In Imaginary Talk

Bukan hap!

Atau jangan-jangan kamu sudah merencanakan segalanya dengan sungguh-sungguh sejak semula. Suatu waktu ketika saya sisa melangkah sedikit lagi untuk pindah ke lain hati. Suatu hari ketika saya mulai meyakini kita tak semestinya memiliki rasa suka. Suatu saat ketika saya benar-benar mulai paham bahwa mempertahankan sesuatu yang tidak balik mempertahankan pula adalah semata-semata kesia-siaan.

Sumber
Makanya, di beberapa hari yang lalu di suatu tempat yang tak pernah dikira-kira, sewaktu kamu mengajak untuk kembali memulai segalanya dari awal, sungguh tak terkira pula saya menyambutnya. Baiklah, jawab saya dengan setengah hati. Hanya setengah, sebab saya tak bisa benar-benar percaya denganmu lagi. Atau sebab setengah hati yang lain telah kamu bawa bersama kabar gembira yang tiba-tiba.

Perlahan, hingga sekarang, saya mulai larut kembali dengan rasa sejak delapan bulan lalu tersimpan. Hebat, bukan? Saya bahkan masih mengingat kali pertama saya mulai menyukaimu. Tak usah kamu tanyakan lagi perkara lain. Tentang kencan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Tentang pesan singkat yang tak henti bersahutan. Tentang janji-janji yang sama-sama sering saya dan kamu sepakati. Tentang kenang-kenangan lain yang semestinya tak lagi tersibak, sebab segalanya sudah siap untuk dikepak.

Katamu, kamu akan berusaha menerima. Katamu lagi, kamu akan lebih banyak mengajak ekstra kenangan lain. Lantas dengan semaumu pula, kamu menjadi perempuan paling plin-plan sedunia.
Asumsi saya, barangkali karena saya lebih banyak bergaul dengan teman sendiri, atau kamu melihat tingkah saya yang bagimu tak sungguh-sungguh denganmu. Namun, kamu tak benar-benar melihat sisi lain, bahwa saya hanya harus berusaha berhati-hati. Bahwa sebenarnya, tetap kamu menjadi pemeran utamanya.

Atau jangan-jangan kamu sudah merencanakan dengan sungguh-sungguh sejak semula. Suatu waktu ketika saya hanya ingin mengizinkanmu untuk pergi, tetapi kamu yang mengizinkan saya untuk tidak melakukannya. Hingga di akhir cerita, kamu dengan benar-benar memilih pergi, dan saya dengan tak benar-benar punya kesempatan untuk mempersiapkannya kembali.

"Kau Patahkan hatiku berkali-kali
Dan aku tidak tak mengapa
Hatiku bukan ekor cicak" - Bukan hap!
Hanya saja, ini tidak sepertimu sama sekali. Sumpah! Mudah-mudahan asumsi ini sekadar asumsi tak berdasar. Setahu saya, kamu baik.  Setahu saya, kamu tak akan seperti ini.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar