In Slice of Life

Beberapa larangan untuk yang baru saja berulang tahun

Hari itu sehari selepas hari raya Idul Fitri, dan nuansa peziarah masih belum lekas. Beberapa keluarga dari pihak ibu sejak sebelum kelahiran saya sudah sepakat untuk selalu ingat tempat pulangnya ketika lebaran. Di rumah nenek, memang selalu ramai dengan paman, bibi, dan sepupu yang akan merangkum kisah yang telah terlewatkan setahun, dan meramal cerita yang akan berlangsung keesokan. Dan mereka tetap masih punya alasan untuk pulang, bersua kembali di rumah panggung yang usang milik nenek. Meskipun beberapa tiang sudah peyot dimakan rayap, dan beberapa papan sudah lepas dari pakunya, tak ada tempat pulang selain rumah kelahiran saya dan beberapa keluarga yang lain.

Subuh di hari itu saya terbangun dengan inisiatif diri sendiri. Suasana masih cukup senyap, kecuali ayam kampung jantan yang belum kena giliran untuk dipanen seperti seharusnya ketika lebaran tiba, tetap rutin begiliran membunyikan kokoknya. Dan makhluk pertama yang saya lihat di hari itu, adalah ibu. Ia nampaknya baru saja melakukan salam untuk akhir salat subuh dengan mukena yang masih terpasang indah di kepalanya yang agak sebulat telur. Barangkali sebuah pemandangan yang hampir sama, persis hari di sembilan belas tahun lalu. Barangkali pula, ibu memang adalah makhluk pertama yang saya indrai, persis hari di sembilan belas tahun lalu. Saya membisik masih berbaring, merapalkan ucapan terima kasih untuk ibu. Ia tak mendengar.

***

Matahari sudah naik sepenggalahan, dan langit berawan, cuacanya tidak begitu terik. Saya memilih untuk "bermeditasi" di kebun kelapa, di belakang rumah nenek. Sudah banyak yang berubah dari kebun nenek. Seperti jalan setapak yang sudah serong kesana-kemari. Baiklah, tetap saja saya melakukan selayaknya adegan "make a wish". Meskipun di sisi diri yang lain tetap mengingatkan bahwasanya today is just another day. Tidak ada yang benar-benar bisa dibanggakan, kalau sudah setua ini (apakah 19 tahun sudah cukup pantas untuk disebut tua atau tidak, saya sebenarnya sangsi), dan belum ada "masterpiece" atau pun "footprint" bahwa saya memang benar-benar ada. Saya berpikir untuk belum boleh mati, sebelum benar-benat patut untuk dikenang.

Di keluarga, teramat jarang yang melakukan ziarah kubur, tidak peduli kapan pun. Urusan orang hidup dan orang mati selesai tepat setelah dimakamkan. Memang seperti demikian semestinya, toh saya juga mengimani paham keluarga saya. Namun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya bergerak untuk mengunjungi makam nenek buyut yang hanya membutuhkan beberapa langkah dari sisi timur rumah nenek. Tentang nenek buyut yang dimaksud, saya lahir sebelum sempat melihat rupanya. Namanya pun, dan ia adalah orang tua dari nenek perempuan atau nenek laki-laki, saya juga sudah lupa. Orang yang selalu menceritakan sebagai dongeng pengantar tidur tentang keluarga yang sudah wafat hanya nenek perempuan saya. Dan sejak beberapa tahun terakhir, semua memori yang pernah dipinjam telah dikembalikan ke Penciptanya. Nenek perempuan saya, benar-benar seperti bayi perempuan yang tidak tahu apa-apa, bahkan untuk cara mencebok setelah buang air besar.

Untuk nenek buyut, yang saya tahu hanya sebatas bahwa ia adalah salah satu orang tua dari salah satu nenek saya dan tidak lebih, sepucuk Al Fatihah adalah pendamping yang baik hati. Saya memperkenalkan diri sebagai cicit berusia sembilan belas tahun, terlepas dari ia akan mengenal atau ia mampu mendengar.

***

Jangan bersifat kekanak-kanakan. Jangan terlalu sensitif. Jangan terlalu mudah menaruh rasa percaya. Jangan mudah seenaknya mencap rasa. Jangan suka mojjo'. Jangan keseringan lari dari hidup dan masalah. Jangan terlalu menemboki diri dengan orang lain. Jangan lupa jaga tubuh, jaga kesehatan. Jangan suka lalaikan shalat, lima waktu sudah harus jadi kebutuhan.

Jangan lupa baca Quran, baru amalkan. Jangan lupa makmurkan masjid. Jangan abaikan puasa, biasakan senin-kamis. Jangan bantah nasehat orang tua, they know the best. Jangan hobi pendam-pendam apapun. Jangan membenci orang lain. Jangan teralu materialistis. Jangan hidup hedonis, menabung untuk kebutuhan, bukan untuk keinginan. Jangan gemar kelihatan 5L (cepat Lelah, Lemah, Letih, Lesu, Lunglai), harus tampak tegas, sehat, segar, bugar.

Jangan terlalu banyak diam, galau, muram, murung. Jangan hindari senyum, salam, sapa. Jangan sentuh rokok. Jangan tidak acuh dengan masukan dari orang lain. Jangan lupa kalau setiap permasalahan wajib kembali ke Quran dan Hadits. Jangan terlalu jujur dengan penampilan teman perempuan, ada yang mesti disaring dahulu.

Jangan fokus untuk hal lain yang melebihi fokus kuliah, supaya bisa bikin bangga orang tua. Jangan lakukan sesuatu yang bikin diri sendiri tidak nyaman. Jangan bohongi diri sendiri. Jangan tidak bisa bilang tidak. Jangan lepas dari tanggung jawab. *)

***

Ada beberapa ucapan yang terselip lewat pesan singkat di seluler. Beberapa lainnya lewat pesan dinding di "muka buku", dan mention di twitter. Ibu, sepupu, dan bibi, mengucap selamat lewat lisan. Beberapa yang (sepertinya) sengaja menunggu momen pukul 00.00 di tanggal 29 Juli, terima kasih, tetapi andai kamu tahu, kamu tidak perlu melakukannya serepot itu.

Lebih dari itu, saya cukup yakin, ada orang yang diam-diam mengucapkan selamat ulang tahun, meskipun tak sampai. Ia yang tulusnya mendoakan, melebihi dari siapa pun. Saya amat percaya.
"Ucapan selamat ulang tahun cuma sekadar pelengkap. Apa yang menjadi prioritas dan paling utama ialah doa," - Fitri, teman SMA yang terlambat beberapa hari mengirimkan ucapan ultah karena ulah sinyal telepon seluler yang buruk di beberapa kampung.
***

*) larangan disadur dari hasil konsensus privat dengan diri sendiri, teman, sahabat, kerabat, pohon kelapa, rumput liar, nyamuk, tanah kuburan, dan beberapa kenalan lainnya.


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar