In Slice of Life

Berbahagialah, dik!

Saat kecil dulu, saya kerap kali mengejek hari kelahiranmu. Bukan tanpa alasan, sebab kita sama-sama tahu bahwa hari itu adalah peringatan hari AIDS internasional. Kalau sudah seperti itu, biasanya kau akan merajuk dan merengek pertanda tak suka. Melihatmu berekspresi lucu demikian justru membikin saya semakin tak ingin berhenti. Betapa dulu kita bertingkah kekanakan, tetapi tak mengapa sebab nyatanya memang saat itu kita masih anak-anak. 

Beberapa hari yang lalu, kau kembali mengulang hari kelahiranmu. Maaf untuk  mengucapkannya tak tepat waktu. Namun sepekan sebelum tepat hari kelahiranmu, kau menjadi orang pertama dari tiga teman di facebook yang saya kirimi video ucapan terima kasih―yang sempat ramai di linimasa kali itu―sekaligus juga untuk mengucapkan ulang tahunmu lebih cepat. Dua orang lain adalah teman kuliah dan teman sekolah dulu. Saya memang sengaja tak mengirimkan ke banyak orang, saya pikir kalian sudah cukup merepresentasikan ratusan teman facebook, jadi begitu saja. Perihal saling berbalas ucapan selamat ulang tahun, di keluarga kita memang tak pernah sekalipun canggung itu hilang.

Kamu tahu, sebenarnya saya agak cemburu denganmu. Saat kau lahir, semua orang sungguh penuh dalam suka cita. Penciptaan namamu saja mesti mengarungi ribuan mil laut sampai bisa merangkak ke atas rumah panggung nenek, tempat kelahiranmu. Barangkali kau sudah tahu bahwa namamu diminta dari saran keluarga paman yang tahun itu bermukim di Jawa. Karenanya, kau tak perlu banyak-banyak berkecil hati telah menjadi manusia. Perempuan pula. Dan menjadi manusia berlabel perempuan sungguh keistimewaan yang harus kau jaga baik-baik sampai ujung usiamu.

What would men be without women? Scarce, sir...mighty scarce.” ― Mark Twain 

Pegang erat tuntunan agama. Kau bisa memulai dari yang paling tampak. Ah, mulai di sweet seventeen ini kau harus terbiasa bepergian dengan tak melepas hijab. Setelah itu bisa mengikutlah ibadah-ibadah lainnya. Meskipun saya beritahu, sebenarnya akhir-akhir ini saya lebih cenderung menyukai perempuan yang tak berhijab. Kau tak usah melapor ke bapak atau ibu di rumah, sekali lagi tak perlu. Bila tiba saatnya, biar saya sendiri yang membawanya kemudian memperkenalkan pada kalian seisi rumah. Bukan sekarang waktu yang tepat pokoknya. Kembali, kau tak patut memperlihatkan aurat dengan orang lain, selain kau justru kebalikan dengan perempuan yang saya maksud tadi. Kau tak lebih cantik bila melepas hijabmu, saya serius. 

Mulai pikir hari esok, lusa, dan seterusnya. Ahad kemarin, bapak meminta saya untuk menemaninya ke salah satu gerai Gramedia di Makassar. Katanya, kau minta dibelikan buku persiapan soal UN SMA.  Anggap saja itu pula sebagai hadiah ulang tahunmu dari bapak. Ia memang selalu concern dengan pendidikan anak-anaknya, kita harus menyepakati itu dahulu. Makanya tak etis bila kau sia-siakan semua fasilitas yang bapak sudah berikan, manfaatkan sesuai kebutuhanmu. Kau juga tak usah terlalu membiarkan waktumu tersita dengan menyelesaikan soal-soal pilihan ganda itu. Perhatikan dirimu sendiri, otak juga perlu energi untuk bekerja. Asupan makan dan jam istirahat tak boleh sampai kau abaikan. Lebih dari itu, pertanyaan: setelah SMA, mau apa? Pun harus kau temui jawabnya. Tak baik selalu menetapkan keputusan di garismati, biasanya tak berlaku baik bagi si pengambil keputusan. Follow your heart saja, saya tak ingin terlalu banyak mencampuri urusan itu. 

Jadi perempuan independen. Maksud saya, saya tahu bagaimana dirimu. Kalau kau masih belum berubah, kau tipikal gadis yang tak tahu “pekerjaan gadis” seusiamu. Di rumah, ibu seharusnya lebih banyak rehat sebab telah bekerja nyaris seharian di luar rumah. Pekerjaan-pekerjaan rumah ibu itu hendaknya kau bisa gantikan. Kau bisa membiasakan diri dari sekarang. Sebelum kau ikut merantau, kau harus merantau setelah tahu cara mengurus diri. Jangan sering ngulet dan bermalas-malas manja. Saya mengguruimu seperti ini, sebab memang saya lebih tahu, saya merasakannya.  

***

Cukup itu saja dulu barangkali. Terserah darimu kalau ingin menuruti senarai nasihat yang saya berikan. Melakukannya dengan cara begini, saya hanya bermaksud ingin melihatmu lebih baik. Kalau perlu lebih unggul dari saya, saya tak sehebat yang kau duga. Namun itu pun kalau kau mau menerima nasihat-nasihat tadi. Boleh saja kau dapati ketaksetujuan, terserah darimu. Sekarang kau bebas memilih, dik, kau berumur tujuh belas tahun. Selamat ya! 

Sumber

Jangan pernah lupa untuk bahagia.

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar