In Slice of Life

Tentang perempuan yang tidak pernah tidak mengerti.

Baru saja saya dan teman-teman menyelesaikan rutinitas tiap sabtu petang. Belum begitu lama sejak salam, penutup salat Maghrib, nama ibu tiba-tiba muncul dari layar ponsel. Dalam percakapan singkat, ia mengabari bahwa sedang dalam perjalanan pulang dari salah satu tempat wisata di Pangkep, dengan murid-muridnya. Ia mengabarkan pula, dalam jalan pulangnya ia bisa menyempatkan untuk singgah sebentar di Makassar. Saya tidak begitu banyak menimpali bicaranya, lebih banyak berdialog dalam hati. Hanya ekspresi sekadar "oh", "iya", atau "apa?".

Sejujurnya saya takut bertemu dengan ibu karena takut akan dicecoki banyak pertanyaan tentang musibah "terhipnotis". Namun seenggan-enggannya saya melepas rindu untuk bertemu, saya tetap membuat janji untuk menyempatkan bertemu sebentar, di sisi satu jalan protokol, sarannya.

Tentang musibah beberapa waktu lalu, cukup rasional untuk cemas bertemu dengan ibu. Pertama kali mengabarinya lewat telepon, ibu yang cukup banyak memberi ceramah, menyentakkan pikiran yang saat itu benar-benar kalut. Ibu yang meminta untuk lebih banyak mengingat Tuhan, untuk jangan keseringan bepergian sendiri, untuk tidak meladeni pinta orang tak dikenal, untuk tidak terlalu membebani pikiran banyak-banyak, untuk setidaknya terlihat lebih semangat. 

Makanya, bukan hal aneh, kalau "overthinker" semacam saya agak berpikir dua kali untuk bertemu terlalu cepat dengan ibu. Saya inginnya, waktu menjadi lagi-lagi penawar untuk menunda-nunda repetisi pertanyaan semacam "Bagaimana bisa sampai begitu bodoh?".  Karena memang, pertanyaan semacam itu hanya kembali mengulang rasa kesal yang bercampur dengan umpatan untuk diri sendiri. And i really hate being so very useless.

***

Dengan meminta bantuan seorang teman, saya dibawa ke tempat perjanjian. Ada sekitar setengah jam saya menunggu sampai bus yang ditumpangi ibu. Resah. Menunggu. Sendirian. Tentang menunggu, sesungguhnya tidak selalu menjadi kegiatan yang menjemukan. Asal pandai-pandai mensubstitusi kejemuan dengan kegemaran. Seperti malam itu, lama ibu tak kunjung datang, saya melangkah masuk ke sebuah swalayan dan menukarkan es krim cone dan sebungkus cokelat dengan uang sepuluh ribuan di kasir. Saya jadi tidak usah diliputi resah, menunggu, sendirian. Setidaknya lumeran cokelat dingin mampu menenangkan diri sebelum bertemu dengan ibu. Lagi pula, tiap beberapa menit ibu juga mengabari perkembangan kendaraannya. Sejak di jalan tol, lalu jembatan layang, lalu depan Menara Pinisi, memasuki jalan Alauddin, dan berakhir tepat di depan tempat penantian saya.

You know, what my mom firstly do? Turun dari bis, Ibu mengangsurkan dua kotak nasi dalam styrofoam, sekantong kue bolu, dan empat buah jeruk bali ke tangan saya, sampai saya agak kewalahan untuk menerimanya. Terlepas dari pemberiannya, saya mulai takut menerka-nerka kalimat pertama yang ibu akan bicarakan. Realitanya, malam itu ibu tidak banyak bicara, tidak seperti biasanya. Hanya sedikit menyinggung untuk mengubah kebiasaan buruk: too careless. Beberapa lembar uang juga ikut menebalkan pundi-pundi uang dari ibu, sembari memberi tahu kalau kartu ATM yang baru akan segera dikirimkan.

Terakhir, sebelum pertemuan malam itu berakhir, ibu merangkul saya. Tidak pernah saya menduga, ibu akan memeluk anaknya di tengah umum. Kalau saya pulang kampung pun, ibu nyaris tidak pernah melakukannya. Saya sudah lupa, kapan terakhir kali dipeluk atau memeluk ibu. Dan, karenanya saya menjadi agak malu karena harus dilihati oleh rekan ibu, murid, dan orang tua muridnya. Belum pula pengguna jalan saat itu yang cukup ramai tak berhenti lalu lalang. Cukup lama ibu memeluk, dan saya tidak melakukan apa-apa. But deep in my deepest heart, i'm feeling comfort. I've read this somewhere: Between mom and her child, they have strong intuition, connection, and bond. Ibu benar-benar tahu, anaknya sedang tidak baik-baik saja. Ibu juga sungguh mengenali, laki-laki delapan belas tahun di depannya, sesekali membutuhkan seorang perempuan untuk merengkuh badannya, untuk ikut meluruhkan masalahnya bersama-sama. Ia, perempuan, yang tidak pernah tidak mengerti.

One precious expression and i never say directly, terima kasih, bu!

Sumber
"Dan kami berwasiat kepada manusia tentang kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. (kami berwasiat kepadanya). ’bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, karena hanya kepada-Ku-lah kembalimu." (Qs. Lukman 31 : 14).
***

Dari pada bapak, saya memang lebih dekat dengan ibu. Meskipun di antara keduanya, saya sama sekali tidak benar-benar dekat. Pun, saya berpikir kalau gen dari ibu yang lebih banyak menurun ke saya. Tentang fisiknya, saya "kecil" barangkali karena ibu dan nenek dari ibu. Juga dengan pertimbangan persentase antara perasaan dan logika, saya cenderung berperasa. Sepertinya, itu juga saya mempelajari dari ibu. Kalau saya jadi orang hebat pun, semua dari ibu. Ibu yang sewaktu kecil selalu meladeni tiap saya merengek minta diajar mengeja atau menulis.

Sumber


Untuk satu hari di bulan Juni, saya agak lupa, tanggal enam atau tujuh, ibu berulang tahun. Sekali pun, saya tidak pernah menghadiahi dan menganggap setiap hari adalah sama. Di keluarga, hari ulang tahun memang bukan untuk diapa-apakan. Usia ibu sudah serupa senja, semoga senantiasa dalam kasih Tuhan.

Love.


Related Articles

3 komentar:

  1. Wah, bagus caramu menulis, Wal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis, perkara membiasakan diri, kan, kak?
      Beberapa saat, kalau jarang menulis terkadang jadi punya kesulitan tersendiri. Saat ini, barangkali saya agak intens menulis.
      :)

      Hapus
  2. Tambah canti' tulisannya Awal :')
    "Ibu benar-benar tahu, anaknya sedang tidak baik-baik saja." Terharu ta'...

    BalasHapus