In Calculus Talk Geometry Talk Imaginary Talk Limit Talk

The ending

Perpisahan seperti apa sebenarnya yang kau harapkan?

Seperti perpisahan di halte busway yang baru dibangun di kota kita? Kau telah menempatkan separuh badanmu ke atas bus jurusanmu, saya masih menunggu bus lainnya–kita tak sejurusan.
Seperti perpisahan di bangku kayu taman Macan tempat kita terbiasa lari tiap pagi dan sore? Kau baru saja duduk ingin melepas penat sejenak setelah berlari lama, saya bangkit pergi melanjutkan lima putaran selanjutnya.

Seperti perpisahan di perempatan lebar di tengah kota? Kau memilih menikung ke arah kiri, saya percaya untuk berjalan lurus ke depan saja.
Seperti perpisahan di elevator gedung ikonik kampusku? Kau menekan mesra tombol menuju basement, saya ingin singgah di lantai satu.


Sumber

Seperti perpisahan sehabis kelas pak guru Bahasa Indonesia? Kau berkumpul dengan komunitas penggosipmu, saya berkumpul dengan teman-teman laki-lakiku.
Seperti perpisahan di kedai kopi satu-satunya di pasar? Kau belum selesai dengan segelas kecil kopi hitammu (apa yang baik dari kopi pahit kesukaanmu?), saya sudah menyeruput habis cappuccino panasku.

Seperti perpisahan di toko buku Gramedia TSM? Kau betah berlama-lama di rak buku paling laris. Saya tetap tak ingin beranjak selangkahpun dari rak novel metropop.
Seperti perpisahan di atas pete’-pete’ biru yang memutari kampusmu? Kau sudah tiba di tujuan akhirmu, saya masih mencari perhentian yang lain.

Seperti perpisahan di Facebook? kau sudah menon-aktifkan kotak obrolan setelah logout. Saya menekan salah satu nama perempuan lain yang menampilkan lingkaran hijau di chatbox.
Seperti perpisahan di bandara termegah sebelum orang Batak mengungguli kita? Kau menuju gerbang keberangkatan, saya menatap nanar punggung yang tak lagi mau berbalik.

Seperti perpisahan di masjid tepat di samping kelas? Kau bergegas lewat pintu belakang menuju shafmu, saya ke depan hijab kaummu–tetap saja saya bukan imammu.
Seperti perpisahan di rumah sakit? Kau sudah tak terindikasi “ada” bahkan setelah dipaksa dengan defibrilator sekalipun, saya hanya memberitakan kabar kematianmu ke semua teman-teman.

Sejujurnya, saya sama sekali tak ingin memilih perpisahan macam apa. Tak satupun yang saya harapkan. Tak satupun. Tak ada yang lebih menyeramkan daripada menatap “yang pergi”, atau ditatap “yang tinggal”, atau saling tak menatap dan ditatap lagi. Selamanya. Pergi, dan tak lagi kembali.
Kenyataannya, kita tetap berpisah.

Kita memilih. Perpisahan setelah lulus sekolah menengah atas. Kau kuliah untuk mimpimu–menjadi dokter, saya kuliah untuk mimpi yang beda.

Adakah perpisahan mampu mempertemukan kembali? Lebih baik, jangan. Lebih baik, kita tetap berpisah.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar