In Slice of Life

Meninggalkan, ditinggalkan?

Malam ini, sekitar pukul sepuluh, saya sedang menyusuri jalan Daeng Tata dengan berjalan kaki. Niatnya, saya ingin mendamaikan perut yang sudah merongrong minta jatahnya selarut ini. Dengan rencana sebelumnya menarik uang yang hanya cukup selembar uang 50 ribuan dari mesin ATM. Berpikir dompet yang makin menipis, dengan perasaan berat dalam hati, mengirim pesan singkat ke Ibu untuk minta dikirimkan uang lagi.

Beberapa saat kemudian, ponsel berdering. Panggilan dari Ibu. "Nak, lihat besok kalau sempat dikirimkan uangnya," suaranya agak bergetar. Saya langsung sadar, ada yang tidak beres di kampung dari nada bicaranya. "Puang Lisu-mu nak, saya dipanggil datang menjenguk ke rumah sakit. Sudah gawat. Tunggu kabarnya," saya membiarkannya menjelaskan berpanjang lebar. Bukan hanya karena memang ingin mengorek lebih banyak informasi tanpa memotong bicaranya, tapi juga terlalu kaget sampai tidak tahu harus menjawab dengan ucapan apapun.

Saya berhenti berjalan, menepi ke tempat duduk yang seakan sudah ditakdirkan untuk disinggahi malam ini. Duduk sebentar, mata saya mulai memanas, perlahan diikuti pula dengan mata yang menyadarkan kalau masih tidak kering dari air mata. Bukan apa-apa, malam ini saya menyadari ternyata sudah merasa jauh dari keluarga.

Namanya Lismawati, sering dipanggil Lisu. Adat keluarga, mentradisikan untuk memanggilnya dengan awalan Puang. Puang Lisu. Kalau dalam bahasa Bugis, lisu berarti pulang. Ah, ia memang kerap kali menjadi tempat saya untuk pulang. Pintu rumahnya yang tepat berada di sebelah rumah selalu terbuka kapan saja untuk saya, dan keluarga lainnya. Adalah ia, yang setiap saya sakit dulu, tidak pernah bosan apalagi mengucap keluh, kalau harus menjaga saya. Bapak dan Ibu setiap jam kerja tidak pernah nyaris di rumah, jadi saya memang selalu dititipkan ke rumahnya. Saya tidak ada masalah, apalagi dengan Puang Lisu, selalu menyambut dengan senyum yang mengikuti arah tahi lalat di pipinya. 

Satu pengalaman yang paling membekas antara saya dengannya, sewaktu kelas VIII SMP. Saat itu, saya menerima reward uang yang cukup banyak dari Dinas Pendidikan di kabupaten. Ibu menyuruh untuk menyedekahkan sedikit ke beberapa orang keluarga dekat, salah satunya Puang Lisu. Hanya beberapa langkah keluar rumah, saya menghampiri kediamannya, tepat di sebelah barat rumah saya. Saat memberikan uang, ia menolak, sangat keras. Saya memberi, ia mengembalikan. Begitu seterusnya, tetap pada akhirnya saya berkukuh untuk tetap memberikannya. Lalu dari pupilnya, mulai timbul warna merah. Ia berkaca-kaca, dan melihatnya seperti itu, saraf tak sadar merangsang saya untuk mengikuti responnya. Saat itu, saya benar-benar tersentuh. She's the best auntie from my dad ever, i guarantee.

Dan tanpa saya tahu, sejak Minggu ia diantar oleh Ibu ke rumah sakit kecil di desa tetangga. Ia langsung dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Setelah didiagnosa, ia ternyata menderita penyakit jantung, dan gangguan tekanan darah. Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau ia bisa berpenyakit separah itu. Kalau itu adalah suaminya, barangkali saya tidak akan seheran ini. Suaminya memang pecandu rokok, sangat aktif.

Berpikir, merenung, semua yang sedang terjadi adalah kekonyolan paling gila. Bagaimana mungkin, seorang anggota keluarga sedang berselimut lara, sementara saya melayang bebas tanpa beban berat secuil pun. Kemudian lanjut bertanya, seberapa pantas saya tetap dianggap bagian dari keluarga?

Apa yang paling menyesalkan adalah terlalu sering menyibuki diri dengan masalah remeh-temeh. Berbulan-bulan terlalu larut dengan masalah yang sebenarnya lebih banyak dibuat-buat, beberapa hal yang semestinya tidak perlu ada. Sampai di titik di mana saya (di)lupa(kan) bahwa saya masih punya keluarga, dalam makna aslinya.

***

Pukul 08:31 am. Saya baru bangun tidur, di ruang Divisi Penerbitan. Sudah bermalam-malam, saya memang tinggal di rumah ini. Hal pertama yang saya lakukan adalah, mengecek handphone. Two missed calls, dari Ibu. Saya tidak punya saldo pulsa yang cukup untuk menelepon balik, pun dengan mengirim pesan singkat lagi. Tidak cukup semenit menunggu, ada panggilan baru, masih dari Ibu.

"Dimana, Nak?" Pertanyaan pembuka yang saya tahu sejak awal hanya untuk penenangan diri. Sesekali, Ibu sesegukan. Benar-benar ada yang tidak baik-baik saja.

"Di Hartaco... Har-ta-co," suara saya tidak ia tangkap begitu jelas sampai harus mengulang jawab berkali-kali.

"Jangan kaget, Nak. Ya?" Ia sepertinya tidak pernah tahu, saya sudah kaget sejak melihat dua panggilan tak terjawab tadi. Dan menjadi lebih ngeri lagi setelah diminta untuk tidak boleh kaget. Namun saya tetap mengiyakan, bahwa saya tidak akan kaget. Setidaknya, saya tidak memperdengarkan ungkapan kekagetan lewat telepon secara langsung.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun," saya mengucap dengan pelan, nyaris tak bersuara. Ini hanya persoalan urutan, cepat atau lambat, saya memang akan melirihkannya.

"Puang Lisu-mu sudah tidak ada, Nak," nada bicaranya mulai sangat tidak teratur menuju ujung akhir bicaranya. Saya sudah tidak mampu untuk berusaha menahan perih yang merambat ke mata, saat itu saya merasakan cairan bening dari pelupuk. Sebisa mungkin, tidak menangis dengan berlebihan.

"Ibu tidak bisa kirimkan uangnya hari ini, Nak," Oh Tuhan, mengapa Ibu jadi sepolos ini di tengah rintihnya. Setega apapun saya, tidak pula saya menagih janjinya untuk sekarang. Ibu, kalau masalah ini, saya masih bisa menahan diri untuk tidak jajan, tidak perlu kuatir. Lagi pula, kalau benar dalam keadaan terdesak, saya bisa meminta bantuan teman.

Berita duka pagi ini memang mengendorkan semangat pagi yang seharusnya mengawali hari. Urat senyum sudah terlalu malas bagi saya untuk diaktifkan. Beberapa saat, saya mencoba berpindah pikiran, sedang di suatu tempat, hanya ada saya tanpa siapa-siapa. 

***

Saya tiba-tiba kembali mengingat nasehat dari seorang petugas kamar jenazah di RS Unhas. Dek, kematian itu pasti akan terjadi, akan datang pada masanya. Biar bagaimana pun, akan kita lalui.

Salah seorang anggota keluarga meninggal, di kampung, terpisah beratus kilometer oleh jarak. Saya mencoba mereka adegan yang barangkali sedang terjadi di kampuang nun jauh di mato. Semuanya sedang merasa sedih, mutlak. Di sini, sesaat sebelum mengejar mobil sewa yang akan mengantar saya pulang, saya menyelipkan harap dalam hati: semoga setiap orang menjadi lebih tabah setelah ini. 

Dan untuk yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya, berpulanglah dengan damai. Saya mendoakan, bahwa ibadahmu lekas mendapatkan rahmat dari Tuhan, menentramkanmu. Selamat jalan.


Related Articles

1 komentar: