In Imaginary Talk

Menyengajai Déjà Vu

Saya mempunyai suatu kebiasaan, dan barangkali pula kita sama seringnya mengulang-ulang kebiasaan ini.

***

Menyengaja déjà vu, déjà vu yang dibuat-buat. Entahlah, kalau déjà vu semacam itu masih pantas disebut déjà vu atau tidak lagi. Poin paling pentingnya, saya selalu melakukannya ketika sedang belajar untuk merelakan sesuatu, semacam berpamitan untuk perpisahan. Bagi saya, cara paling awal untuk merelakan sesuatu yang tidak mampu lagi untuk diraih, adalah berpamitan. Atau sekadar ingin mengulang masa, karena sedang benar-benar tidak tahan merindu.

Berkunjung ke tempat yang ada keterkaitan dengan sesuatu yang akan diikhlaskan, tempat dengan memori yang tidak lekang. Dan berhari-hari kemarin, I did it.



"Suatu hari. Suatu waktu. Ketika kita dipertemukan kembali, tanyakan kepada hati; apakah kita akan mengulang cerita lalu atau mengisinya dengan yang baru?" - Robin Wijaya, ROMA.

Akhir pekan kemarin, saya dan beberapa teman melawat ke Malino, daerah puncak yang kalau dengan menaiki bis harus menyempatkan waktu sekitar tiga jam dari Makassar. Bukan lawatan untuk hanya bersenang-senang saja, ada sebuah agenda besar yang sungguh besar.

Di awal perjalanan saja, saya sudah mulai membanding-bandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Memang beberapa waktu lalu, saya mendapati sesuatu yang nyaris sama, keluar kota dengan semua teman redaksi. Boleh saya mencap kalau perjalanan kemarin sudah jauh tidak sama seperti dulu. Ya, saya menikmati perjalanannya, bahkan sangat. Daerah yang dilewati sepanjang jalan sampai tujuan adalah salah satu tempat paling mengagumkan. Namun beberapa hal masih terasa begitu kurang, semisal bisa, saya ingin mengulang sebelumnya. Baiklah, beberapa hal memang butuh sesuatu yang baru, supaya tidak terasa begitu membosankan.

Saya hanya merasa perlu menceritakan beberapa hal, suasana yang amat dirindukan itu, yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Aturan kursi penumpang bis sangat tidak mirip dengan aturan beberapa waktu lalu, meskipun memang tidak ada aturan jelas tentang dia duduk di sini dan dia yang lain duduk di sana. Beberapa teman lain lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi, dan menyisakan banyak tempat duduk di bis. Hampir semua hal berbeda, seperti laku dua orang teman yang dulunya pernah saling berbalas gombal hanya mampu saling diam. Yang di depan membelakangi, yang di belakang memandang tak tentu. Pun, seorang teman yang biasanya paling banyak bertingkah, menjadi paling kalem di perjalanan. Saya paham, ia sedang tidak cukup sehat untuk banyak bergerak. Untuk banyak menit yang terlewatkan, di jalan hanya ada bebunyian mesin kendaraan yang menembus angin terdengar nyaring. Lainnya hening, dan menjadi agak membosankan.

Ada banyak tempat duduk yang tak terisi, tetapi saya justru lebih memilih bergelayutan di pintu bis sepanjang supir mengendalikan kemudinya. Tujuan saya, ingin lebih banyak memandang ke luar, memandang tiap-tiap yang dilalui. Ini pun sebenarnya, ada yang terlalu kentara kurangnya. Saya tidak mendapati lagi seorang penikmat langit bersisian, untuk sekadar berbagi deskripsi apa yang menaungi kepala. Makanya saya hanya berasumsi sendiri, sore di Juni masih beratap langit berwarna lazuardi, dan beberapa awan kumulus yang menggumpal serupa kapas. Terlalu banyak awan sampai matahari kadang menyembul, kadang menyembunyikan diri. Sampai terbenam di bawah garis horison pun, matahari tak begitu nampak, selain karena terhalang dataran yang relatif tinggi. Saya dan teman-teman tiba di Malino.

Sumber


Ah, saya tidak lupa, beberapa tahun lalu pernah mendatangi kota kembang di Sulawesi ini untuk keperluan perjalanan studi sehari. Kala itu, meneliti usaha budidaya jamur merang. Saya sempat melewati rumah produksinya, dan menemukan kondisi yang sama sekali berbeda. Rumah produksi yang sempat saya datangi, saat ini tak ubah layaknya gudang yang lama tak ditinggali. Selintas, saya merindukan lagi beberapa teman dan guru pendamping saat itu. Setidaknya, dengan menemui tempat itu, saya merasa berjumpa lagi dengan mereka. Ingatan saya cukup kuat untuk mereka ulang langkah demi langkah ketika saya masih kelas X itu. Di lain kesempatan pula, saya menelusuri daerah bukit-lembah ini, karena pelepasan status "putih abu-abu". Beberapa tempat yang disinggahi, pun masih enggan lekas dari ingatan. Semoga, selamanya begini saja, supaya saya tidak melupa pula beberapa teman terbaik saat itu. Overall, Malino is also worth for me, even so very much!

Langit di malam hari sesungguhhnya jauh lebih indah. Karena saya berada di daerah puncak, maka secara tidak langsung merasa lebih dekat pula dengan langit. Langit malam itu seperti sedang merayakan panen bintang, meskipun tanpa kehadiran "istri" berbentuk bulat-berwarna keperakan. Namun tetap saja langit malam untungnya tak berawan dan tak begitu terhalangi kabut, sehingga benar-benar baik untuk melakukan stargaze. Di pukul sepuluh malam, dengan suhu yang saya terka kurang dari 10 derajat Celcius, saya menantang udara malam dengan seorang teman. Ada kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan, dan dengan "bahagia" saya menyelesaikan. Malam-malam berekreasi ke area pohon pinus, sebenarnya adalah modus utama mengekori teman. Melihat-lihat susunan pinus yang tumbuh selaras, mengingatkan pula dengan perkebunan karet di kampung halaman yang sama ditanam selarasnya. Saya terlalu banyak merindukan berbagai hal, dan memberi gantinya meskipun mengakui tak begitu setimpal. Tentang hang out malam-malam, saya tidak cukup peduli dengan tubuh yang bisa masuk angin dengan pakaian seadanya di daerah sedingin itu. Toh, hingga sekarang saya masih baik-baik saja, meski telah seharian di tempat itu, bahkan sempat berhujan-hujanan pula. Di pukul dua dini hari pun, saya dengan dua teman lain melangkah keluar sebentar dari wisma. Dan tepat di atas kepala, beberapa lapis di bawah langit nampak berkas-berkas kabut putih seakan menjadi satu kesatuan. Saya membayangkan, kalau saja ia bisa berwarna-warni, saya sudah benar-benar berada di kutub bumi, barangkali. Lagi-lagi, saya sudah tidak cukup peduli dengan kondisi kesehatan yang akan jatuh. Urusan jatuh-jatuh, saya sudah cukup mempan menahan sendirian. 

Keesokannya, tidak kalah eksotis. Memang langit bukan objek menarik untuk dipandang, tetapi langit sendiri menawarkan penggantinya. Awan mendung yang berarak sesuai keinginan-Nya, menjatuhkan rerintik hujan yang makin lama makin deras. Gemercik hujan yang bertumbukan dengan seng wisma, kemudian jatuh mendarat di atas daun bebungaan, lalu bermuara menyesap ke dalam tanah, menimbulkan bunyi rileksasi tersendiri. Saya sangat menikmatinya. Aroma petrichor di Malino benar-benar khas, barangkali yang terbaik di antara yang pernah saya indrai. Di beranda lantai dua wisma, saya melewatkan beberapa menit untuk sekadar bermonolog seperti orang yang tak waras. Sampai beberapa teman menemukan saya. Aha,  I'm not always alone, sometimes i shouldn't.

***

Not only people has changed, but also "everything" has changed. Even a place, even anything else.




P. s: Lalu apa kabar dengan "imajiner"? Kami tidak sedang sungguh dalam situasi yang baik. Saya belum mau menuliskannya.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar