In Slice of Life

Me time

Selalu ada mata untuk memandang, selalu ada telinga untuk mendengar, dan selalu ada hati untuk menerima. Sama seperti akan selalu ada masalah dalam hidup. Tak satupun orang yang benar-benar berhasil melepaskan diri dari masalah dalam kehidupannya. Saya pikir, taka da argumentasi yang mampu berperan sebagai pembantahannya. Apabila berbicara tentang akan selalu ada cinta yang berbalas, maka tentu ceritanya menjadi lain lagi. Perihal itu entah mengapa saya yakin kamu mengerti maksudnya dan saya tak perlu banyak berbagi penjelasnya.

Tentang problema yang akan selalu hadir, terlalu sering akhir-akhir ini saya mendapatinya. Ini bukan berarti saya menjadi satu-satunya pendera masalah, apalagi penderma masalah. Seperti pandemi, hal-hal semacam itu mewabah bagi beberapa orang di dunia sekitar. Seperti dengan “rekan-rekan kerja” yang ada di rumah. Ah, melabeli mereka dengan sebutan “rekan kerja” sebenarnya hanya gurauan yang kerap kali berulang. Setidaknya, bagi saya, terlalu picik bila menganggap hubungan yang telah dimulai lewat dari setahun itu hanya sebatas rekanan.

Dan mereka, nyaris semua dari “rekan kerja” sedang dirundung masalah. Ada banyak variasi, saya mendeterminasikannya ke dalam masalah asmara yang berjalan tak baik-baik saja, masalah kesehatan jasmaniah yang payah, pun masalah keruwetan isi kepala yang terdistraksi sebab kerja-kerja yang tak berujung. Memang sebab barangkali sedang mendekati klimaks kegiatan yang hendak kami gelar sisa menghitung hari, dan sama seperti sebelum-sebelumnya, orang-orang bisa menjadi lebih sensitif melampaui harimau india yang dibangunkan paksa dari lelap tidurnya.

Memperhatikan mereka yang hidupnya berjalan tak selalu linier dan di atas awan, memberi kesempatan pada awang-awang bahwa segalanya memerlukan pemecahan. Sedapat mungkin saya selalu ingin memberi bantuan. Sekecil apapun, bahkan dengan sekadar mata untuk memandang atau telinga untuk mendengar bila memang diharapkan.

Namun tak setiap orang ingin berbagi cerita. Beberapa di antara mereka, termasuk saya, lebih sering mencari pelarian dari masalahnya. Bukan seperti itu, bukan lari dari masalah. Hanya untuk beberapa saat tidak ingin terlalu membebani pikiran dengan sesuatu yang tidak disukai. Dan me time seringnya menjadi pelarian paling sempurna.
"When you have me time you can lose yourself in what you are doing and celebrate yourself,"

***

“Matahari menatapku dengan penuh cela dari balik tirai. Aku baru saja siap dengan sumpahserapahku karena merasa terpaksa bangun pagi di hari Minggu. Ini adalah jadwalku untuk bermalas-malas; sebuah jadwal di mana aku bisa melupakan ada kelaparan di dunia, peperangan di Timur Tengah; perampokan, pembantaian, mutilasi, penculikan, dan berbagai variasi kriminalitas di Jakarta. Hari Minggu adalah hari untuk menjauhkan diri dari realita dan bersembunyi di balik selimutku yang nyaman…” – Leila S. Chudori, Sepasang Mata Menatap Rain.

Cerita “Sepasang Mata Menatap Rain” adalah cerita kedelapan dari sembilan buah di buku kumpulan cerpen berjudul “Malam Terakhir”. Kalau tidak salah ingat, saya mulai membaca buku ini sejak dua pekan yang lalu. Bayangkan betapa payahnya saya sekarang untuk menghabiskan buku setipis 117 halaman ini. Sudah dua pekan sejak saya memulai, dan masih belum selesai hingga saat ini. Bahkan di waktu dua tahun lalu, untuk buku “Perahu Kertas” karangan Dee setebal 444 halaman hanya memerlukan waktu tidak lewat dari semalaman. Ini baru satu di antara banyak mengapa-mengapa saya tidak lagi punya banyak me time.

Belum termasuk pula, saya yang hanya sesekali mengunjungi rumah “Tempat Pulang” ini. Sudah sangat bersyukur bila saya menyempatkan untuk mengisi barang satu atau dua kali tiap bulannya. Mengakali dengan mengguratkan huruf-huruf setengah bermakna di jurnal yang tak tentu. Terkadang buku kuliah harus bercampur-campur sehingga menjadi sasaran untuk katarsisan lewat tulisan. Beberapa kesibukan lain diperparah dengan ketidakmampuan saya memanajeri waktu dengan baik menjadi alasan. Meskipun sadar atau tidak, alasan seperti ini bukan pembenaran yang baik untuk tidak pulang. Toh, rumah memang adalah sebenar-benarnya tempat kita pulang setelah melakukan aktivitas apapun di luar, kan?

Sebab terkadang hidup menjadi lingkaran setan dengan serangkaian list-to-do. Akan selalu ada hal-hal yang membuat untuk tidak berhenti di satu tempat, meyakinkanmu dengan beribu cara tentang terus bergerak. Selalu ada tugas pertama, kedua, ketiga, ke-100, ke-2015, ke-n, dan ke-infinit
. Di titik tertentu mungkin kamu lelah. Setiap orang akan menemui titik jenuhnya, dan merasa perlu rehat sejenak dari segala rutinitas. 

Itulah mengapa sejak berhari-hari kemarin saya membutuhkan a whole long day untuk menyukseskan me time. Selalu saja gagal ketika mulai merencanakan, dan saya hanya berharap akan ada hal-hal insidentil secara dadakan. Setiap selalu memulai untuk melakukan, semesta selalu bekerja sama untuk membiarkan saya berjumpa dengan orang-orang. Selalu saja saya kembali menemukan banyak teman atau sebatas kenalan di tiap-tiap tempat. Ah, saya bukannya sebegitu antisosial untuk tidak ingin bergaul. Hanya saja benar-benar ingin sendiri dulu, secara kiasan, tak ada yang mengganggu aktivitas.

Sudah terlalu lama tidak melakukan, dan si perindu sudah amat lama merindukan. Selain karena letih dengan beberapa kewajiban yang sedang dijalankan, ini bukan berarti saya tidak lagi ingin melanjutkan, saya benar-benar perlu kembali larut dalam kesendirian. Kalau sudah begitu, banyak “agenda menyepi” yang akan dituntaskan. Seperti diri yang hendak “dimanjakan”.

Mengunjungi bioskop dengan datang tanpa kawan-kawan terakhir kali di akhir tahun lalu untuk film adaptasi novel Supernova. Menonton film sendirian, dengan segelas softdrink dan popcorn karamel. Ya, meskipun ketika ingin masuk studio tiba-tiba sepupu menghampiri saat berpapasan saat ia baru saja menyelesaikan filmnya. Atau menghabiskan segelas espresso, cappucino, atau green tea di kafe sesuka hati. Atau melumat isi buku langsung habis dalam sekali baca. Atau mendatangi ruang terbuka hijau dengan hirupan napas yang panjang. Atau melawat ke pantai lalu menjemuri diri berpayung terik matahari. Atau memandang langit lama-lama, saat hujan, saat matahari terbenam, pun saat penuh gemintang malam. Atau seperti sekarang, di tempat makan junk food sambil memanfaatkan hotspot gratis dan berkatarsis. Sebentar lagi pun, saya akan kembali ke rumah dan orang-orang rumah tidak ada. Me time-me time yang seperti itu, supaya memberikan penyegaran untuk di kemudian waktu bisa merasa lebih siap menantang masalah, mempertanggungjawabkan kerja-kerja lain.

"Me time to me is doing exactly what I want on my own. The main benefit of me time in my opinion is that it's a reward, and saying 'I'm a good person and I'm worth taking care of'. In other words it's taking time out to boost my mental well being and self esteem."

Related Articles

2 komentar:

  1. Larut dalam kesendirian di. Nanti kalau naik motor sendiri juga? Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada yang bilang, "bersama tidak harus sama-sama". Sama seperti, "sendirian tidak benar-benar sendiri".

      Hapus