In Slice of Life

Menjemput titik: into the new world

Pukul 18.10. Rabu, 3 Juni tadi. I made a new starting point. Belum sebuah titik balik, tetapi saya memang melangkah ke titik beberapa langkah lebih baik. Saya memaknainya demikian.

Masih belum jera, saya tetap mencintai bepergian sendirian. Bukan saya tidak ada teman yang bisa diajak, hanya saja untuk beberapa jenak saya butuh “mandiri”. Ini sungguh mengesampingkan nasehat yang agak tidak masuk akal dari bapak-ibu, juga dua-tiga tante untuk selalu tidak jauh dengan teman yang dikenal. Pun olok-olokan beberapa teman yang seakan tidak membiarkan kalau saya hanya sendiri, dalam apapun. Ya, semuanya memang berawal gara-gara musibah kemarin. Saya mengaku kalau memang ada benarnya juga, satu di antara banyak pemicu insiden kemarin adalah, saat itu saya memang tidak dengan siapa-siapa.

Namun memang sepertinya saya agak kepala batu kalau sudah berurusan dengan “menjadi penyendiri”. Terlepas dari jera-tidak jera, sebenarnya sudah ada beberapa teman yang saling bertukar sinyal untuk bertemu di tempat tujuan. Satu, lewat kiriman di beberapa jaring sosial. Dua, lewat pesan singkat di ponsel. Ada juga dengan tatap muka secara langsung membicarakan. Nevertheless, i’m just going by myself. And it’s more than enough. 

Sumber

Guess where I’m gonna? Kalau tahu agenda paling menarik Rabu ini se-Makassar raya, you can guess correctly.  Ada opening ceremony Makassar International Writers Festival di sana, malam ini. Fort Rotterdam. Saya sudah pernah menceritakan sedikit, kalau ini adalah situs sejarah dan budaya, dengan spot menarik untuk membikin pengunjungnya jadi fotogenik. I mean it. Seriously!

Dan dalam perjalanan menuju Rotterdam, saya sangat menikmati apa-apa yang dilintasi. Bukit Daeng Tata, salah satu tempat kenangan dengan syndrome imaginary relationship. Saat itu, berdua dengan imajiner, menikmati suguhan twilight empyrean yang selalu cantik, kemudian sama-sama berpamitan saat kumandang muazin dari mesjid terdekat berakhir. Juga tidak melewatkan danau artifisial yang tidak begitu luas, dan pendaran cahaya lampu neon dari pemukiman yang memantul-mantul di permukaan benar-benar artistik. Setelahnya, memasuki situs rumah adat tiap kabupaten se-Sulsel di benteng Sombaopu. Saya mendadak mengingat-ingat adegan “pemberontakan demi pemberontakan” yang pernah terjadi di beberapa rumah, serupa rol film yang diputar ulang.

Perjalanan sendirian kemudian berubah menjadi perjalanan yang menjengkelkan ketika melirik tampilan jam digital ponsel yang menunjukkan menuju pukul tujuh. Saya sudah hampir terlambat, and there was a great traffic jam. Sempat merutuki diri yang terlalu lambat melakukan pergerakan untuk bersegera pergi lebih dahulu. Namun merutuki diri pun, untuk saat ini sama sekali tidak berguna, bukan? Sebelumnya saya memang terjebak dengan aktivitas bermalas-malasan di kamar kos.

***

Pukul 12.48. Rabu, 3 Juni tadi. I made a stucking point. Belum sebuah titik balik, tetapi saya memang tidak melangkah ke titik mana pun. Saya memaknainya demikian.

Masih belum jera, saya mengizinkan ketua tingkat untuk tidak mengisi presensi saya di salah satu kelas. Padahal di kelas itu, saya mempunyai tugas yang harus disegerakan untuk dikumpul. Setelahnya, di kelas itu juga akan dilangsungkan kuis dengan persentase cukup besar untuk assesment and evaluation. Sebabnya, i get a real hea(rt)d attack. Dan sebuah pembenaran kalau saya bersantai ria dengan kesejukan laboratorium sambil menjadi mandor teman yang sedang bersih-bersih dan bertugas. Sebenarnya di laboratorium pun, saya tidak benar-benar dengan teman. Saya tetap sendirian.

Lebih dari dua jam, berdiam di tempat, dan nyeri di kepala juga tetap mendiam. I need to move (on), i thought. Saya tahu betul, kalau saat itu sedang ada pagelaran tari dengan koreogfer beberapa mahasiswa fakultas saraswati di baruga kampus. Dan memasuki area riuh sambil menyaksikan lenggak-lenggok penari, dengan tubuh lemas, semestinya mampu menyemangati. Agak lama saya menjadi penonton dengan beberapa penonton lain, tapi di sini pun saya tidak benar-benar mengenal orang lain. Baru saat dua teman yang secara tidak sengaja datang, saya menjadi tidak dianggap bisu.

Dari beberapa tarian yang sempat mata saya dapati, yang menjadi kesukaan adalah Menjari Luyung. Nama koreografernya sudah lekas dari ingatan, tetapi esensi pesan yang ingin dipamerkan belum. Ini tentang dongeng cerita rakyat dari Mandar. Seorang perempuan yang kesepian setelah menjadi duyung karena suatu sebab. Segalanya berlalu sangat menyedihkan bagi perempuan itu, sebelum menemukan ada perempuan duyung lainnya. Bahwa ia mempunyai teman, ia sudah tidak perlu meratap nasib sendirian. Konfliknya tidak berakhir, ketika menjumpai bayi yang dikiranya adalah anaknya. Ada batas antara perempuan itu dengan bayinya, sehingga mereka sudah ditakdirkan untuk tidak bisa bersama. Kalau ia tidak punya teman, saya juga tidak benar-benar tahu apa yang mampu dilakukan oleh perempuan penari itu. Barangkali si koreografer hanya mengarahkan penarinya untuk berdiam sendiri menunggu ajalnya, menunggu air matanya habis, lalu kering.

Sumber
Sejujurnya saya tidak cukup pandai menilai seni, apa lagi tari. Namun konsep Menjari Luyung, bagi saya dikemas apik sampai sukses membuat saya larut dengan mimik si penari. Meskipun tidak pandai menilai, tetapi sebenarnya saya punya sejarah cukup baik untuk menari. Suatu waktu di kelas tiga SMA, saya dan beberapa teman laki-laki ikut serta di lomba tari kreasi Porseni. Berminggu-minggu kami latihan, hasilnya membahagiakan. Kami menjadi pemenang pertama, dengan tarian Ganrang Bulo. Beberapa orang yang mengartikan “ganrang” dengan sesuatu yang jorok, membuat mereka lebih senang mengganti dengan “genrang”. Padahal, secara harfiah “ganrang” berarti memukul. Kesimpulan etimologisnya, tari yang kami pentaskan bercerita tentang memukul bambu. Setahu saya, seperti itu. Ah, ini belum termasuk ketika penamatan saya dari TK, saya juga pernah menari. Meskipun dari mulut beberapa orang dewasa yang ketika itu menonton, saya terlalu pemalu dan banyak melakukan gerakan kaku. If only i could remember so well...

Sepulang dari menonton pagelaran tari pun, nyeri masih tetap belum beranjak. Mempertimbangkan saran dari seorang teman, saya lebih baik istirahat. Barangkali karena efek keseringan begadang, dan banyak pertanyaan-pertanyaan dan pengandaian menyesakkan yang bertahan hanya dalam pikiran lalu. Kembali ke kamar kos, langsung merebahkan diri di tempat tidur. Mengaktifkan mode loudspeaker pemutar musik, sambil membolak-balikkan halaman di buku bacaan ringan, mengundang kantuk, menunggu mata terlelap refleks. My friend is maybe right, one thing i need is taking rest. And i slept, terbangun beberapa menit sebelum waktu Maghrib, dengan beban di kepala yang tidak lagi seberat sebelumnya.

Tersadar, saya barangkali akan terlambat untuk agenda malam. Makanya saya tidak ikutan berjamaah dan lebih memilih untuk munfarid di kamar. Makanya saya tidak berpamitan dengan siapa-siapa ketika melihat semua pintu kamar sama-sama tertutup. Saya bukan anak kos, yang harus mengetuk pintu yang tertutup untuk sekadar berpamitan. I am leaving....

***

Pukul 19.15. Rabu, 3 Juni tadi. I made a new restarting point. Sebuah titik balik, saya memang melangkah ke titik baru yang jaminannya pasti baik. Saya memaknainya demikian.

Seharusnya saya tidak sempat menyaksikan beberapa bagian opening ceremony Makassar International Writers Festival. Kalau saja rundown yang ada dituruti secara konsisten. Ah, ini tetap saja lebih baik, bagi saya yang seharusnya sudah melewatkan lima belas menit. 

Selamat datang! Into the new world...

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar