In Imaginary Talk

Seharusnya sekarang

Di suatu tempat yang didatangi tiba-tiba, tetapi sungguh, bukan kebetulan. Terpisah hanya dengan meja, kita duduk saling berhadapan. Kita sedang bersama, berduaan. Ah saya nyaris saja lupa, ada beberapa orang lain tak dikenal juga, yang barangkali sama maksudnya datang ke tempat ini.

Seharusnya sekarang, saya mulai membicarakan setiap kata yang sering dilafalkan berulang-ulang di depan cermin. Pengakuan tentang rasa yang terus tertahan dalam hati. Saya memang berlatih ekstra untuk hal ini, dan mungkin perlu kamu tahu, ini sejujurnya bukan lagi yang pertama kali. 

Lalu, kenapa suhu sedari awal menjadi beku. Padahal, hanya kipas angin kecil dengan mode satu di ruangan ini yang semestinya tidak akan mampu mencipta suhu sampai sedingin ini. Sampai bibir kita sama-sama dibuatnya kelu, sampai tak tahu harus memulai konversasi sebagai pembuktian kalau kita tak sama-sama gagu.

Siapa yang tahu, apa yang ada dalam pikiran kita kalau tak saling jujur mengeluarkan segala kecamuknya? Saya, sudah jelas, mencoba memilah tiap jenis kata yang ingin diucap. Kamu? Barangkali sedang berpikir untuk bagaimana cara agar lebih cepat pulang. Atau, apa pun. Di sini, saya mengaku, rupanya belum begitu mengenal tentangmu. Maafkan, karena saya selalu berpura-pura (sok) tahu segala hal tentangmu.

Tahukah, sebenarnya saya terlalu takut dengan beberapa probabilitas yang nantinya bisa makin memperburuk keadaan kita. Karenanya, saya lebih banyak menundukkan pandangan, sambil sesekali memandang lekat wajahmu yang sudah tidak betahan. Ya, wajahmu terlalu kusut untuk diajak membicarakan sesuatu yang penting. At least, IMO, ini penting, Makanya saya memutuskan, saya belum siap jujur, meskipun sudah seharusnya sekarang.

Ayo pulang, katamu. Kita benar-benar menyelesaikan pertemuan, tanpa menarik konklusi. Dan, hipotesis masih ada di awang-awang; entah hipotesis diterima, entah ditolak.

Besok, lusa, atau nanti yang lain. Pasti. Sebelum salah satu di antara kita benar-benar tak mampu diindrai lagi. I promise.

***

Apa yang membuatmu menjadi begitu betah untuk memendam?

Tidak lagi. Tidak sekarang. Karena saya mulai tersadar, bahwa perasaan idealnya bukan sesuatu yang patut untuk disembunyi-sembunyikan kepada yang ditujukan. Berkali-kali diceramahi, bahwa setidaknya orang yang kamu sukai juga tahu, minimal seperti itu.

Dan setelahnya, kamu hanya cukup menerima, cukup begitu saja. 

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar