In Slice of Life

Back in Young

Beberapa waktu terakhir, saya mengakrabkan diri dengan banyak adik angkatan. Kebanyakan dari mereka adalah teman yang sekelas untuk mata kuliah yang ketinggalan. Atau teman yang menjadi peserta magang di laboratorium komputer milik jurusan. Kerap kali, beberapa dari mereka berceloteh tentang saya. Satu yang barangkali sudah terlampau sering dikomentari, saya yang tampak seperti anak-anak. Dalam arti harfiah, saya mengiyakan, sebab seharusnya memang saya sebaya menurut kesesuaian antara tahun kelahiran dan tahun angkatan. Namun soal sikap dan tingkah, kekanak-kanakan memang beberapa saat tak sampai bisa sungguh-sungguh luput.

***

Saya punya cerita tentang suatu hari yang sudah nyaris setahun berlalu. Pertemuan dengan sekompi anak-anak kelas VII SMP di hari itu mengingatkan saya, kalau saya pernah benar-benar sangat muda. Maksud saya, benar-benar sangat muda. Dengan ajakan Kak Bullah untuk membantu penyelesaian observasi bahan skripsinya di kelas akselerasi pagi itu, saya kembali memimpikan rasanya menjadi anak berseragam putih biru. Ah, saat ini kak Bullah sudah menyeberang pulau dengan studi magisternya, ia berhasil menyelesaikan skripsinya. Saya belum tahu, mana yang lebih menyenangkan antara kembali ke masa lalu di SMP atau melompat ke masa depan di pascasarjana. Namun sebelum memilih keduanya, pada hakikatnya tidak akan pernah ada pilihan semacam itu. Masa sekarang adalah masa sekarang, meskipun tentu menjadi refleksi dari masa lalu dan pelontar ke masa depan.

“Kak, sudah memang mi minum obat?” salah seorang siswa laki-laki menyambut Kak Bullah, saya, beserta empat teman yang lain dengan kalimat pertama yang aneh.

Iye dek, saya bawa ji,” jawab Kak Bullah setengah bercanda.

Saya tidak memahami tentang obat apa yang mereka sedang perbincangkan. Sampai suatu ketika tanpa perlu komando, satu persatu dari mereka bergantian bercerita tentang apapun yang membuat siapapun sedang berada di tempat yang sama menatap: “PLEASE-SHUT-YOUR-F*CKING-MOUTH-UP”.

Ada yang berkesah karena mengaku kecapaian tanpa musabab jelas. Ada yang sudah tidak sabar ingin segera keluar kelas, seakan-akan di luar ia akan menemukan kebahagiaanan paripurna. Ada yang menolak menerima kedatangan kami melalui lebih konsentrasi menonton film dari komputer jinjing miliknya. Ada yang bertengkar tentang siapa lebih cantik di antaranya. Ada yang berteriak mengaku paling pintar di seluruh kelas. Ada yang merajuk setelah diejek sebagai yang paling tidak tahu apa-apa. Ada yang cengengesan, ada ketawa-ketiwi enjel. Pun, ada yang lebih sibuk dengan ponsel pintar atau blackberry-nya. Untuk beberapa detik, saya sepenuhnya sadar perihal obat yang tak boleh dilewatkan dalam momen-momen semacam ini sembari tercekat: mereka benar-benar anak SMP?

Saya iri dengan mereka, saya mengaku.

Dengan tanpa beban, mereka bisa bebas melakukan apa saja. Tanpa perlu dikekang, tidak harus mematuhi aturan Orang Besar. Tidak tahu menahu tentang apa itu cinta, atau rindu, atau patah hati sekalipun. Mereka hanya sangat tahu betul, bagaimana membuat orang di sekitarnya ikut bahagia, tersenyum, meskipun tersenyum sinis sekalipun. I appreciate them. Every their single jokes, i appreciate them.

Sumber
Terlepas dari benar atau tidak, saya mau kembali ke masa itu. I do miss the moment when i’m not weary due to too many unexplainable complicated problems.

Sekitar delapan tahun yang lalu, saya juga memakai seragam yang sama dengan mereka. Di sebelah bangku saya adalah William, teman yang (dulu) sangat gemuk. Juga cukup dekat dengan Abdi, teman yang ternyata ibunya adalah guru IPA di SMP dan beberapa saat setelahnya diberi tahu kalau ia adalah teman sebangku ibu saya di SMEA. Kerap kali, saya jadi penyampai salam kangen di antara teman lama ini. Lalu Engki, teman yang rumahnya adalah teman pertama yang saya kunjungi rumahnyadengan penuh perjuangan, sebab harus menaiki gunung dan menuruni lembah. 

Sekarang, apa kabar kalian semua? William, bagaimana kuliahmu di Depok? Kalau nanti kita berjumpa, ceritakan kepada saya tips untuk berinvestasi dengan aman. Abdi, kita kuliah di kampus yang sama, bukan? Nanti buat saya jadi lebih suka untuk berolahraga supaya bisa lebih bugar. Engki, kau juga sudah terbiasa kuliah di rantau? Kalau saya mau membangun rumah, bantu saya merancang blueprint-nya ya!

***

Kemarin, saya kembali menapak tilas rasanya membaur dengan murid SMP. Tugas salah satu mata kuliah mewajibkan untuk melakukan pengamatan. Saya memilih salah satu sekolah negeri di daerah Hartaco. Dibandingkan dengan teman-teman kelas lain, boleh dibilang saya yang paling di belakang. Saya baru dua pertemuan melakukan observasi, sementara teman yang lain sudah mempresentasikan hasilnya. Kesibukan sebelumnya membawa saya ke posisi yang tidak mampu mengelola waktu dengan baik. Meskipun tak dapat terelakkan, saya memang gemar menunda-nunda waktu.

Sebelum masuk ke kelas yang hendak dituju, saya melewati lapangan sekolah. Di lapangan itu, murid dari kelas tersebut yang langsung mengenali saya. Sapaan “Kak, kak” menyebar serupa suara gema ke masing-masing murid. Saya memutuskan untuk duduk-duduk sebentar menjumpai mereka. Sekalian pula, beberapa siswa menjadi narasumber untuk tugas sekaligus mengobrol lepas dengan mereka. Kebahagiaan dan kelapangan yang terpancar dari mereka sama seperti yang saya temui sebelumnya.

Di dalam kelas, saya justru hampir lebih banyak berfokus dengan murid daripada penugasan yang seharusnya lebih banyak mengamati pedagogik pendidiknya. Guru laki-laki yang saya taksir setidaknya berusia 40 tahun, dengan perut tambunnya cukup menguasai kelas. Saya lebih tertarik dengan tingkah murid-murid yang bebas mengekspresikan perasaannya dengan tindakan yang mengindikasikan ke”anak-anak”annya. Berakhir pembelajaran pun, mereka tak kehabisan semangat. Hampir semua murid langsung menyodorkan tangan kanan, meminta tangan kanan yang lain untuk dibawa ke kening. 

Sebelum pulang, murid dari kelas lain yang di antara kami tak pernah benar-benar berkenalan tak segan-segan memanggil-manggil. Kak, kak… dengan senyuman yang sarat makna tulus dari jiwa yang lebih muda. Seperti Cinta, Senyum Harus Dibalas Tuntas.

Saya kembali iri dengan mereka. Anak-anak justru lebih peduli dengan dunia sekitarnya, sementara Orang Besar hampir selalu lupa. Sepanjang pengamatan saya, seiring dengan kedewasaan, orang-orang mulai menanamkan keindividuannya sampai tak lagi sungguh memperhatikan keberadaan orang lain di sekitarnya. 
 

 
***

Nyaris lupa, adik laki-laki saya juga sudah di SMP sekarang. Saya juga tidak begitu ingat, kelas VIII atau kelas IX SMP. Ia sering mengirimi pesan lewat nomor ponsel ibu. “Kak, belikan kado ulang tahun ku nah.” Saya bahkan lupa, ulang tahunnya tanggal 23 atau 24. Pada satu pesan dia meminta dibelikan kaset DVD Naruto dan superhero. Di sms lain, dia ingin komik Naruto dan Doraemon. Sms lain lagi, dia berharap bola sepak.
 
Ya, tunggu nah. Belum sempat ka pergi beli,” Setiap sms konfirmasi yang dikirimkan, saya membalasnya dengan berbagai variasi redaksi kata seperti tadi dengan makna yang sebenarnya sama.

Tunggu. Do you mind if i ask you to just wait? Hanya menunggu. Ia harus tahu rasanya lalu membiasakan diri, sebab di hari nanti ia juga akan banyak-banyak menunggu.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar