In Imaginary Talk

Hello after goodbye

“Bagaimana kalau kau sedang suka dengan seseorang?” saya tiba-tiba bertanya ke Tari, teman saya, selepas mengikuti Focus Group Discussion (FGD) di Fort Rotterdam. If you really don’t have idea about the port, it’s really gorgeous such that make you be photogenic(?)

“Pasti mau terus dekat-dekat dengan dia,” balasnya dengan agak tersipu sambil terus berjalan di atas pijakan batu paving.

“Kalau kau sedang tidak dalam situasi yang bisa terus dekat dengan dia?” saya terus menimpali responnya, sambil tetap berjalan menuju gerbang entrance-exit untuk pulang.

“Biasa saja, sisa sabar,” jawabannya singkat, menyesakkan, dan saya menggumamkan “Sabarr.. Sabarrlah cintaku…”, kemudian hening, dan menunggu angkutan eksklusif khas corak biru.


(Selfie was taken by Febriawan)

***

Tidak mesti dengan wajah oriental Asia Timur atau dengan perempuan berkacamata berbingkai hitam. Pada akhirnya, saya sedang menyukai perempuan dengan tidak satupun memiliki ciri idaman perempuan saya. Menyukai, ini kali pertama saya mengaku sedang menyukai seseorang lagi. Setelah move on dari Geometri, saya sedang tidak ingin terlalu jauh menyukai. Saya harus menenggelamkan diri dengan kesibukan lain. Tentang kalkulus, rasa rindu kadang timbul-tenggelam dalam beberapa bulan belakangan.

Panggil saja dia imajiner–di Matematika untuk mengindikasikan suatu bilangan bukan riil, suatu bilangan khayal. Bilangan yang hanya ada dalam imajinasi, yang tidak memiliki kesesuaiannya dengan realitas fisis? Dia ada, benar-benar. Tentang imajiner, saya menerima usulan nama dari senior yang sudah diberi tahu kalau saya sering menginisialkan nama “perempuan saya” dengan hal berkaitan matematika, kak Bullah. Sejak semester satu lalu, saya memang memulainya. Dengan limit, untuk perempuan yang sejak kelas tiga SMP saya bertahan menyukainya.  

Sekarang imajiner, saya tidak bisa bercerita banyak dengannya. Saya hanya memberi dua kata kunci, bukan cina dan tidak cacat mata. Sebenarnya saya pertama kali melihatnya belum genap setahun, di salah satu pertemuan accident. Pertemuan setingkat lebih berkelas daripada pertemuan seorang mahasiswa terlambat masuk kelas yang berlari kecil di koridor kampus kemudian menabrak tidak sengaja perempuan dengan himpunan buku yang dipeluknya mesra. Mereka kemudian secara refleks saling memungut buku yang jatuh, lalu menengadahkan kepala, dan untuk beberapa saat saling menatap dengan begitu teduh. Tidak seperti itu, hanya saya yang memandang dari jarak cukup dekat. Saat itu saya sedang di depannya sampai harus memutar kepala menjorok ke arah tenggara, di dalam ruang kelas.

Bukan saat itu saya menyukainya. Saya baru menyadarinya kemarin, atau dua hari yang lalu, atau kemarin-kemarin yang tidak terlalu lama, tidak sampai seminggu. Tidak seperti geometri dengan pembenaran konsep cinta pada pandangan pertama, atau seperti kalkulus  dengan cinta dari media sosial (ini paling gila!). Dengan imajiner, dengan witing tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena terbiasa. Atau mungkin, cinta datang tiba-tiba? Ah, tentang jenis perasaan saya ke imajiner bahkan belum bisa memastikan klasifikasinya. Hanya nyaman dengannya, dan menyukai tanpa rasa cinta. Ini memang bukan cinta.

Awalnya merasa agak aneh, setelah lama tidak menyukai seseorang, saya hanya hidup dengan sejumlah kelas, juga di lembaga. Sekarang untuk beberapa waktu mendadak diingatkan dengan imajiner, “mengkhayalkan khayalan”.

Pertanyaan yang harus saya jawab, barangkali adalah hubungan khusus seperti apa yang saya harapkan? Jujur, tidak ada. Bukan cenderung karena terus-terusan mengingat perintah Ibu untuk tidak boleh berpacaran sebelum sukses. Tapi karena saya memang belum percaya diri bisa melindungi imajiner, pun saya masih belum berani untuk “melapor” ke walinya kelak. Saya masih senang dengan perasaan berbunga-bunga sendirian tanpa harus berbagi, juga masih ikhlas dengan mengecap perih secara mandiri. Kenapa harus merasa perih dengan seseorang yang bahkan tidak dimiliki? Pertanyaan itu yang saya juga belum tahu, meskipun sudah seringkali dipertemukan dalam beberapa kondisi sebelumnya. Secret admirer, pecinta dalam diam, friendzone, penerima harapan palsu. Beberapa hari selanjutnya, saya akan kembali akrab dengan semuanya.

Sumber
Saya mencoba menghindar darinya. Sejak sadar kalau menyukainya, saya tidak lagi begitu intens melakukan “pergerakan cantik” dengannya. Barangkali muncul rasa canggung di dekatnya. Saya takut kalau perhatian berlebihan hanya akan menimbulkan tanya darinya, tentang kenapa “berubah”. Padahal dengan menghindar, barangkali juga tetap menimbulkan tanya darinya, tentang kenapa “berubah”. Dalam kebanyakan kasus dengan persentase mendekati seratus persen, termasuk dalam track record saya atau statistik kisah romatis drama melankolis, salah satu atau semua yang terlibat dalam “suka-sukaan” akan tetap “berubah”. Dan menghindar adalah perubahan yang paling mudah, meskipun menyedihkan.

Beberapa hari yang lalu, ketika sedang menonton drama Good Doctor dengan Sayu, saya mengumpat perempuan yang memilih mengambil jarak dari laki-laki yang menyukainya. Sekarang, saya kembali tahu kalau itu barangkali akan lebih baik. Supaya tidak mengakibatkan harapan terlalu banyak dengan hukum kausalitas, pun supaya merasa tidak sedang lebih menyakiti hati.

Karena kalau saya hanya bersikap biasa–seperti Tari, saya tidak bisa mengendalikan getaran suara yang kapan saja bisa identik dengan tuna wicara yang gagu ketika saya berhadapan dengan imajiner. Atau menahan setiap peningkatan signifikan jumlah detak jantung persekian detik, barangkali akan sedikit berlebihan kalau diukur dengan patient monitor bisa saja mirip dengan penderita serangan jantung mendadak. Ah, ini memang “heart attack”.

Kali ini, untuk menampung perasaan saya, hanya dengan setumpuk huruf-huruf membentuk “sampah”. Karena saya tidak mampu berbicara lewat sinkronisasi lidah dan gigi, this is why words are exist.  Beberapa kali pula, kak Imam selalu mengingatkan untuk tidak memendam. Ya, dengan tulisan ini saya menjadi tidak harus memendam sendirian. Katanya, memendam bisa jadi penyakit. Tapi kak Imam masih tetap bersikukuh kalau caranya tidak dengan tulisan. Akan lebih menyenangkan kalau dengan kalau komunikasi dua arah, katanya lagi.

Saya tidak ingin terjebak deja vu semester satu lalu, ketika semua teman meributkan post tentang trigonometri, juga integral. Ketika semua teman yang selesai membaca tentang mereka, kemudian menerka-nerka dan mencari pembenaran dari saya. Ketika semua misteri tentang mereka pecah, dan semuanya benar-benar berakhir.

Hubungan saya dengan mereka menjadi amat renggang, dan sekali lagi, saya tidak mengharapkan mengulangnya untuk imajiner. Saya ingin berteman. Even it’s not simple to just friends with the girl you admire.

Sumber

***

Di perjalanan pulang dari Fort Rotterdam, daeng supet alias supir pete’-pete’ menyetel lagu Raisa - Could It Be. It’s funny when my another friends who were in such way is outside the pete’-pete’, Febri and Kak Wilam also sung.

“Lagumu banget ya, awal!” Kak Yuuka, (katanya) reporter paling militan menyindir saya yang duduk tanpa spasi di samping kanannya.

“Hehe,” saya hanya cengar-cengir, tidak tahu harus membalas apa. “Pernahki suka orang, kak?” saya lanjut bertanya dengan spontan.

“Ya iyalah, kenapa emang?” dengan logat Jekardaah-nya yang khas, kak Yuuka balik bertanya meskipun mengerutkan dahinya.

“Bagaimana sikap ta dengan orang itu?” saya balik bertanya, sangat kepo.

“…” Sesaat dia bercerita tentang masa lalunya (tidak saya tulis berhubung off the record). Orang yang kau suka pasti sadar kalau kau suka dengan dia. Perempuan punya insting, kak Yuuka menjelaskan tentang kaumnya, saya hanya mengangguk seakan mengerti.


Dalam hati saya membatin, imajiner tidak akan pernah tahu, as my wish, hopefully!

Related Articles

4 komentar:

  1. Hoaaa..
    1. Entah mengapa cemburu ka' liat foto sama lembagamu huhuh.. Sudahlah.
    2. Tentang "semua misteri tentang mereka pecah, dan semuanya benar-benar berakhir. ", huaaaaaa minta maaf ka' Awal. T_T Saya yang kasi tahu trigon tentang blogmu. Waktu itu entah kenapa, langsung terbayang mukanya trigon waktu baca tulisanmu. Dan langsung kuberitahu trigon yang waktu itu ada di sampingku. T_T Hubunganmu renggang? Keliatan. Maafkan.
    3. Tentang statement terakhir, tentang kaum perempuan. Saya nda' tahu, tapi kalau kau tanya saya, saya tidak tahu kalau ada orang yang suka saya.. Ah, iya. Belum pka jadi perempuan seutuhnya hahahah ('tidak peka", seperti yang mu bilang dulu ke saya. Yah, mungkin begitu)

    BalasHapus
  2. Bah, panjangnya komenmu :D (tapi nda masalah!)
    1. Iya sudahlah, kalau masalah ini jangan terlalu dipikirkan. Cuma menyiksa diri sendiri.
    2. Saya sudah memaafkan, jadi tidak usah dipermasalahkan kalau pernah menyebarluaskan ;)
    3. Ini baru masalah :v harus banyak belajar untuk lihat banyak modus teman (dekat) laki-lakimu :D

    BalasHapus
  3. 1, 2, 3 --- ini main hitungan ya???
    Tapi, ngomong2, kenapa ada orang yang mirip banget namaku ya?? -_-"

    BalasHapus
  4. hahaha mungkin kitami orang yang dimaksud memang kak :p

    BalasHapus