In Imaginary Talk

Kepadamu, kita yang tak lagi sama

Temanku berasumsi sama, bahwa kamu sudah mulai tahu tentang rasa yang masih menunggu terucap. Dua teman di angkatan Epsilon. Satu teman kelas di SMA. Dua teman magang di lembaga. Mereka, lima perempuan yang paling tahu cerita saya, sama-sama sepakat. Bahwa tingkahmu akhir-akhir ini, tentang sikapmu yang mulai berubah, mengimplikasikan kita yang tak lagi sama, terimplisitkan kamu setidaknya menyadari ada rasa yang seharusnya tak ada di antara pertemanan dekat laki-laki dan perempuan.
Sudah lebih dari dua pekan, saya pikir. Dalam rentang kala itu, beberapa kali saya mendapati sepasang organ di wajahnya yang ranum cukup sering menekuk. Padahal biasanya, ia adalah perempuan yang terbiasa mengembangkan senyumnya untuk orang-orang dekatnya. Selalu terlintas untuk menggugat bahasa wajahnya, sama selalunya pula hanya tertahan dalam hati. Sebenarnya luka apa yang membuatnya jadi tampak sesakit itu? Mengubah wajah yang semestinya tenang-tenang saja, menjadi rupa yang meringis sendiri. Saya lebih asyik berhipotesa sendiri berulang kali, sambil berpura-pura melewatkan transformasi pembawaannya. It hurts you this way, when you need to know and you do nothing. Simply because you really can't.

Sumber

Dia sanguinis, awalnya. Sebelum seperti sekarang. Sedikit tentangnya lagi, ia tak begitu teradiksi media sosial. Jarang, ia untuk sekadar memperbarui status di facebook, apalagi menjumpai maksimal 140 karakter darinya lewat linimasa. Terang saja, saya menjadi tidak begitu perlu untuk selalu mencari tahu keadaanya dengan menguntit akun mayanya. But what makes me feel bad recently, ia menjadi perempuan yang jelas terbaca melankolis di beberapa hasil jelajahan saya. It's just not her, i suppose. Kalau ia memang sanguinis, seharusnya ia tidak tahan memendam perihnya sendirian. She should to know, with whom to share.

Sebelum-sebelumnya, agak mudah untuk melakukan pertemuan, entah singkat atau sangat lama sekali pun, dengannya. Beberapa saat ini, sudah tidak semudah biasanya. Selalu saja ada alasan yang membuat beberapa janji tak sempat direncanakan, atau harus dibatalkan juga. Kalau pun sampai bertemu, hanya ada pertanyaan basa-basi yang saling dilempar, yang barangkali tidak punya esensi dalamnya. Setelah itu, sadar atau tidak sadar, saling mencipta hening yang lama hingga pertemuan menjumpai akhir untuk sementara waktu. Seperti siklus melingkar, selalu terulang dalam tiap pertemuan-pertemuan "terpaksa" selanjutnya. Sebenarnya, apa yang selalu ia tunggu? Suara pecahan gelas yang ikut memecah tembang pilu lewat speaker di as always tempat pertemuan "kita"? Tunggu sampai kapan pun, kalau benar terjadi, justru hanya akan lebih rumit jadinya. Selesaikan bill-nya setelah itu di meja kasir!

Yang paling menyebalkan dari hubungan "kita" beberapa hari ini adalah, saling menarik-ulur serupa menggantungkan harapan untuk dijatuhkan kembali. Beberapa hari kita saling mencipta spasi yang sama, lalu sesudahnya kita sama-sama berbalik untuk mencari. Namun lekas, kita hanya tetap kembali menjadi sepasang orang asing, pura-pura tidak mengenal, pura-pura tidak acuh.

Lari ke mana canda yang tak pernah lupa absen mengundang tawa renyah? Lupa adegan bertukar rahasia, tentang umpatan untuk dirinya sendiri, tentang kekesalan yang lebih suka saya pendam dengan beberapa orang? Bersembunyi di mana kalimat saling menguatkan kalau salah satu di antara "kita" mendekati titik lebih rendah, sebelum benar-benar tersandung ke bawah? Or still you remember, anything you need, i am here?


"Kita" benar-benar sudah tak sama. Selalu canggung saat bersama, jauh tak sama seperti biasanya.

Kamu tahu, apa yang selanjutnya terpikir dari teman-temanku? Canggungmu seperti kode perempuan yang sedang menunggu, bahwa (menurut temanku) kamu juga menyimpan rasa serupa. Sayang, aku justru ngeri kalau harus memercayai mereka. Bagaimana jika diammu untuk membuat tetes harapan makin menguap makin berlalunya waktu, sampai tak berbekas lagi? Tentang canggungmu, yang risih karena menyadari rasa yang masih menunggu terucap, menyadari ada rasa yang seharusnya tak ada di antara pertemanan dekat laki-laki dan perempuan.. 

***
My only one fear in this living world is losing her, the last time i look her pretty smile. I'll be miss her so. - Dr. Will Caster (Transendence)

What way should we take? To make it right...

Related Articles

2 komentar:

  1. Paragraf pertama. Saya getir membacanya. Ku kira kau menyimpan sendiri nama 'orang yang selalu menjadi penyebab tingkah mu akhir-akhir ini'. Ku kira itu masih menjadi rahasia untukmu sendiri. Lima orang? Perempuan? (I just feel myself slowly becoming less important to you.)

    Next paragraph, I get this really deep ache in your heart (I don't know why? me too). Everything just hurts.

    Menjadi canggung. Ini yang selalu saya takutkan saat menyukai seseorang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentang nama, saya masih tidak menyebutkan kepada siapapun. Mereka berlima, masih belum tahu tentang (si)apa "imajiner". Dan kau harus tahu, di antara mereka berlima, kau adalah salah satunya. Mungkin, kau tidak sadar. Tapi tentang opini kalau saya "salah paham", itu menjadi referensiku. You're still one of the one I talk mostly with :D

      I don't know why, but it just happened. And i am happier after wrote. Believe me! :)

      Hapus