In Slice of Life

Bapak, saya bukan anak yang paling baik.

Bapak, saya bukan anak yang paling baik.

“Itu lihat kakakmu, diam-diam terus, tidak cerewet,”  Bapak memarahi adik laki-laki saya di perjalanan pulang menuju rumah, ia benar-benar marah. Bagaimana menggambarkan seseorang yang marah lewat kata-kata? Pokoknya saat itu, bapak berteriak agak keras sambil menyertakan desah panjang pada ujung kalimatnya.

Adik saya memang agak bebal, terlalu sering meminta untuk dimarahi. Dan bapak saya adalah pasangan serasi untuk menjadi orang yang melayani. Padahal sebenarnya bukan sesuatu yang perlu diributkan, hanya suatu masalah sepele yang pun tidak diladeni akan tidak ada apa-apa. Tapi begini memang, di dalam kendaraan, dengan latar belakang penyiar salah satu radio lokal Makassar. Bapak seolah-olah beradu suara paling semangat dengan suara penyiar bernada sendu saat itu.

Pak, saya tidak sebaik dalam benakmu. Saya menjawab emosi bapak saat itu yang meledak. Dijawab dalam hati. Saya tidak sampai seberani itu untuk menantangnya, menentang langsung.

***

Bapak, jangan sok tahu tentang saya.

Dalam keluarga, saya memang cenderung lebih tidak banyak bicara. Itu yang membuat orang-orang sekitar menilai saya terkesan cuek. Padahal beberapa kenalan, mungkin akan berselisih paham tentang saya. Ah, ini pun sebenarnya tidak terlalu penting untuk diperdebatkan. Tapi memang, barangkali saya benar-benar punya alter ego, kepribadian ganda. Ada awal “satu”, ada awal “dua”. Awal “satu” yang banyak dikenal keluarga, terlalu cuek untuk banyak-banyak bersosialisasi. Awal “dua” yang banyak dikenal teman-teman, terlalu blak-blakan sampai bisa bebas diajak menceritakan banyak hal.

Seseorang pernah menegur saya, kenapa bisa dekat sekali dengan “anu”? Saya awalnya tidak pernah benar-benar tahu pasti perihal alasan menjadi dekat dengan orang lain. Toh, saya juga tidak pernah mempermasalahkan perkara kedekatan dengan teman. Ia pun mencoba menerka-nerka jawaban, karena sebenarnya ia mahasiswa jurusan ilmu jiwa. Sedikit banyak ia barangkali memang benar-benar tahu. Karena kamu setipe, kamu sekaum dengan anu. Hap! Serupa cecak di dinding berhasil menangkap nyamuk incarannya, dengan telak ia menjawab sendiri. Mungkin saja benar, mungkin saya memang agak diskriminatif memilih teman dekat. Setidaknya, saya harus sekepribadian dengan orang itu. Kalau sudah seperti itu, akan lebih banyak topeng diri yang diperlihatkan.

 ***

Bapak, jangan terlalu banyak mengharapkan.

“Perhatikan makanan, beli susu, pergi lari-lari kalau subuh,” Siapa selain saya - anak laki-laki 18 tahun - yang masih diawasi sedetail itu dari bapaknya? Kamu? Ah saya kurang yakin.

Saya paham, artinya sampai sekarang ia masih sangat peduli dengan saya. Namun selain itu, saya sudah waktunya belajar untuk melakukan segalanya tanpa perlu diingatkan kembali. Memang, ada alasan dari nasehat-nasehatnya yang banyak datang bergantian. Ia ingin saya lulus.

Bapak tidak mau melihat saya gagal dua kali untuk tes yang sama. Dengan kata lain, bapak terlalu banyak berharap. Ah bapak, justru itu yang lebih banyak membebani saya. Saya mau melakukan segalanya karena saya ingin, bukan diminta oleh siapa pun. Dan tahukah, sejujurnya dengan itu tetap ujung-ujungnya supaya bapak bahagia juga. 

Bukan saya tidak butuh dinasehati, saya hanya mau bapak tidak banyak-banyak berharap dari saya. Karena saya hanya anak kemarin sore, dan bapak lebih dahulu menjejaki tanah, bapak pasti lebih banyak tahu bagaimana rasanya perihal ingin yang tidak sampai.  

"It will hurt you, Pak, it is going to be."

Saya tidak mau.
Sumber

ps: catatan "skimming" di tengah ruang kedai kopi penuh laki-laki dewasa cerewet; i haven't forgotten about another deadlines yet.

Related Articles

3 komentar:

  1. Sejatinya, setiap ayah menunjukkan cara yang berbeda2 untuk menyayangi anaknya, meskipun tanpa disadarinya (atau kita) bahwa itu tak benar atau tak lagi sesuai kondisi yang dibutuhkan. :)
    #just believe it. I ever feel it, and do it (emm..stupidity)
    Karena di kepala lelaki dewasa kebanyakan hanya terpikir, "Anakku harus sukses dan bahagia", tanpa mencantumkan "cara yang diterima". Nah, bukannya hubungan itu dibentuk dari komunikasi ya?? :D
    *Mari bicara (dengan ayah), sembari ngeteh Sariwa**i. Hahaha...

    BalasHapus
  2. Kadang harapan orang lain terhadap kita bisa menjadi racun syaraf yang membuat kita terpenjara tanpa bisa mengejar impian...

    BalasHapus