In Imaginary Talk Limit Talk

Perih(al) Kasih yang Bersemi di Februari

Saya ini… tidak tahu bagaimana dijelaskannya. Kembali malam ini mengunjungi masa lalu. Wah, seperti saya saja penemu mesin waktu dan paling tahu bagaimana cara mengoperasikannya. Mengunjungi masa lalu, hampir-hampir selalu menjadi kegiatan yang paling menyenangkan untuk dilakukan. Selain mudah, ada banyak kenangan-kenangan yang bisa dinikmati berulang-ulang. Lebih dari segalanya, memutar ulang kenangan, saya juga cukup pandai memilih dan memilah kenangan mana yang hendak dirasakan kembali. Tinggal memesan: kenangan baikkah atau negasinyakah?

Sebenarnya, tidak benar-benar mengulang dengan sama persis. Siapa yang memungkiri apabila tak ada sesuatu di dunia ini yang akan sama persis? Teman saya yang saudara kembar identik pun punya ciri khusus yang mendiferensiasikan keduanya menjadi tak sama. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi adalah, menikmati momen masa lalu dengan mencocok-cocokkan keadaan sambil berpura-pura kembali ke masa lalu.

Dengan cara begini, orang-orang di sekitar mulai banyak melabeli saya sebagai laki-laki yang hidup di masa lalu. Barangkali cara saya seperti ini adalah salah, tapi barangkali pula boleh-boleh saja. Salah, sebab kodratnya kita tak boleh berjalan mundur dan banyak berbalik ke belakang. Boleh saja, sebab hari kemarin memang jadi refleksi untuk hari setelahnya. Saya tetap tak peduli, saya hanya ingin mengulang cerita-cerita dulu.

***

Pertama kali mengenal perempuan bermata sayu itu di tempat sekarang ini, akhir Januari tiga tahun silam. Tempat fast food eat in, di salah satu pusat perbelanjaan di Makassar. Ini sedikit lucu, perempuan itu sudah menjadi adik kelas selama dua tahun, dan kami justru baru berkenalan setelah kurun waktu itu di luar sekolah.

Kami, dan beberapa teman sekolah lain menjadi utusan untuk lomba mata pelajaran eksak. Saya mengikuti lomba cepat tepat. Perempuan itu menjadi peserta lomba mading. Saat tiba di Makassar itulah, saya mengaku baru tahu kalau perempuan itu benar-benar adik kelas saya. Tatapannya yang malu-malu, tutur suaranya yang teduh, tingkahnya yang manis, seperti itu penilaian awal saya tentangnya. Penilaian awal yang tak pernah berubah bahkan hingga sekarang.

Banyak cerita bermunculan di antara kami sejak hari itu. Tentang Februari yang menjadi bulan peretas hubungan kami. Tentang Maret yang menjadi bulan pemanis, pembingkai kenang hubungan kami. Dan tentang April yang menjadi bulan peretak hubungan kami.

Sumber
Kepada perempuan itu, saya ingin menyatakan banyak hal yang belum sempat kami bahasakan.

***

Kepada W, adakah sekali saat dalam harimu pernah terlintas sesal tentang kita? Mungkinkah sesal datang karena kau tak pernah suka perjumpaan pertama yang buruk? Aku belum lupa saat sedikit menarik paksa tangan kananmu dari temanmu. Aku kesal saat itu, ada orang lain yang ingin “merebutmu”. Padahal kita belum pernah resmi bertukar nama kala itu. Namun pada akhirnya yang terjadi hanya ce-cie-an dari teman-teman yang lain. Sejak saat itu,aku merasakan nuansa merah jambu dan kupu-kupu mulai menggelitik batin.

Lalu setelah hari itu, kita mencoba mengakrabkan diri. Walaupun sama-sama tahu, di antara kita tak ada yang mencoba jujur dengan keadaan. Kau mungkin tahu, aku pemalu sejak dulu. Hari-hari dijalin seperti sedia kala, kita tak berusaha melawan takdir. Kita sepakat, biarkan segala berjalan seperti apa adanya, sebelum hari itu.

Kepada W, masih tersimpankah dalam ingatan tentang sore hari sesaat sebelum kelas pelajaran tambahan Bahasa Inggrismu? Ya, hari itu tak pernah terencana dengan sempurna, asal kau tahu. Jadi jangan tertawakan tingkahku yang kikuk di hari itu. Skenario itu disutradari oleh beberapa teman dekat. Bahkan setelah beberapa kali latihan merapal “mantra”, lidahku pun tetap sekelu-kelunya. Seperti bagaimana lagi rahasia hati yang kulafal? Tak usah kutulis ulang, pokoknya aku sungguh-sungguh masih hafal.

Kepada W, membaikkah hari-harimu setelah itu? Sejujurnya, aku merasa lebih baik. Tak ada yang lebih melegakan dari mengungkapkan perasaan kepada orang yang dikasihi. Dan tak ada yang lebih menenangkan dari kasih yang berbalas. Aku baru tersadar, sampai sekarang terlampau egois hingga belum pernah sekalipun menanyakan perasaanmu setelah hari itu. Namun aku bahagia kau tersenyum menerima beberapa hadiah kecilku, termasuk bantuan menyelesaikan tugas Seni Budaya. Aku juga teramat peduli dengan pendapat banyak orang di sekolah –teman seangkatanku, teman seangkatanmu, beberapa guru– tentang kita ialah pasangan yang paling banyak menebar senyum.

Kepada W, sesama perihkah sakit yang kau dera di tiap April berjalan? Hari pertama Ujian Nasional-ku dan sepekan setelah hari perayaan ulang tahunmu. Aku tak pernah lupa, pesan singkat yang sebenarnya enggan kukirimkan di malam itu. Toh, pada akhirnya dengan sisa-sisa ketakutan, kerisauan, dan kegundahan yang kupunya, aku tetap menekan tombol send. Berselang beberapa saat, aku pun menerima balasan darimu. Kurasakan getar yang kuat ikut terhantar dari pesan singkatmu, kau paham maksud pesan yang kukirim sebelumnya. Aku sedikit lega, meski hingga sekarang bila kuingat-ingat, aku selalu tak pernah sebegitu tega.

Kepada W, tentang kisah kita yang sebenarnya tak pernah ada kata “berakhir”, how’s life now

Related Articles

7 komentar:

  1. So sweeeettt!
    Jadi bagusnya ini saya share ke fb dan tag saja orangnya?? :D
    Huahahahaha.... *ketawa penjahat*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha memang tahu siapa yang dimaksud? *amnesia

      Hapus
    2. Tahu lah. lagian saya kan berteman dengan anak Unhas itu... #ehh :P

      Hapus
  2. Balasan
    1. ya, and i know, you're trouble(maker)! -_-"

      Hapus