika aku merasa kurang atau lebih, tidak baik.

Tentang seseorang yang kusuka-imajiner, kami sedang baik-baik saja. Barangkali, sangat baik. Kamu mau dengar cerita singkatku dengannya? Menurutku, dia juga menyukaiku. Ini memang hanya praduga, aku tidak pernah melakukan crosscheck padanya, karena memang tidak perlu. Dia makin sering mengajakku bercanda, dia juga lebih "nakal" menggodaku, kamu harus tahu. Jika aku menyembunyikan senyum, maka dia yang akan menemukan senyum untukku. Dia sering membuatku, membenarkan secara sepihak tentang aku menyukainya dan dia menyukaiku. Tentang ini, aku ingin meminta bantuanmu. Sebagai teman, tetap ingatkan untuk tidak boleh terlalu mengeksistensikan harapan. 

Sumber

Selanjutnya, tentang lembagaku. Aku tidak begitu yakin tentang pendapatmu dengan lembagaku. Tapi kamu tahu, aku makin nyaman di "rumah-yang-kutinggali-sejak-Oktober-kemarin" itu. Ya, sejak hujan rintik-rintik mulai membasahi kemarau lama, dan "rumah-yang-kutinggali-sejak-Oktober-kemarin" itu menawarkan atapnya. Aku sebenarnya bisa saja menolak rumah beratap itu, toh aku masih menyenangi hujan dan bau petrichor. Tentang petrikor, kamu bisa bertanya sendiri di mesin pencari browser-mu. Tapi keuntungan bagiku, atap di "rumah-yang-kutinggali-sejak-Oktober-kemarin" itu masih bolong di beberapa area. Kemarin saja, saat aku menyandarkan punggung hingga ujung kakiku di lantainya menghadap langit-langit, beberapa tetes hujan turun lewat celah berlubang di atap dan menjadi kubangan kecil di dekatku tidur sekira dua, atau tiga jam. Aku masih bisa menemukan kesenanganku di sana. Jadi, aku tetap yakin jika baik-baik saja di "rumah-yang-kutinggali-sejak-Oktober-kemarin" itu.

Kemudian, tentang laboratorium kita. Aku menyebut kita, karena laboratorium itu memang milik jurusan kita, dan juga kebeteluan-sesungguhnya aku tidak suka menyebutnya dengan kebetulan, jika kita sama-sama menjadi peserta magang di tempat itu. Pun, kita masih sama-sama mengaku kalau menjadi asisten di laboratorium itu telah jadi mimpi kita sejak masih berkepala plontos, semester satu lalu. Kabarku di laboratorium, aku menjawab dengan cukup mengecewakanmu. Aku kurang berbaikan dengannya, tidak mengikuti pemilihan ketua baru pada pekan lalu. Seringkali, ketika asisten senior menemukanku di depan jurusan, atau entah di mana yang bukan laboratorium, mereka menanyakan alasan tentang jarang menyetor muka di "atas", laboratorium memang berada di lantai paling puncak jurusan kita. Kalau ditanya kenapa, aku akan menjawab sedang sibuk dengan kelas. 

Terakhir, tentang kelasku. Kelas baru, kita memang tidak lagi sekelas. Barangkali kamu dan teman lainnya sudah terbiasa menyadari ketidak beradaanku di dalam kelas, setahun yang lalu kalian melewatinya, dan semua tetap baik-baik saja. Aku, sendiri yang kesusahan. Hanya mampu diam di kelas, memperhatikan ceramah tiap dosen yang datang dan berganti-meskipun lebih sering hanya mengoceh lewat tiap huruf atau ruas garis tidak jelas di buku catatan yang dibelikan ayahku. Tidak banyak yang bisa kulakukan di dalam kelas, aku tidak bebas mengajak siapapun di dalam kelas untuk saling menimpali kalimat sekadar canda, aku tidak bebas mengajukan pertanyaan ketika ada yang kurang kumengerti ke teman baruku atau dosen siapapun yang memberi kuliah, pun aku tidak bebas melakukan apapun. Apapun itu, aku masih kesulitan membaur dengan adik-adik itu. Belum pula, aku mengaku pernah bolos kuliah untuk kepentingan lain. Memang masih tidak lebih penting daripada sekadar mengisi absensi, tapi terkadang aku menginginkan tempat lain dengan teman yang lain. Kuakui, kabarku mungkin akan sangat tidak baik di dalam kelas.

***

Sekarang giliran dia-Yusran, saya ingin bertanya kabar mereka ber-19 setelah tidak ada lagi "Awal Hidayat" di tiap tumpukan absen tiap mata kuliah yang diprogramkan. Saya mendengar kalau mereka pernah mengadakan rapat evaluasi internal, untuk saling mengoreksi diri, untuk saling berintrospeksi. Sejujurnya, saya agak kecewa karena mereka tidak pernah mengajak. Atau, barangkali saya memang benar-benar tidak lagi menjadi bagian dari kelasnya. Saya tidak ingin menggugat (mantan) ketua tingkat, atau siapapun teman di (mantan) kelas kami. Karena sekalipun mereka mengajak, saya tetap tidak akan bisa datang. Jadwal kuliah kami berbeda, dan akan sangat sulit mendapatkan jadwal kosong bersama.

Katanya, di kelas sedang kacau. Yusran juga, mengaku menahan beban yang banyak. Tentang kabar saya, mungkin akan makin menambah lebih banyak bebannya. Semuanya hanya keluar begitu saja, dia sendiri juga yang menginginkannya. Saya, waktu itu, cukup kaget mengetahui perubahan banyak di kelas kami. Orang-orang berubah, dan kelas kita juga. Tentang mereka semua yang saling sibuk sendiri, saya membenarkan kalimat Yusran. Kalau makin lama, makin menuju wisuda, kami semua akan makin tidak peduli. Itu juga yang saya selalu takutkan. Ketika setiap pertemuan pada akhirnya hanya akan bermuara pada perpisahannya. Bertemu-berpisah. B-e-r-t-e-m-u. B-e-r-p-i-s-a-h. Berulang seterusnya.

Sumber

Semoga cepat sembuh, (mantan) kelas. Jika tiba saatnya, saya akan kembali dengan kalian. Di semester ini, saya masih bisa mengikuti dua kelas tutorial dengan kalian. Sangat sedikit memang kalau saya harus membandingkan.

Dengan kelas baru, saya akan menceritakan sedikit teman baru supaya kalian juga mengenal mereka. Ilham, teman baru yang saya kenal paling awal, dia ketua kelas yang terkadang tampak lesu (seperti saya). Izzad, the giant yang cepat akrab dengan orang lain. Fikar, yang paling suka bandel dengan jins belelnya. Ikhsan, Nova, Aida, yang paling (di)tua(kan) di antara tiga puluhan teman lainnya. Eva, yang paling kecil dan memang masih seperti anak-anak kata teman-temannya, Tuti, yang paling rentan dengan virus dan menjadi penyuplai utama sumber penyakit pilek. Risni, yang kalau dilihat sebenarnya kalem tapi kalau bicara bisa memperlihatkan sisi lain yang tidak lagi kalem. Nening, yang sempat "mengganggu" saya di salah satu kelas. Ulva, yang paling sering mengisi papan tulis dengan jawaban-jawabannya ketika tidak ada lagi teman lain yang bisa. 

Baiklah, cukup di sini saja. Kali lain, saya akan menulis sesuatu yang lain lagi. Karenanya, Saya masih baik-baik saja.

Related Articles

6 komentar:

  1. haha,, syukur nama teman saya disebut .. -_-

    BalasHapus
  2. eh iya, namanya elsa ketinggalan. :p

    BalasHapus
  3. iyaaaaaa? #ngikutngeunyupadahalmemangsudahunyubetulan :3

    BalasHapus
  4. woi-woi. eh jangan salah cess, tentang lembagamu, sy mendukung.
    terkait tidak diajak saat rapat evaluasi, itu juga dadakan.

    you are right. sy menanyakan kabar karena melihat km yg semakin jauh, sy percaya km bisa mengerti pesan tersiratnya. kita masih teman cess, takkan pernah beubah walau angin topan datang menerbangkan raga yang kemudian ditangkap burung elang dan terjatuh dilautan lepas lalu diterkam hiu ganas, hingga napas terakhir berhembus. kita tetap TEMAN.

    woi-woi-woi... kyaknya awal punya banyak teman nih. boleh dikenalkan?
    hahhahahah...

    BalasHapus
  5. Okay, understood ;)
    Tapi imajinasimu sepertinya yang terlalu "berlebihan" :p Siapa yang mau diterkam hiu ganas?
    Kalau mau, datang saja ke kelas baru saya, sempat mau ngulang satu atau lebih mata kuliahnya :D

    BalasHapus