In Slice of Life

Memilih Pulang

Terus berputar-putar dalam keadaan mengungkung dengan masa lalumu yang tak terlalu baik memang menyiksa. Apalagi bila kamu benar-benar belum bisa berdamai dengannya. Seperti ketika kamu pernah menyukai seseorang, dan perasaan itu tetap ada meski tak sebanyak sebelumnya. Tentang perasaan yang sebenarnya sudah pernah kamu enyahkan, tetapi selalu setia menemui jalan pulangnya, tahu persis di mana letak rumah pemiliknya. Sebenarnya perasaan itu terlalu menyiksamu, sementara tak ada hal yang sebenarnya bisa kamu lakukan lagi. Selain hanya menerima, diam-diam merawatnya, dalam sendirimu.

***

Akhir pekan kemarin, saya juga pulang ke rumah. Dalam arti harfiah, rumah sebenar-benarnya. Tempat saya menghabiskan paling banyak usia selama berbelas-belas tahun. Tempat bapak, ibu, dan adik-adik berkumpul di balik terik siang maupun pekat langit malam. Tidak sering saya mendapatkan kesempatan untuk bisa kembali ke rumah. Kemarin ada alasan (yang sedikit dibuat-buat) agar bisa pulang. Saya sudah lama memang memendam untuk pulang. Saya sudah terlalu dendam untuk terus berputar-putar pada tempat itu-itu saja beberapa bulan belakangan. “Tempat itu-itu saja” seharusnya diberikan penekanan. Tempat yang sering mengingatkan dengan keadaan buruk, tentang kenangan yang ingin dilepaskan. Direlakan, bukan dilupakan. Sedapat mungkin saya ingin menghindar dahulu. Menghindar dahulu, bukan melarikan diri. 

Jadi saya berpikir: menemukan tempat-tempat baru yang saya tidak punya kenangan tentangnya, atau mengunjungi tempat-tempat lama yang tak berhubungan dengannya. Saya mantap memilih pulang. Alasan saya pulang yang sebagian orang sebenarnya tahu adalah saya hendak mengantarkan surat kegiatan diklat yang akan digelar lembaga kuli tinta tempat saya bergabung di dalamnya ke beberapa SMA di kabupaten. Termasuk SMA saya sendiri. 

Perjalanan dimulai pada Sabtu subuh, bersama dengan seorang kawan. Keistimewaan berangkat di waktu subuh pada musim hujan adalah udara masih sejuk-sejuknya. Saya juga kembali mempelajari konstelasi. Meskipun sampai sekarang, satu-satunya rasi bintang yang saya kenali adalah rasi Orion. Pelan-pelan juga matahari mengubah sawah di sepanjang jalan yang awalnya tampak hitam gelap menjadi berwarna segar. Sampai di daerah pesisir pun, pantai menggulung ombaknya seakan merayu minta dijamah. Maaf, tetapi berbasah-basahan dengannya bukan menjadi tujuan utama. Saya ingin segera pulang.

Sesampai di SMA –sekolah kawan saya– yang menjadi tempat pertama disinggahi, rasanya seperti merasa lebih muda. Seperti apa ingatanmu tentang hari-hari putih abu-abumu? Sebagian besar darimu barangkali akan beranggapan sama seperti saya, indah sekali. Kawan saya bahkan sampai sibuk merutuki diri sendiri karena merasa terlalu angkuh. Ia sedikit pun tak menyapa guru-gurunya, sampai namanya pun ia sudah lupa semua. Ckckck... bukan contoh murid yang baik.

Saya mengaku, pun tidak pernah lagi mengunjungi SMA saya. Terakhir kali adalah saat Ramadhan di tahun yang sama dengan tahun kelulusan. Beberapa bulan setelah seremoni corat-coret baju yang tidak tuntas karena bapak tiba-tiba muncul dari gerbang sekolah memerintahkan untuk segera pulang. Saya sungguh-sungguh kangen dengan sekolah itu, dan seluruh isinya. Bertahun-tahun saya tidak lagi sempat berkunjung dengan alasan yang kurang masuk akal. 

Barangkali satu-satunya yang tidak berubah adalah beberapa guru yang masih tetap mengajar di tempat yang sama. Tidak semua guru hadir di hari itu, ada Porseni dan mereka sepertinya sudah dibebastugaskan untuk sementara. Beberapa yang saya temui hanya guru Geografi, Biologi, PKn, dan Bahasa Jerman. 

Banyak yang kurang dari kunjungan hari itu, saya merasa tidak senyaman dulu. Barangkali karena perubahan-perubahan yang ada. Saya hanya mengenal kurang dari sepuluh persen orang di sekolah hari itu. Selain guru, ada beberapa kakak kelas yang memang sering datang ke sekolah, dan adik-adik kelas yang memang sebelumnya saya kenal lewat beberapa kali pertemuan. Tidak ada teman sekelas seperti biasa. Kalian semua sibuk berpencar dengan persiapan masa depan masing-masing. Beberapa dari mereka melanjutkan kuliah, ada juga yang mulai merintis bekerja. Pernah ada undangan resepsi pernikahan juga dari teman sekelas, saya tidak tahu kalau ada di antara yang hadir. Apapun itu, saya berharap semua di antara kami sama-sama berbahagia dengan jalan yang telah dipilih.

Tentu saya tidak akan melewatkan mencari jejak saya di sekolah. Masjid dulunya menjadi tempat paling akrab dikunjungi setelah ruang kelas. Sebenarnya tidak karena melaksanakan shalat dhuhur, dhuha, ataupun ritus religius lain. Saya lebih sering datang berkunjung untuk menyepi. Teman-teman yang lewat akan melihat saya bermonolog, tanpa tahu saya sedang melakukan percakapan imajiner dengan Tuhan. Ah, mesjid sekolah sekarang sudah jauh lebih elok dengan baluran cat hijau.

Sehari semalaman di rumah menyukseskan pula saya lupa sejenak dengan pikiran-pikiran buruk. Saya hanya menikmati detik, menit, dan jam yang sedang dilewati. Seolah-olah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya di dimensi waktu dan ruang yang berbeda. Seperti nenek di kampung halaman yang seperti mengalami demensia—kehilangan ingatan, saya pun sedang tak ingin peduli dengan dunia sekitar, tentu selain rumah. Sebelum pada akhirnya kembali sadar, ada hari lebih indah yang perlu dijemput.

***

Namun belenggu perasaan itu sebenarnya kekuatan yang tak sekalipun ingin melemahkanmu. Ia hanya ingin mengujimu, dan tak ingin menyaksikan kamu menyerah terlalu cepat dalam keterpurukan yang sebenarnya kau buat-buat. Berbaik sangka seperti itu bisa menjadikanmu merasa lebih baik. Jika perasaanmu memang benar, maka terimalah. Ia pulang, untuk mengingatkanmu tak pantas untuk sendiri.

Biarkan perasaan menuntunmu kembali, ia tak akan membiarkanmu sendiri. 

P.s: Seperti pulang ke rumah ini, saya terkadang lupa. Bodoh sekali, melupakan dan menghilangkan kunci rumah sendiri, adalah kesalahan yang kasihan. 

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar