In Imaginary Talk

To be just friend

Berhari-hari belakangan, teman-teman di "rumah" hobi menyapa saya dengan "galau".`Semuanya mungkin berawal dari tiap status facebook yang sebagian besar berirama mellow. Padahal, kebanyakan dari semuanya, tiap status yang dicap galau itu, pun adalah status hasil bajakan. Seperti "cinta ini membunuh ku", pelakunya masih samar-samar. Setahu saya, saya meninggalkan akun tanpa log out di komputer Front Office Laboratorium, karena harus segera bergegas untuk ikut kelas Bahasa Indonesia. Bikin kesalnya, ujung-ujungnya pun, duduk diam di dalam kelas selama lebih dari tiga jam masih tetap tidak dianggap hadir pasal terlambat semenit. Tahu begitu, lebih memilih untuk kongkow bareng di Pinisi, as always. Makin menjengkelkan, bukan?

Atau, "Hati ini weh,bukan tisu yang bisa kau buang begitu saja kalo sudah kopake,,," yang pun masih produk bajak teman serumah, Febriawan. Oh ya, saya juga mau beri ucapan selamat untuk rumah barunya, Senja itu sementara, tapi karena sementara-nya yang membuatnya spesial. (i quoted from "Cinta.", if you've read before). Dan... ah, justru dia pula yang menjadi salah satu penyapa galau, atau ikut menyebut-nyebut imajiner. Paling mengesalkan, kalau dia juga ikut-ikut menambahkan dengan geometri, perempuan yang sekarang saya tidak tahu benar rimbanya. Saya hanya tidak suka kembali diingatkan tentangnya.

Berhari-hari belakangan pula, saya dikabari nyaris seragam cerita. Kak Nuni, misalnya. Setelah lama saya dibuat menunggu, ia membuat postingan baru di "rumah maya", sekali menulis berkisah tentang ia tidak mau lagi menunggu laki-laki yang sebelumnya selalu menjadi pemeran pendampingnya. Meskipun, ia selalu mengaku hanya menulis tulisan fiksi, insting saya selalu bilang kalau semuanya adalah nyata, bukan semu semata. Ah atau mungkin, saya memang terlalu sok tahu saja.

Cerita kedua, dari salah seorang "tetua" di rumah. Sepertinya, ia sudah mulai tidak suka disebut-sebut namanya di postingan saya. Beberapa hari yang lalu, postingan-nya menyiratkan kalau ia sudah ingin berhenti mengharapkan sesuatu yang menurutnya tidak mampu ia raih. Memang seharusnya begitu, bukan? Tidak perlu berharap pada sesuatu yang palsu, supaya tidak dijadikan korban pemberi harapan palsu. Tentang ia, yang sudah terlalu risih dengan menunggu lagi. Ia pula yang kemudian paling banyak menyadarkan, masihkah saya untuk perlu menunggu? Atau perlukah saya untuk masih berharap?

Dua kalimat tanya itu yang membuat hari-hari setelahnya, bahkan sampai sekarang, berjalan terlalu lambat. Membuat pikiran banyak bercabang, padahal banyak masalah yang lebih penting lainnya. Tentang produktivitas di salah satu tempat yang beberapa saat butuh presensi saya, atau jumlah lambang "a" yang makin lama sudah di ambang batas seharusnya di beberapa kelas. Bapak yang kerap kali menelepon, meskipun selalu bertindak seperti remainder di ujung pembicaraan. Ingat kuliahmu nak, jangan organisasi sampai mengganggu, titahnya dengan intonasi yang direndahkan makin dekat ke titik akhir bicara.


***

Sumber
Masihkah saya untuk perlu menunggu? Suatu waktu yang lalu, saya dan imajiner sedang berkencan. Ah, saya tidak punya kata lain untuk mensubstitusi kata "berkencan". Mau diapa lagi, pikiran saya tentang berkencan, berkutat di menonton film bersama, atau makan malam berduaan. And we really did. Di saat itu pula, ia-imajiner mengucap pengakuannya sebagai silent reader tiap tulisan-tulisan saya sebelumnya. Saya yang tidak melakukan pengakuan, kalau imajiner sebenarnya adalah dirinya sendiri. Meskipun pada akhirnya, ia tetap menimpali kalau ia tidak mungkin boleh dijadikan sebagai imajiner. Barangkali kode saya yang terlalu jelas, atau dirinya saja yang terlalu peka. Sebenarnya, saya menafsirkannya sebagai bahan candaan saja. Memang kebiasaan kami kalau sedang bersama, dua per tiga dari tiap ucapnya nyaris lawakan. Karena setelah pertemuan itu, pun kami masih biasa-biasa saja.

Masihkah saya untuk perlu menunggu? Sesungguhnya beberapa saat setelah "kencan" kami, i myself justru malah terus diingatkan dengan pengakuannya. It's weird when i was thinking i am okay, actually i am not. Ini tentang sebuah pengakuan yang membuat pengakuan lain tetap terhenti, sebatas diam. Fragmen konversasi kami-saya dan imajiner- sedikit banyak datang menyertakan gemanya untuk beberapa waktu. Memekakkan telinga, serupa menyimak lolongan anjing, saat benar terdesak. Di saat bersamaan pula, dua orang yang sering saya kunjungi rumahnya secara tidak langsung ikut pula memengaruhi pilihan saya. Ya, mungkin sudah saatnya saya tidak lagi menunggu.

Sumber

Perlukah saya untuk masih berharap? Saya memilih untuk tidak lagi menunggu, berhenti menantikan tiap kode yang terbalas oleh rasa peka. Namun "penolakan" terselubungnya, meskipun kami tidak pernah berbicara benar tentang pengakuan malam itu, saya justru tetap membenci kode, membenci peka. Karena itu pula, saya lebih mengharapkan untuk ikut melupa perihal cara berharap.

Tanpa harus membenci, tahukah kamu cara terbaik mengikis rasa? Tidak usah dalam sekejap, tidak mengapa harus banyak menunggu lagi.Karena hanya teman, sudah lebih dari cukup menjadi alasan untuk saling memahat senyum. Tanpa perlu harap-harap lainnya.

Perlukah saya untuk masih berharap? Ya, andai bisa semudah itu. Sayangnya, saya terlalu gemar pikun untuk berkomitmen dalam hal ini. Serumit untuk bisa menekuri mimpi lebih dari 4 jam per hari. Memilih untuk menjadi teman saja, selalu terhenti ketika kembali bertemu. Saya curiga, alam memang sedang berkonspirasi untuk mempermainkan perasaan salah satu khilafahnya. Andai imajiner, tidak lagi memancing harap-harap yang sudah dilempar jauh. Tiap saya terlalu dekat dengannya, saya belum bisa mengontrol kupu-kupu yang mendadak terbang di dalam perut. Atau tiap saya terpisah spasi cukup jauh, pun saya masih belum bisa berhenti bertanya-tanya sendiri, perkara bagaimana kabarnya, perkara siapa sedang bersamanaya. Tiap saya dengan jelas dipertontonkan ia sedang terlalu dekat dengan laki-laki lain, tetap saja masih ada rasa jengah sendiri, semacam perasaan cemburu. Kesalahan terbesar saya, adalah saya tidak tahu memperlakukan diri sendiri dengan teman biasa atau menempatkan diri pada seseorang yang masih disukai.

Baiklah, mungkin saja, saya masih tetap menyukai imajiner. Tentang "canda"-nya, kalau menyukainya adalah salah, ia tetap saja tidak berhak menghakimi rasa. Di suatu kesempatan, saya meluapkan "dendam kesumat" yang sempat terpendam, saya memasang status bajakan untuk akun Febriawan, "aku sudah paham betul, menyukaimu hanya menyisakan luka pada akhirnya. entah bodoh, entah sudah terlampau suka, aku masih saja tetap menyukaimu. ini juga salah?", saya tertarik dengan salah satu komentar. Dari kak (cappu)Cinno, katanya, menyukai itu bukan memilah-milih, akan tetapi kesepahaman logika dan kesepakatan rasa. #aro

Sumber
Bagaimanapun, saya mengaku kalau masih akan menjadi lebih baik untuk berteman saja. Saya masih mencoba, saya sedang berusaha: to be just friend. I choose not to admire you anymore, my imaginary girlfriend...


Related Articles

7 komentar:

  1. Kalian seperti bikin kesepakatan tentang rasa. Kesepakatan untuk tidak menunggu. Berteman saja? Timingnya sampai bersamaan begitu.. (Kalau saya sudah melakukannya sejak setahun lalu. tidak ada yang tanya.. hahahah)

    Hoaa.. KENCAN? Kau sudah sampai tahap itu? Baiklah siapa ajarko? Ajarka' juga! Hahah Saya nda' bisami.

    Tentang "canda"annya imajiner"mu", ada yang sedikit ku mengerti, makanya waktu 1 April itu kumention ko. Dan setidaknya, kau harus tahu apa yang kupikirkan waktu itu..

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. apalah kau ini,pake bawa2 nama saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebelum ini pun, saya pernah sebut namamu. besok2 juga. :p
      bawa2 namamu juga mesti pake bayaran? :D

      Hapus
  4. hahahaha....kenapa na ada komentarnya Febri tawwa dihapus? Ckck....takut ka saya sama yang punya "rumah". Hahahahhaha..... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan saya yang hapus kak, nah. dia sendiriji kayaknya-,-

      Hapus