In Imaginary Talk

Ada hal yang orang lain tidak perlu ketahui

Tiga akhir pekan kemarin berturut-turut, waktu selalu habis di Tanjung. Dua kali di Tanjung Bayang, sekali yang terakhir di Tanjung Bira. Ada baiknya juga, menenggelamkan diri ke dalam pantai sekalian menenggelamkan tiap hal yang mengusik diri selama lima hari "kerja" sebelumnya. 

***

Dua akhir pekan kemarin, saya "minggat" dari tiap tempat yang saya labeli rumah, semuanya. Saat itu memang saya berniat untuk merantau sebentar, tidak ada maksud lain, hanya sejenak ingin tidak sedang ada di rumah. Gayung bersambut, teman di kelas sebelah mengundang diri untuk berkumpul bersama di tempat yang persis sama dengan tempat saya di sepekan lalunya. If you need to know, that's where I leave some memories about geometryand imaginary. Saya tetap saja tidak bosan untuk berkunjung. Karena itu adalah tempat berpasir di tepi pantai, saya kerap kali menggoreskan tulisan besar-besar yang belum cukup beberapa detik, selalu disapu lambaian ombak yang saling memacu bergantian. Berharap sebelum itu, orang yang ditujukan mampu mengerti apa yang dimaksudkan. Kemarin pun, saya kembali mencoba "mengubur" kenangan buruk lamamasih tentang imajiner. 

Di sabtu malam, saya mengajak salah satu teman, mari membeli minuman kaleng (atau botol), lalu menuliskan beberapa paragraf yang tidak sempat tersampaikan untuk seseorang siapa saja di atas kertas note sambil duduk beralas tikar natural yang disebut pasir, dan jadikan keduanya satu lewat surat dalam kaleng, mari melarung bersaksikan langit pekat malam, dan beberapa bintang yang kelap-kelip, dan bulan perak yang sesekali tampil malu-malu di balik awan. Ia mengangguk, nampaknya antusias dengan ajakan saya. Dan semuanya berjalan sesuai rencana, aman terkendali kemudian berbalik pulang ke pondokan. Saya tidak tahu lagi, kalau pembersih pantai malam itu kemudian mengambil surat kaleng yang tidak pernah sampai ke tujuan pengirimnya.

Di minggu siang pun, satu jam sebelum memastikan untuk kembali hidup sebagai penyepi di kamar kost, saya kembali menyempatkan untuk menjumpai apa-yang-dikuasai-oleh-neptunus-bagi-sebagian-orang-yang -mengimani. Sementara belasan teman lainnya lebih memilih untuk membodoh-bodohi diri dalam permainan jebakan: truth or dare. Atau truth or dead, bagi saya, karena permainannya disepakati hanya dengan satu pilihan, yang bermain satu-persatu "dipaksa" menjawab pertanyaan dengan jujur, tanpa ada secuil jawab bohong di antara duduk melingkar mereka.

Sejujurnya saya memang sedang lari pula dari mereka. Ada beberapa "dirty little secret" yang cukup menjadi bahan konversasi serius antara saya dan Tuhan, tanpa orang lain menguping. Seperti siapa imajiner sedetail mungkin, yang seperti itu memang hanya perlu dikenal sebagai imajiner, tanpa dibicarakan sebagai mahasiswa di fakultas antah berantah, Atau sebagai perempuan yang paling sedikit empat kali dalam sepekan kami saling sepakat bertemu di suatu tempat. Kalau nanti kami benar berpisah, saya akan betah berlama-lama di tempat itu. Untuk beberapa jenak, mencoba mengulang adegan lama dengan sendirian. Persis seperti pengidap "imaginary relationship syndrome". Ah, di antara kami bahkan tidak pernah mencoba untuk mengucap kata "saling pergi". 

Sumber

Terkadang ketika beberapa orang mulai menyibuki diri mereka untuk mencari tahu tentang imajiner, membuat saya ngeri sendiri. Atau, ketika beberapa orang mulai berspekulasi sepihak dan terlalu sok tahu, sampai pada akhirnya tetap salah menebak, juga membuat terasa konyol sendiri. Ya memang tidak ada salahnya bertanya atau mencari tahu tentang imajiner, tapi apa yang hebat setelah mengetahui imajiner (saya)? Karena sejujurnya pula, saya tidak mengharap bantuan orang siapa pun tentang saya dan imajiner.

Tentang siapa imajiner, mari sepakat bahwa kita sedang berbicara dalam ranah privasi saya. Kalau diibaratkan dalam rumah, segala seluk beluk paling lengkap yang sehubungan dengan imajiner, saya menguncinya rapat-rapat dalam suatu kamar. Ini tentang satu hal yang orang lain tidak perlu meraba-raba. Di dunia ini, memang ada satu atau beberapa hal yang sejatinya tidak perlu diketahui oleh orang lain. Seperti kenyataan yang kalau diketahui hanya akan membekaskan luka lebih banyak, seperti invers suatu imaji yang hanya akan menjadikan diri sebagai "pesakitan". Dan tentang mengetahui siapa imajiner, barangkali tidak akan serumit itu implikasinya. Namun saya hanya akan tetap meneguhkan pendapat untuk tidak mengungkapkan siapa imajiner, sebagaimana tidak mengungkapkan rasa tentangnya kepadanya. Alasan mengapa siapa imajiner menjadi privasi, pun juga tetap privasi.

Sumber

***

Akhir pekan kemarin, saya kembali pulang kampung. It's weird because i went home, but i didn't really go home. Jumat malam, saya dan teman lembaga masuk "klinik". Dibekali dua materi, kemudian mencoba untuk lebih mengakrabkan diri antar sesama. Hal yang cukup menjadi electric shock adalah saya ternyata terjebak dalam "permainan" jujur-jujuran. Di antara sekian banyak permainan, itu adalah salah satu permainan yang seharusnya paling saya hindari, kedua setelah permainan bola apapun. 

Untungnya dalam permainan itu yang membuat mata tetap melek hingga cahaya mulai memendar dari timur, tidak sedikit pun menyinggung tentang rasa. Saya bersyukur, meskipun tetap diiringi perasaan risih dalam hati. Suatu kesempatan, seorang teman mengkritik saya karena pernah tidak membicarakan masalah yang membuat saya sempat menghilang dari "rumah" dalam beberapa hari. Kesempatan lainnya, teman yang lain menyanggah kalau mereka adalah keluarga yang selalu bisa diajak untuk bercerita segala hal. Beberapa teman lain ikut pula menyanggah kalau di antara semua, saya termasuk paling suka menyendiri, menutup diri. 

Urusan privasi. Lagi-lagi saya beralasan karena tidak semua hal menjadi perlu untuk dibicarakan, pada keluarga sekali pun. Dalam keluarga denotatif sekalipun, ada banyak sekali rahasia antara saya dengan orang tua. Memang saya hanya berbicara sekenanya dengan bapak dan ibu. Tentang pengakuan beberapa teman kalau saya masih suka menyendiri, itu cukup sulit untuk saya percaya. Karena saya merasa, sudah mulai menjalin hubungan emosional dengan mereka, dan sudah banyak berkembang daripada pertama kali bertemu dengan mereka. Ah, atau mungkin mereka memang benar dan saya hanya terlalu merasa banyak belajar. 

Saya memang masih akan tetap belajar. Itu salah satu alasan utama, mengapa harus bertahan dengan sebelas teman angkatan lembaga yang tersisa. Termasuk belajar dari beberapa teman menyikapi rasa dengan orang-orang yang disukainya. Biasanya kalau melihat mereka, saya jadi senyum sendiri, melihat refleksi diri dari orang lain. Jadi mari sama-sama bertahan di lembaga, sama-sama mempertahankan rasa dengan orang yang disukai. 

(Foto: Sofyan)

Related Articles

5 komentar:

  1. DEMI APA PERASAAN KITA SEDANG SAMA!!
    APA KITA JODOH? HARUSNYA KITA BERJODOH! HAHAHAH

    Baiklah.. mari belajar lebih baik. =^^=

    BalasHapus
    Balasan
    1. "APA KITA JODOH? HARUSNYA KITA BERJODOH!" Maafkan kepolosan saya, tapi ini bukan penembakan, kan? :p

      Hapus
    2. silahkan menafsirkan sendiri :p

      Hapus
  2. ahhh. mulai merambar ke dunia hati. mallaka saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa takut bicara hati-ke-hati?

      Hapus