In Neptune Says Slice of Life

Sekali Waktu, Berhenti Memendam

Pertama, mari kita sepakati bila memendam itu menyakitkan! Tidak masalah, kau mungkin tidak paham mengapa memendam boleh menjadi menyakitkan sebab (berpura-pura) tidak pernah memendam. Namun, kita memang harus sepakat, memendam itu “sakit”. Terlepas dari itu, memang untuk kebanyakan waktu, tersenyum-senyum sendiri dan bahagia yang sekalipun semu belaka adalah pekerjaan yang paling menyita ruang gerak selama itu. Namun setidaknya, satu sisi dari memendam adalah kita mau-tidak-mau mendera sakit, meringis sendirian. Ketika seharusnya kita bisa berbagi, tetapi tidak ada orang lain di sisi. Ketika seharusnya kita tak sendiri, tetapi kita memilih sunyi dan sepi.

Lebih dari segalanya, tahukah apa yang lebih dari sekadar memendam?

Memendam saja itu sudah menyakitkan. Apalagi bila yang dipendam adalah sakit, dalam arti harfiah. Pada akhirnya, yang tersisa adalah sakit berpolinomial, berpangkat banyak.

***

Saya berkenalan pertama kali dengannya lewat media sosial. Kali itu, beberapa waktu sebelum seremoni penerimaan mahasiswa baru. (ini berlebihan) Seperti remaja yang beranjak masa pubertas lainnya, kami sedang berada dalam pergumulan masing-masing yang sama-sama banyak ingin tahu. Termasuk ingin tahu dengan siapa kami akan melewati hari-hari kuliah.

Gayung bersambut. Akun anonim di twitter “MabaUNM_2012” menjadi mak comblang sebagai perantara yang hendak saling mengenal sesamanya. Mention-mention pun saling berbalas. Satu di antara beberapa yang kemudian saya kenal lewat kicauannya adalah perempuan itu.

Perkenalan kami tak terhenti sebatas itu. Bila rasul Muhammad menggelari assabiqunal awwalun bagi orang-orang yang pertama kali memeluk Islam, maka perempuan itu masuk dalam daftar sepuluh-teman-kuliah-yang-pertama-kali-diajak-berbincang-langsung. Singkat waktu, sekarang sudah nyaris tiga tahun sejak perkenalan maya ataupun perbincangan pertama. Banyak hal berubah, (tetapi kenangan masih selalu tidak).

Selama perkenalan kami hingga sekarang, saya belajar banyak darinya. Tentang nasihat-nasihat memerlakukan perempuan dengan baik. Kau tidak boleh asal menegur perempuan, seperti riasan wajahnya yang mencolok. Tentang nasihat-nasihat untuk lebih membangun benteng yang kokoh dalam pertahanan diri. Bertahan di tempat itu, kau bisa berkembang dan belajar banyak hal selama masih di rumah itu. Tentang nasihat-nasihat mendirikan rukun agama. Ayo ke masjid, sudah azan dhuhur. Tentang tetap menjadi periang, ketika masalah sedang memenuhi beban pikiran.

Kalau ada perempuan yang merelakan diri ke rumah untuk sekadar membawakan obat ketika sakit, bahkan saat waktunya sudah pukul sebelas malam, maka perempuan itulah orangnya. Terlalu baik hingga membelikan makan malam sebab tahu tak ada makanan yang tersedia di rumah anak lelaki yang tinggal sendirian. Ia yang selanjutnya menegur hebat ketika tahu saya tidak mengunci pintu rumah saat saya sedang terlelap di lelap malam dengan keringat dingin ketika sedang hangat-hangatnya kondisi tidak aman. Bahkan ia pula yang tak lupa mengetuk pintu di keesokan harinya untuk mengantarkan sarapan nasi kuning, sebab tahu untuk sekadar bergerak memasak mi instan masih belum terlalu ahli dilakukan oleh orang yang baru sembuh dari sakitnya.

Waktu terus berjalan, roda dunia berputar. Ia sedang sakit, dalam arti harfiah. Bukan sakit biasa, sakit yang didiagnosis oleh dokter dengan resep di antaranya tidak boleh banyak tertawa. Bukan seperti sakit di serial kartun sponge bob, bukan pita ketawa yang pecah, bukan seperti itu. Terlalu aneh untuk dipahami memang. Hati dan paru-parunya bekerja sama untuk menahan laju ketawanya. Dan yang paling menyedihkan, ia sekali lagi betah memendam.

Sumber
Sebelum mengetahui dengan sebenarnya, saya pernah membaca sambil lalu sebuah catatan di ponselnya. Pesan yang menyiratkan bahwa ia sedang tidak sehat. Saya pikir, ia hanya sakit biasa. Akhir-akhir ini, ia memang jarang kelihatan di kampus. Beberapa kali saat bertemu, ia juga sering-sering terbatuk.

Pemikiran saya berubah saat maghrib beberapa hari yang lalu. Saya mendapatinya sedang berbaring di pangkuan teman perempuan lain. Tempias dari trauma masa lalu kembali menjelma menjadi monster yang menohok paru-paru. Berselang beberapa waktu, sakitnya pun kambuh.

Yang paling membuat saya benar-benar marah darinya, ialah kebetahannya untuk tetap memendam. Bahkan ketika ia sudah lewat dari setengah jam dengan kondisi yang tak bisa berbuat apa-apa. Orang tuanya pun sama sekali tak diberitahu. Dan teman siapa yang tak tertohok hatinya bila tak tahu keadaan menyedihkan temannya?

Memang apa yang kau cari dari hanya memendam?
Selalu menunggu masa bahwa setelahnya akan baik-baik saja?
Berpikir supaya sikap orang-orang sekitar tik berubah denganmu?

Dalam hal ini, kami punya banyak kesamaan arah. Namun izinkan saya kembali meyakinkan, selama ini kami salah melangkah.

Setahan apa kau punya kekuatan untuk terus memendam?
Sebetah apa kau membuang waktu untuk menunggu api abadi yang tak kunjung padam?
Jawabannya ada padamu sendiri.
Sekali waktu, berhenti memendam. 
Beberapa hal akan lebih baik, (saya buktinya)

Tengok kembali kata hatimu, konon ia tak pernah punya kemampuan membohongi.

Related Articles

2 komentar:

  1. Saya kayaknya mulai menebak2 orang di dalam tulisan ini deh. Saya jadi penasaran tingkat akutt.... 0_0

    BalasHapus