In Imaginary Talk Slice of Life

Travel heals you

Saya habis berdiskusi panjang dengan seorang ikhwa di beranda rumah panggungnya, di salah satu kampung Pangkep. Ia bercerita tentang perempuan yang disukainya, tentang ia tidak tahu harus berlaku seperti apa terhadapnya. Intinya, hatinya sungguh masygul. Katanya, perasaannya sempat dipertanyakan. Tentang hubungan mereka berdua, memang belum begitu jelas untuk pantas disebut "apa-apa". Namun mereka sudah memiliki modal, bahwa mereka benar-benar saling tahu, menyimpan rasa yang sama: saling kagum (atau barangkali lebih). Ia dipaksa untuk menjelaskan, bagaimana mereka semestinya saling menyikapi rasa, yang menurutnya masih belum boleh ada. Ia, seorang ikhwa, persepsinya adalah memang tidak sepatutnya berteman secara khusus dengan bukan mahramnya.

Sudah sangat jelas, ia telah membagi skala prioritasnya, dalam sistem kasta. Urutan pertama, Tuhan. Kedua, rasul. Ketiga, keluarga. Keempat, umat. Dan kelima, perempuan yang disukainya. Hanya saja, ia sekarang menyangsikan eksistensi urutan kelima. Ia takut dengan Tuhan-Nya, benar-benar berpikir bahwa itu adalah urutan yang barangkali tidak perlu ada. Setidaknya, menurutnya untuk sekarang. Beberapa kali terlintas, ia ingin mengembalikan perempuan itu ke urutan yang setingkat lebih tinggi, urutan keempat. Dengan konsekuensi perempuan itu akan sama, dalam hal apa pun, dengan orang lain. Terlepas dari dilemanya, di satu sisi, saya benar-benar salut dengannya.

(Foto: Febriawan)
"Jadi seharusnya saya bagaimana, Wal?"

***

"Sepertinya ia butuh status darimu, Wal."

Kali ini giliran saya, dan ikhwa tadi mencoba menerka-nerka tentang hubungan saya. Saya tidak begitu mampu untuk bercerita sama lepasnya dengan yang ia sebelumnya lakukan. Hanya beberapa kulit luar, menyisakan banyak hal yang masih tetap saya rahasiakan. Ia tidak menuntut banyak, dan ini benar-benar berbeda dengan permainan "jujur atau berani". Meskipun demikian, saya tetap berhati-hati memilah tiap kata setepat mungkin, untuk memberikan eksplanasi sederhana.

Bahwa hubungan saya dengan perempuan yang saya sukai, dan hubungannya dengan perempuan yang ia sukai, mutlak berbeda, dan tak tertolak. Tentang saya dan imajiner, kami tidak benar-benar saling tahu dengan rasa yang dimiliki. Saya adalah pemendam, dan masih betah menunggu waktu untuk mengungkapkan. Sama halnya dengan imajiner, yang mungkin pula sedang menunggu.

Saya dan imajiner, sekarang kami dalam situasi canggung setiap bertemu, atau sekadar berpapasan. Kami tidak lagi begitu bebas, untuk menunjukkan pribadi masing-masing. Hanya little sweet nothing, itu sudah terlalu hebat kalau kami menyempatkan.

Dan menurut ikhwa tadi, menurutnya, hubungan kami justru bagus. Menurutnya, dengan seperti itu lebih mampu menjaga diri dari hal macam-macam. Ya, ia benar. But, it's really annoying, in the other side. People are never really satisfied for everything they get. If only we could, rasanya secara sepihak, saya ingin bertukar posisi saja. Saya ingin bersegera sepertinya, yang saling tahu tentang rasa, tinggal menyepakati harus bagaimana setelahnya. Setidaknya, kami hanya perlu saling tahu, tanpa sok tahu. Tidak perlu lagi melakukan "coccologi", sesederhana itu saja. Dan kasta yang dibuatnya, i'll break the rule, since it's really nonsense, for me.

***

Believe me, travel heals you.


Sumber

Well, why did I go to Pangkep? Semuanya bermula dari bincang tidak jelas di depan jurusan, selepas salat Asar. Sedang meributkan hal tidak penting dengan teman-teman, kali itu ada Agung, teman yang sudah berpindah kampus di Unhas. Lama tidak mendapatinya, ia masih tetap sama, sama selalu meributkan hal tidak penting. Tentang siapa yang lebih hebat, di antara ayam dan perahu (ini simbolisasi kampus). Atau seterkenal apa, mars kampus merah daripada mars kampus orange. Tentu saja, semua hanya candaannya. Agak kekanak-kanakan, but it's totally him.

Lalu, seorang teman lain, Yusran, tiba-tiba berniat untuk pulang ke kampungnya, Pangkep. Saya, tiba-tiba pula, merengek untuk ikut diajak. And he said, OK! What makes me really wanna join is, suasana Makassar sudah terlalu sumpek, dan saya butuh meninggalkannya barang sehari. Dan Pangkep, saya tahu betul, perjalanan ke sana akan begitu menyenangkan.

Pelangi di sore hari, mengantar saya dan Yusran sepanjang perjalanan Makassar-Maros. Matahari senja, tidak usah ragukan lagi keanggunannya. Senja kala itu, merah merekah di antara gerimis rintik yang sempat bermuara dari awan-awan mendung yang tak letih berarak. Rasanya, saat matahari sudah terkubur di bawah horison, ingin menggali mencabutnya kembali untuk bertahan sedikit lebih lama. Belum pula, batang padi yang siap panen, dan meski lebih banyak lagi sawah yang baru saja ditananami padi baru. Cantik, dengan dilatari gugusan batu karst yang tinggi-tinggi, dan masih hijau.

Malamnya, rupanya Yusran diundang untuk datang ke acara promnight SMA-nya. Pelepasan siswa kelas XII SMA 2 Pangkajene. Kami sepakat tentang acara itu yang agak membosankan. Selera anak yang baru mau kuliah, dan anak yang sudah kuliah memang agak beda, barangkali begitu. Namun saya suka konsep acara, dengan dresscode black and pink. It makes me feel warm, saya larut saja dengan suasana "in love" itu.

Tentang sekolah ini, saya justru kontan mengingat teman lain. Ia pernah pula berada di sekolah ini, dalam beberapa bulan untuk keperluan kuliahnya. Di sekolah ini pula, "sepertinya" ia pernah menemukan seseorang yang disukainya. Dan di saat yang sama saat itu, ia sedang pergi ke salah satu pulaudi seberang Sulawesi, tetapi masih wilayah administrasi kotamadya Makassar, katanya sedikit lagi mencapai Pangkep pula. Ia, dan beberapa teman lain di redaksi, ke pulau itu. Sebenarnya saya juga ingin pergi ke pulau, sejak setahun lalu, ketika sepupu memamerkan jalan-jalannya ke pulau yang hanya dihuni oleh dua orang. Dalam potretnya, saya melihat bahwa mereka sudah benar-benar seperti pemeran-pemeran dalam film Lost. Namun untuk sekarang, saya mesti menahan diri dengan keras untuk ikut dengan teman-teman, selain karena tidak ingin melewatkan satu mata kuliah.

(Foto: Febriawan)
Di jalan pulang, bulan yang nyaris memasuki fase purnama tepat di atas kepala menjadi "penerang" natural, karena kekurangan lampu warga, rumah di Pangkep banyak yang jarang-jarang, agak berjauhan. Ada hal yang terlewatkan saat pulang. Niatnya, saya ingin membeli kembang gula di dekat tugu bambu runcing. Rencana saya jadi terpeleset, karena saya tidak menaksir kalau penjajanya sudah pulang duluan sebelum saya juga pulang.

Tetap saja, saya meninggalkan Makassar dan sengaja menanggalkan banyak beban di kota ini. Di kampung teman, saya menjumpai suasana nyaman yang menentramkan. For sometimes, I missed home and got homesick, over there. Ah, setidaknya, saya benar-benar tidak perlu mengingat-ingat hal apa pun yang hanya membekaskan duka. Dan, saya tidak perlu pula sendirian di kamar kos, sambil mendengarkan suara sendu John Vesely, berulang-ulang.

Related Articles

1 komentar:

  1. Blogwalking :) baju eksklusif pamma---> pammadistro.blogspot.com

    BalasHapus