In Slice of Life

Mau Jadi Apa?


Hendak menemui teman lama di kampusnya. Saya sedang berada di area Fakultas Kedokteran Unhas. Seperti Hukum Newton III, besar gaya aksi akan selalu sama dengan besar reaksi. Sebab saya sudah lama tak bersitatap dengan teman lama, maka harus lama pula saya bertatapan dengannya.

Sebelumnya, baru saja menyelesaikan tugas distribusi tabloid mahasiswa di sekitaran daerah ini. Terhitung enam bulan sejak deklarasi kerja pokok dalam lembaga. Sejauh ini saya mengaku tak lebih baik dari sebelumnya. Berulang kali pula saya mengamini, banyak hal sebelumnya yang ingin diulangi jika masih bisa. Semua berjalan lebih bahagia sebelumnya.

Kembali fokus ke dimensi spasi dan waktu saat ini, saya perlu pula mengaku tentang impian masa kecil. Bukan saat terlalu kecil, ketika pernah bermimpi menjadi seorang astronot, astronom, atau pilot, setidaknya. Melainkan kala pikiran berkembang mulai lebih logis dan rasional, saya mengakui pernah mencita-citakan diri sebagai seorang dokter. Mungkin dokter pediatri, atau bedah kardiovaskular.

Sampai saat ini pun, saya sebenarnya masih berandai-andai menjadi mahasiswa berjas putih di sepanjang koridor kampus. Atau, seperti teman perempuan yang ada di hadapan, nampaknya sedang konsultasi laporan praktikum dengan asistennya yang lebih senior. Meskipun tidak semenggebu-gebu dulu, mimpi itu sesungguhnya tetap ada, tak hilang sedikit pun. Apa yang salah dari bermimpi, dan tetap berusaha?

Baiklah, mungkin sebagian darimu beranggapan hanya buang-buang waktu saja. Sebab sudah barang tentu, hal demikian tak akan pernah menjadi realita. Bukan begitu? Ah, memang bukan begitu intinya, tidak seperti itu masalahnya. Saya hanya berusaha bertahan dengan mimpi, sekalipun mimpi itu hampir nol peluangnya. Sambil berharap-harap, akan selalu ada jalan lain yang tentu lebih baik dan membaikkan. Berharap pun tak salah, kan?

(flashback – last night)

Saya tak pernah benar-benar mampu menuntaskan untuk memahami sesuatu. Termasuk memahami bintang-bintang, astronomi. Saya masih hanya mampu mengenal rasi orion. Dan sekadar menghapal nama rasi lainnya. Seperti malam ini, saya hanya kembali mengenali tiga bintang rasi orion membentuk garis sejajar. Pelajaran dasar untuk berkenalan dengan orion,

Saya ingin menjadi bintang, kalau diminta memilih salah satu benda langit. Bukan saya tidak suka dengan yang lain. Saya senang dengan bulan, tidak peduli bulan sabit, separuh, atau purnama. Saya menikmati pelangi, hujan turun, dan komet – meskipun untuk yang terakhir, sekalipun belum pernah melihat langsung. Dan apabila dipikir-pikir, lebih menyenangkan menjadi salah satu dari tiga bintang itu ketimbang menjadi bintang paling terang di jagad malam raya. Selalu, bintang paling terang nampak terbuang dari kawanan, berteman dengan sepi, sendirian. Bila tiba saatnya, ia akan mengalami supernova, barangkali tanpa ada yang mengacuhkan. Berbeda dengan tiga bintang sejajar di gugus orion, dikelilingi bintang-bintang lain, bersatu membagikan terangnya, hampir-hampir tidak pernah sendirian. Lebih dari itu, saya ingin lebih mudah dipahami oleh orang sekitar. Tanpa perlu dihubung-hubungkan untuk membentuk ruas-ruas garis imajiner yang rumit.

Tadi malam dalam sebuah perjalanan, saya bersama dengan seorang teman. Tiba di suatu percakapan, teman tersebut mempertanyakan, saya mahasiswa kependidikan. Ia kemudian bertanya, atau barangkali sekadar mengetes. Jadi mauko jadi guru?

Sampai saat ini pun, sebenarnya saya masih sangat sangsi apabila dihadapkan dengan pilihan “mau-jadi-apa”. Saya menjawab, tidak tahu, tetapi mungkin tidak, saya ragu bisa menjadi guru. Ia pun menawarkan suatu profesi, yang ia tawarkan cukup realistis dengan passion saya saat ini. Saya sebenarnya ingin-ingin saja. Namun di lain sisi, profesi yang ia maksud tergolong freelance, dan pemikiran saya bahwa sesuatu semacam itu belum tentu menjamin hidup saya. Anggap saja, saya berbicara dalam ranah ekonomi dan keuangan tentunya. Tawaran selanjutnya, kalau begitu jadi PNS saja. Ah, lagi-lagi, itu hampir tak berbeda dengan menjadi guru, kawan!

(flashback off)

Seiring lewat dering telepon teman yang lain, lamunan saya membuyar. Katanya, ia sudah ada di depan area fakultas. Waktu saya telah habis. Ada pekerjaan lain yang sedang menanti. Menyenangkan, sebab selanjutnya saya akan berpindah posisi ke luar Makassar, meskipun hanya sekadar beberapa jam, membawa usulan proposal kegiatan. Tetap semangat, kebaikan semoga selalu berbuah hasil yang sama, kebaikan.

***

Saya tak pernah benar-benar mampu menuntaskan untuk memahami sesuatu. Termasuk memahami perasaanmu, memahamimu.


Related Articles

7 komentar:

  1. Kalau kau sekarang Tanya mau jadi apa, saya pun bingung. Tidak bisa meneriakkan profesi yang diinginkan sekeras saat masih kecil.

    Seiring bertambahnya umur, sampai setelah melihat semua realita, kebingungan juga terus bertambah.

    Kau juga salah satu orang dari kategori ini, ya? 'Mengeluhkan lelah dengan semua yang terjadi, tapi (hal yang saya tidak mengerti adalah) tetap punya semangat untuk menjalani.'

    "Pada akhirnya kita tahu, kok. Mana yang diri kita, dan mana yang bukan diri kita. Kita juga tahu mana yang kita pengen jalanin."

    ((Kah? Kalimat terakhirnyaaaarrkkhh.. Hoahhhahaahah))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak benar-benar masuk dalam kategori itu sih, sebenarnya. Saya tidak terbiasa mengeluhkan lelah dengan semua yang terjadi. :)

      #keepcalm

      Hapus
    2. Lucu, saya bercita-cita jadi guru dan selalu iri sama mahasiswa ilmu kependidikan...

      Hapus
    3. Hahaha aneh ya, saya justru penasaran juga bagaimana rasanya jadi anak komunikasi. Manusia memang selalu mau mencoba banyak hal, atau manusia memang tidak pernah puas? :D

      Hapus
  2. Nabilang Mbak Dee, kalau ndak salah, adakalanya kita “Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.” :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi demam Perahu Kertas lagi yang dua orang di atas kayaknya :) Ya, dan Keenan sukses dengan dirinya yang sungguh-sungguh dia pada akhirnya.

      Hapus
  3. Ke redaksi mako saja Awal. Na cariko piring kotor. Hahaha

    BalasHapus