In Imaginary Talk Neptune Says

Pada hujan di Parangtambung, dan pada batu di Manggarupi

Bulan, hujan, batu, rumput hijau, ketapang, kertas origami, kaleng bekas. Pada mereka, saya lebih banyak bercerita. Tentu saja, setelah Tuhan. Saya berbicara, mereka mendengar. Selalu memainkan peran pemegang rahasia terbaik.

18 Maret 2014
Berhari-hari belakangan, hujan serintik pun enggan meluruh ke permukaan bumi. Maret mungkin tidak lagi mengharapkannya, tidak seperti saya. Hari ini, saya berharap hujan turun. Harapan saya terkabul, dan itu menyenangkan. Ketika harapan tidak hanya tinggal menjadi pemicu perih, ketika harapan benar-benar ada untuk ada.

Saat butir demi butir air hujan menyesap ke tanah, saya dengan beberapa teman kelas sebelah sedang duduk di depan jurusan. Serupa Jimmy Neutron ketika sedang memproduksi ide briliannya, saya meminta pendapat ke Erick. Mau ndak main hujan-hujanan?  Sebenarnya tidak hanya ke Erick, saya juga mengajak Pimen, tapi dia tidak mau. Everyone has their own choice, doesn’t it? Erick mau-mau saja. Ayo, katanya. Pipi’ yang baru datang ke kampus melihat saya dan Erick berhujan-hujanan, juga langsung bergegas menghampiri. Meskipun dia sempat ogah-ogahan, karena awalnya masih melapisi kerudungnya dengan jaket.


Awan mendung terus berarak di langit Parangtambung, menyisakan residu kondensasi untuk tiap siklus. Tidak terlalu deras, saya agak kecewa. Sebenarnya, saya menginginkan hujan lebih deras. Menuju lapangan futsal di depan jurusan, saya bermain-main, seperti tujuan awal saya. Berlompat-lompatan di atas genangan air yang beriak, kemudian memecah air sambil memeragakan pemain futsal sebenarnya. Membiarkan rintik hujan yang memang tidak begitu deras terus membasahi ujung rambut, wajah, jaket, celana bahan, hingga sepatu. Memainkan kodok kecil yang selalu bersemangat mencari jalan keluar ketika dua pasang kaki saya mengepungnya. Untuk beberapa saat, saya sangat iri dengan semangat yang dimiliki kodok itu. Seperti ini, saat-saat yang saya selalu rindukan untuk diulang. Tentang sakit kepala, pilek, atau demam yang bisa kambuh sekalipun, saya tidak mau peduli. Sebenarnya, saya ingin ikut meluruhkan tiap beban pikiran bersamaan dengan tiap sekian cc air hujan yang luruh dari asalnya.

Pada hujan di Parangtambung, saya bercerita tentang kanak-kanak saya yang (pernah) sangat menyukai hujan. Karena hujan hari ini tidak sama dengan hujan belasan tahun lalu, saya harus memberi tahunya. Kalau saya, dulunya adalah anak yang paling suka bertelanjang dada ketika hujan mulai turun. Sebelum saya takut bermain tiap jenis bola, saya bahkan selalu bersama dengan teman-teman masa kecil, berlarian di atas tanah berlumpur beriringan hujan, memainkan bola sepak sampai kelereng sekalipun. Juga tentang ibu yang selalu akan memaksa saya untuk berhenti berhujan-hujan, meskipun ia sendiri tidak pernah berani untuk menyeret saya di bawah hujan. Barangkali ibu takut sakit kepala karena hujan, meskipun saya tidak tahu betul relasi antara hujan dan sakit kepala. Karena setahu saya, hujan itu menyegarkan. Cukup sampai di situ saja.

Pada hujan di Parangtambung, saya juga bercerita tentang kenyamanan dengan “rumah”. Karena saat itu hujan tidak ada, di minggu malam, saya merasa perlu memberitahunya. Saya bersama dengan teman-teman, mendendangkan beberapa lagu yang kalau digabungkan bisa dijadikan sebuah album, meskipun sudah pasti akan gagal. Saat itu, saya menyadari tentang seberapa “intim” hubungan kami, sampai saya tidak pernah berpikir untuk menghilang, pergi. Sampai sekarang pun, pikiran saya masih tetap sama. Mereka, adalah teman yang baik. Minggu malam itu, saya ikut bercampur dengan mereka menyumbangkan suara. Sejak sekolah, ketika teman-teman saya berkonser ria di dalam kelas, saya lebih nyaman menjadi pendengar atau pemesan lagu. Bahkan untuk ketukan sekadar menepuk-nepukkan tangan di meja kelas, saya tidak pernah tahu betul. Di kelas 5 atau 6 SD, ketika salah satu stasiun tv mulai memperkenalkan audisi pencari bakat penyanyi, kelas saya juga dengan bangganya membuat akademi sendiri. Tahu saya jadi apa? Lebih sering jadi juri, dengan comment paling jempolan, “pitch control-nya masih kurang”. Dengan suara “unik”, saya tidak pernah gampang mengikuti nyanyian mereka. Tapi tidak di minggu malam itu, untuk beberapa kali, saya juga bergabung dengan mereka.

Pada hujan di Parangtambung, saya juga bercerita tentang kegundahan semalam-seharian. Karena hujan belum tentu tahu perasaan saya, saya hanya menceritakannya. Ia akan mendengarnya. Tentang saya, terlalu sering berprasangka buruk dengan diri sendiri. Merasa asing dengan diri sendiri. Menjadi seseorang yang bukan saya, ada pergulatan dalam batin saya yang menolak untuk segera berdamai. Sampai melakukan hal paling bodoh sekalipun, mengumpati diri sendiri. Beberapa hari menjadi manusia paling tidak berguna. Galau. Mellow. Depresi.

Sumber

Setidaknya, hari ini saya cukup berguna. Menjadi hiburan bagi mahasiswa yang duduk bersantai di koridor Prodi IPA. Entah mereka berbicara tentang apa, dengan tatapan aneh, saya cukup tahu kalau mereka mungkin saja berkata tentang saya. Kalau saya adalah makhluk frustasi yang bodoh berhujan-hujanan, padahal saya sudah mahasiswa semester "DUA". But, who I am to really care? I just need raindrops make me feeling better.

And it works, trust me!

***

19 Maret 2014

Seharusnya kemarin adalah hari di bukit Manggarupi. Terpaksa harus ditunda, karena lebih asyik bermandi sore dengan hujan di kampus. Hari ini, dengan Erick, dengan Pipi’, juga dengan Tari, saya kembali ke Manggarupi, setelah kedatangan saya di sini sebelumnya juga dengan Pimen. Apa yang saya inginkan dari berkunjung ke bukit ini? Melanjutkan cerita saya pada hujan yang masih bersambung, kemarin. Karena hujan kemarin, tidak cukup deras untuk menampung tiap beban.

Pertama, dijemput dengan tiang pancang rendah bertulis titah untuk membayar uang parkir seharga 1000 rupiah, masih tetap sama. Saya datang pertama dengan Erick, kemudian menjejaki lereng yang sudah cukup landai untuk dipijak. Kabar baik di antara kabar buruk, mobil pemecah batu memberikan ruang mudah bagi pengunjung untuk mendaki. Meskipun ini juga tidak sepenuhnya baik, karena akan lebih menantang kalau harus melawan sendiri hormon adrenalin yang membuncah dengan tiba-tiba ketika dihadapkan dengan situasi bisa jatuh terperosok kapan saja.

Hujan kemarin membuat rumput hijau di atas bukit masih terlihat segar. Tidak ada hujan hari ini juga membuat rumput hijau tidak membuat risih jika ditempati untuk singgah duduk. Tapi tetap saja, di bukit ini, tempat terbaik untuk duduk adalah, bebatuan lebar yang bisa memuat banyak orang. Batu itu yang cukup rata, kemudian bisa menjelma serupa bangku di taman untuk cengkrama pasangan berpacaran. Sore ini, batu itu hanya untuk kami berempat. Menjadi tikar untuk piknik sore kami, menjadi meja untuk kudapan kecil dan air mineral kami, juga menjadi loker untuk empat ransel kami. Kemudian saya mencari tempat pribadi, melanjutkan episode baru untuk monolog dengan batu.

Pada batu di Manggarupi, saya menceritakan hampir semua hal tentang imajiner, perempuan yang selalu di-khayal-kan sejak dua pekan lalu. Nama lengkapnya, ciri-ciri wajahnya, tempat kuliahnya, kesibukannya, kapan dan di mana pertemuan pertama saya dengannya, sampai bagaimana saya mulai menyukainya. Karena saya tahu, sebanyak apapun saya bercerita, dia tidak akan membocorkan rahasia. Sejauh ini, baru batu besar melengket sebagian di tanah-sebagian menggantung yang tahu sebaik itu.

Pada batu di Manggarupi, saya menceritakan tentang hari-hari terbaik dengan imajiner. Suatu hari yang lalu, ketika hanya ada saling senyum dalam hening. Tidak ada percakapan, hanya saya cukup percaya diri kalau ada saling “rasa”. Karena di antara laki-laki dan perempuan yang belum merasa cukup dewasa untuk saling menyayangi, status hubungan tidak begitu perlu dibicarakan untuk menjadi masalah. Cukup saling mengetahui, dan berkomitmen untuk menjaga perasaan, saling percaya, tanpa hal macam-macam lebih banyak. Setahu saya, cukup sampai di situ saja.

Pada batu di Manggarupi, saya menceritakan tentang hari-hari terburuk dengan imajiner. Beberapa hari yang lalu, yang tidak begitu lama, ketika hanya ada saling abai dalam hening. Tidak ada percakapan, berkonfrontasi dengan pikiran masing-masing. Saya sendiri, berpikir untuk menahan diri, mencoba bermuhasabah sendiri, apa yang salah di antara kami. Tentang dia, saya tidak tahu ada apa di pikirannya. Kemungkinan besar, harapan saya adalah sama dengan apa yang saya lakukan. Mencoba bermuhasabah sendiri. Sebenarnya, tidak ada yang salah di antara kami. Hanya perlu saling mengambil jeda sebentar, menemukan kembali apa yang seharusnya ada, lalu melanjutkan apa yang telah dimulai.

Sumber

Melegakan. Cukup tuntas untuk menyelesaikan opera sabun antara saya dengan banyak benda mati, setelah dua hari yang lalu dengan bulan, dan kemarin dengan hujan, dan hari ini dengan batu, dan besok dengan benda mati apa lagi? Sebelum pulang, Tari mendesak untuk berteriak. Dengan suara yang dipaksa macho, saya berteriak “A” panjang. Kemudian Tari mengajari saya berteriak “imajiner” panjang sekali, saya mengikuti serupa anak itik berjalan di balik induknya. Sekilas mengingatkan saya dengan kunjungan bakar ikan di Tanjung Bayang dengan teman sekelas ICP B Matematika 2012, ketika berteriak “geometri” ke arah laut lepas. Terakhir, Tari menyuruh saya meneriakkan kalimat “spesial” untuk orang paling dibenci sedunia, saya menyanggupi dengan suara serak yang tersisa, “AWAL, KUBENCIKO!!!”. Terlalu jelas, saya sedang terjebak dengan galau :p


p.s: Jumat ini, saya ingin berdamai dengan diri sendiri. I’ll be home tonight! Oh, besok bapak dengan ibu dengan adik-adik mau ke Makassar. Have a safe ride, I’ll wait for, here! 

Related Articles

3 komentar:

  1. "Karena di antara laki-laki dan perempuan yang belum merasa cukup dewasa untuk saling menyayangi, status hubungan tidak begitu perlu dibicarakan untuk menjadi masalah. Cukup saling mengetahui, dan berkomitmen untuk menjaga perasaan, saling percaya, tanpa hal macam-macam lebih banyak."

    --I like it! :D -

    BalasHapus
  2. kak imam: mantab skali kata-katanya kanda. I like it.

    awal: sy kecewa, sy nda pernah diajak ajak ke bukit. :(

    BalasHapus
  3. hehehe, main kecewa-kecewaan mikah? ayo kapan-kapan, ajak teman-teman kelasnya ;)

    BalasHapus